SEKTOR KEMARITIMAN NASIONAL, BISA HASILKAN 20 RIBU TRILIUN RUPIAH

foto Kadis KP Sulteng Dr.H.Hasanuddin Atjo, MP. foto dok deadline-news.com
0

“Sulteng dapat Integrasikan Pariwisata dan Perikanan”

Oleh Hasanuddin Atjo

SEKTOR Kemaritiman Nasional terdiri (subsektor Perikanan, Pariwisata Bahari, Energi Sumberdaya Mineral, Transportasi Laut, serta Kekayaan Sumberdaya Hayati) diperkirakan bisa menghasilkan 20 ribu triliun rupiah per tahun, jika dapat dikelola dengan baik (Joko Widodo, dalam Rakor Kemenkomar 2017 di Jakarta).

Selanjutnya Anggaran Pendapatan Belanja Negara, APBN kita di tahun 2018 hanya sebesar 2.221 triliun rupiah; dan total Pendapatan Negara atau Produk Domestik Bruto, PDB juga masih rendah yaitu sebesar 14.837,4 triliun rupiah dengan PDB per kapita sebesar 56 juta rupiah atau setara 3.927 US dollar, dibawah beberapa negara ASEAN lainnya. Idealnya PDB per kapita negara kita mencapai angka 6.000 US dollar.

Karena itu diperlukan skenario bagaimana memanfaatkan potensi Kemaritiman itu agar dapat meningkatkan pendapatan Negara dan Kesejahteraan Masyarakat. Pendekatan Industrialisasi Daya saing di era digitalisasi saat ini dapat terbangun bila di rancang dan diimplementasikan dengan pendekatan industrialisasi.

Ada lima tahapan yang harus dilalui untuk menjadi Negara yang industrinya mandiri dan berdaya saing yaitu: (1) menyusun roadmap pengembangan; (2) menyiapkan sumberdaya manusia, (3) mempersiapkan inovasi-teknologi, (4) mendorong menjadi industri pra komersial dan (5) menjadi industri komersial berkelanjutan.

Roadmap, penyiapan SDM dan Inovasi-Teknologi merupakan problem utama kita dalam membangun daya saing industri. Ada roadmap, namun masih parsial, umum dan belum detail. Pendidikan vokasi untuk SMK dan Diploma telah dibangun di mana-mana, lagilagi luarannya belum bisa memenuhi tuntutan pasar. Demikian pula dalam bidang pengembangan Iovasi-Teknologi masih berjalan sendiri-sendiri.

Dana riset kita sekitar 24 triliun rupiah atau kurang lebih 1 persen dari APBN. Missing link atau gap antara dunia riset (Perguruan Tinggi dan Litbang) dengan dunia industri masih lebar. Karenanya tiga faktor yang masih menjadi soal tadi harus menjadi perhatian dan pekerjaan rumah bagi pemerintah yang baru nanti.

Dibutuhkan regulasi yang memberikan insentif dan kemudahan, seperti dibebaskan dari pajak, bunga murah bahkan nol persen terhadap riset-riset yang dilakukan dunia industri, sehingga memperbesar jumlah penemuan. Selanjutnya missing link antara industri dan dunia riset dapat diperkecil dengan harapan terbangunnya sinergitas triple helix antara Academic, Bussines and Govermant yang biasa disingkat ABG.

Apalagi saat ini sejumlah negara di dunia terus mendalami dan mengintegrasikan pengembangan industrinya dengan tuntutan era digitalisasi, industri 4.0.

Inovasi-Teknologi

Daya saing sebuah industri komoditas akan ditentukan oleh 3 faktor yang biasa disebut 3 K yaitu: Kuantiti, Kualiti dan Kontinyuiti. Penguasaan Inovasi-Teknologi akan menjadi faktor kunci dan penentu untuk mewujudkan 3 K itu, makanya riset sangat dibutuhkan, karena tidak akan ada penemuan (invensi) tanpa riset, dan tidak akan ada inovasi-teknologi tanpapenemuan.

Semangat dan dukungan riset pada komoditas unggulan menjadi strategis dan tidak terpisahkan dari upaya membangun daya saing industri kemaritiman. Perikanan di Indonesia merupakan salah satu subsektor yang potensial menyediakan pangan untuk kebutuhan dalam negeri maupun masyarakat dunia.

Ada sejumlah komoditas di pesisir dan laut yang telah berkembang dan memberikan devisa di tahun 2018 sekitar 4 milyar US dollar, namun masih perlu ditingkatkan peran dan kinerjanya menjadi berkali lipat.

Komoditas itu diantaranya adalah tuna dan jenis lainnya (Perikanan Tangkap); rumput laut, udang, bandeng, kakap putih atau baramundi dan jenis ikan karang (Perikanan Budidaya).

Sulawesi Tengah Pemerintah daerah di beberapa wilayah di negeri ini telah menjadikan integrasi subsektor Pariwisata dan Perikanan sebagai salah satu lokomotif baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerahnya.

Sulawesi Utara sejak tiga tahun lalu telah membuka penerbangan langsung dari China-Manado-China dan tahun ini dari Philipina-Manado-Philipina. Saat ini juga sementara di gagas penerbangan Kinibalu-Manado-Kinibalu.

Catatan yang ada di tahun 2018 menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan ke Manado mendekati 124.830 orang dan didominasi turis china sekitar 85 persen dengan lama rata-rata tinggal sekitar 3,4 hari. Pemerintah Sulawesi Selatan saat ini juga menjadikan integrasi Subsektor Pariwisata dan Perikanan menjadi salah satu “amunisi baru” untuk mendorong perekonomian daerahnya. Bandara Tanah Toraja saat ini sedang dipersiapkan untuk menjadi bandara Internasional, sehingga Penerbangan dari Negara lain dapat langsung ke wilayah yang dikenal dengan tujuan wisata “Negeri di atas Awan”.

Selain itu Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan telah membangun kerjasama dengan Pemerintah Jepang dalam pengembangan Subsektor Perikanan. Provinsi Sulawesi Tengah yang berada diantara Manado di Utara dan Makassar di Selatan Pulau Sulawesi telah merasakan dampak dari berkembangnya subsektor Pariwisata di dua daerah tersebut. Sejumlah komoditas, khususnya makanan asal laut, Sea Food banyak dikirim ke Manado dan Makassar untuk mensuply kebutuhan tourist maupun tamu lainnya.

Tingginya permintaan makanan asal laut tersebut antara lain menjadikan Nilai Tukar Petani (NTP) Subsektor Perikanan meningkat menjadi 106 persen dan tertinggi diantara subsektor lainnya di daerah ini.

Tentunya kita berharap Sulawesi Tengah dapat memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan yang lebih besar dengan membangun interkoneksi penerbangan yang masuk dari Utara (Manado) dan Selatan (Makassar), selanjutnya keluar dari Tengah (Palu). Kesiapan bandara Mutiara Sis Al Jufri menjadi Bandara Internasional menjadi keharusan, karena tourist dapat terbang langsung direct flight kembali ke Negaranya.

Ada sejumlah daya tarik wisata yang dimiliki Sulawesi Tengah yang tidak kalah baiknya dengan Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan, seperti Togian di Tojo Unauna; Sambori di Morowali; Patung Megalitikum Lore-Lindu kab Poso; Tanjung Karang di Donggala sampai kepada wisata edukasi melalui pembanguna “mesium modern” yang menggambarkan proses maupun dampak dari gempa, tsunami dan lukuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala yang terjadi pada tanggal 28 September 2018, sebagai daya Tarik Baru.

Karena itu diperlukan Roadmap atau peta jalan yang mengintegrasi subsektor Pariwisata-Perikanan dan sub sektor lainnya ; Penyiapan Sumberdaya Manusia; serta Penyiapan Inovasi-Teknologi maupun infrastruktur agar dapat mewujudkan sebuah wilayah dengan Industri Pariwisata yang mandiri dan berdaya saing. Semoga. (Penulis adalah Hasanuddin Atjo, Kadis Kelautan Perikanan Sulteng).***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: