AJI Bersama CFI Bantu Jurnalis Korban Bencana di Pasigala

foto diskusi di AJI Palu terkait nasib jurnalis pasca bencana Pasigala. foto Fauzin Lamboka/deadline-news.com
0

Bang Doel (deadline-news.com)-Palusulteng- Melalui Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu  bekerjasama corporate Finance Institute (CFI) membantu Jurnalis korban bencana gempa bumi, likuifaksi dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala).

Pasalnya 3  bulan lebih pasca bencana gempa bumi, likuifaksi dan tsunami   yang  meluluh lantakkan Pasigala, jurnalis dan keluarganya juga mengalami dampak dari bencana tersebut.

Namun para pewarta tersebut tidak ada yang memikirkan nasib mereka Padahal keluarga mereka juga butuh sentuhan bantuan, baik dalam bentuk sembako, tempat tinggal dan peralatan jurnalistik mereka.

Bahkan kantor tempat mereka bekerja lumpuh dan nyaris kolaps. Terkhusus media cetak di Palu, kurang lebih 1 bulan fakum, akibat kerusakan peralatan kantor mereka.

Sementara jurnalis dituntut untuk selalu memberikan informasi yang akurat, hangat dan terkini terkait kondisi masyarakat terdampak bencana dahsyat itu. Termasuk penanganan yang dilakukan pemerintah baik daerah maupun pusat terhadap masyarakat korban bencana gempa bumi, likuifaksi dan tsunami di Pasigala itu.

Adalah ketua AJI Palu Moh.Iqbal memfasilitasi dan mencari dukungan bantuan untuk para anggotanya, sehingga mendapatkan bantuan dari CFI dalam bentuk dana segar dan peralatan kerja seperti Laptop dan Kamera.

“Nasib kawan-kawan jurnalis juga perlu difikirkan untuk mendapatkan bantuan. Sebab mereka juga terdampak dari gempa bumi, likuifaksi dan tsunami. Dan walaupun mereka juga korban bencana, tapi mereka tetap eksis memberikan informasi seputar bencana Pasigala. Padahal keluarga mereka juga trauma,”kata Iqbal dihadapan para jurnalis dalam diskusi dengan thema Nasib Jurnalis dan Media Sulawesi Tengah Pasca Bencana Gempa, Tsunami dan Likuefaksi  Jum’at (4/1-2019) di Sekretariat AJI Palu jalan Rajawali.

Dr.Aminuddin Kasim, SH, MH salah seorang narasumber dalam diskusi itu, menegaskan dunia ini sepi tanpa wartawan.

“Wartawan itu pahlawan kemanusiaan, tanpa informasi yang disajikan dalam pemberitaan oleh wartawan, maka mungkin bencana gempa bumi, likuifaksi dan tsunami tidak diketahui dunia luar,”ujar dosen fakulitas hukum Untad itu.

Sementara itu Sekretaris AJI Palu, Yardin Hasan menyebutkan bahwa beberapa sektor  mulai dan terus bergerak. Perekonomian meski lambat, namun telah menunjukkan pergerakan, pun dengan sektor lainnya.

Di media, meski tertatih, media – media lokal yang selama ini aktif dan terdampak bencana terus melakukan perbaikan internal sambil melakukan tugasnya sebagai peyampai kabar.

Begitupun dengan para jurnalis. Dalam catatan AJI, meski selamat dari bencana, para jurnalis yang selama ini berdomisili di wilayah bencana juga menjadi korban, korban materil seperti kehilangan rumah, peralatan kerja, hingga kehilangan potensi pendapatan pasca bencana dialami oleh seluruh jurnalis dari berbagai media di Palu.

Hingga saat ini Media dan jurnalis masih bekerja apa adanya, alat kerja seadanya dan kondisi ekonomi yang masih apa adanya. Dalam kondisi yang sesulit itu para jurnalis masih disesaki dengan setumpuk tugas liputan dan penugasan yang sesekali bahkan sudah tidak manusiawi.

Bencana itu menjadi pelajaran yang sangat berarti, ini juga menjadi catatan hidup yang penting, ketika bagaimana para jurnalis harus terus bekerja dengan penuh waktu.

Bantuan dari berbagai pihak untuk jurnalis berdatangan, namun ternyata harus lebih itu, para jurnalis butuh perbaikan ekonomi secara total untuk memulai hidup baru mereka.

Melihat kondisi itu Aliansi Jurnalis Independen Kota Palu menilai bahwa supporting untuk media dan jurnalis harusnya belum berakhir, masih banyak hal yang harus mereka benahi di kehidupan pribadi dan keluarga mereka.

Kepala Perwakilan LKBN Antara Palu Rolex Mahala, SE menegaskan sebenarnya Jurnalis tidaklah haram meminta bantuan dari   pihak manapun, terkhusus bagi jurnalis yang terdampak bencana.

Tapi memang kode etik wartawan mengatur dan melarang menerima sesuatu dari manapun yang dapat mempengaruhi pribadi dan pemberitaan wartawan. Namun dapat dikecualikan bagi wartawan korban bencana seperti di Palu.

“Saya dukung langkah-langkah cerdas yang dilakukan kawan-kawan AJI Palu yang mencari dukungan bantuan bagi jurnalis dengan bekerjasama berbagai pihak dan diolah dalam bentuk kerjasama kegiatan,”puji wartawan senior yang bernaung dibawa PWI itu.

Hal senada juga ditegaskan Pemimpin Redaksi harian Mencusuar Tasman Banto. ***

 

 

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: