Ruas Jalan Palu- Kulawi Banyak Rusak Parah

 

 

“Kendaraan Proyek Merusak Jalan di Sigi”

elwan (deadline-news.com)-Sigi-Ruas jalur jalan provinsi Palu – Kulawi sepajang kurang lebih 16 kilometer (KM) mulai dari arah desa Sidondo Kec. Biromaru sampai di desa, sibovi, sibalaya Kec. Tanambulava, serta desa Kalavara, Pakuli hingga Simoro Kec. Gumbasa, Kab. Sigi Sulteng, mengalami rusak parah.

Pasalnya sekitar 16 km ruas jalur jalan poros penghubung antar kecamatan itu, kondisi aspal disepanjang jalur jalan provinsi tersebut, banyak mengalami keretakan fatal, hancur dan juga berlobang.

Karena akibat sering dilewati lalu lalang kenderaan proyek, baik kenderaan proyek Nasional maupun proyek lokal.

Diantaranya mobil jenis Dam truck, Tronton dll, dimana kenderaan super besar pengangkut bahan baku mterial pasir, koral dan batu gajah, diakui kapistas bobot muatanya hingga berton-ton.

Itulah penyebabnya sehingga hampir seluruh badan jalan yang digilas oleh roda-roda raksasa itu, sehingga mumbuat aspal jalan jadi cepat terkelupas dan hancur.

Hasil pantauan deadline-news.com group detaknews.id Sabtu (29/7-2023), terkait infrastruktur jalur jalan poros (provinsi) atau pelintasan Palu – Kulawi atau jalur penghubung lintas kecamatan di daerah Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah, dimana setelah diterpa pasca bencana alam gempa, tsunami, likuifaksi palu, Sigi, Donggala (Pasigala), banyak infrastruktur atau fasilitas umum mengalami rusak parah.

Hanya saja sepanjang jalan yang megalami kerusakan fatal juga tekelupas itu, karena diakibatkan oleh mobilisasi kenderaan yang mayoritas oto berkapasitas pengangut bahan-bahan material berton-ton itu adalah untuk kepentingan proyek Nasional (multi years).

Dengan keruasakan jalur jalan proos atau jalur pelintasan antar kecamatan tersebut, terdapat dibeberapa titik lokasi, antara lain, di jalur lintas jln poros Palu – Banga, Palu – Kulawi dan Palu – Palolo.

Hal itu harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, dalam hal ini adalah balai pelaksana jalan nasional (BPJN) atau Dinas Binamarga Provinsi Sulawesi Tengah.

Atau Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang fungsinya mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dan tugas pembantuan di bidang pekerjaan umum, penataan ruang dan pertanahan.

Terkhusus di Kab. Sigi, amat banyak menyisahkan luka dan duka, meskipun demikian, berkat bantuan demi bantuan mengalir dratis dari pihak pendonor, baik bantuan domestik maupun bantuan luar negeri, turut berkontribusi menyokong dana bantuan bakal perbaikan infrastruktur yang hampir semua fasilitas pemerintah dan pemukiman masyarakat mengalami kerusakan yang serius pada daerah yang terdampak bencana itu.***

Proyek Sabo Dam di Sigi Baru Dikerjakan Sudah Rusak

 

 

 

Nelwan (deadline-news.com)-Sigi – Terkait revitalisasi proyek multi years yang digarap oleh BUMN seperti peningkatan ruas jalan nasional dan provinsi, pipanisasi rekonstruksi rehabilitasi sistem air baku pasigala, normalisasi sungai, sabodam, dann irigasi gumbasa, perlu adanya revisi ulang dari kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) liding sektor balai masing-masing yakni BWSS III Palu dan BPJN.

Investigasi deadline-news-com group detaknews.id Sabtu (28/7-2023), sebagian pekerjaan proyek multi years itu ada yang telah selesai bahkan sudah sampai ke fase klimaks dan mencapai bobot 100%.

Namun ada beberapa proyek nasional itu masih dalam tahap profesional heand over (PHO), bahkan ada juga ke tahap Final heand over (FHO).

“Tetapi faktanya sejumlah proyek itu fisik dan bobot konstruksinya dibeberapa titik terkait beberapa pondasi pembatas ruas jalan Nasional Palu – Kulawi tampak rapuh, akibat struktur speak betonnya dikerjaakan kurang berkwalitas.

“Diketahui ada tiga titik proyek berskala nasional mengait SaboDam, seharusnya masih perlu dilakukan pemantauan kembali oleh pihak balai terkait, diantaranya, Sabo Dam di Desa Poi Kecamatan Dolsel, Sabo Dam di Desa Bangga dikecamatan yang sama dan di Desa Salua Kecamatan Kulawi.

Bagaimana tidak? ketiga Sabo Dam tersebut kini kondisinya telah mengkhawatirkan, pasalnya tumpukan sedimen berupa material pasir telah hampir penuh menggenagi siklop atau dinding (bupper fill) di sepanjag sungai itu.

Sementara dititik Sabo Dam lll berada di desa Bangga saat ini juga kondisi debit airnya kian meningkat daratis, akibat tumpukan sedimen berupa material pasir, potongan ranting pohon dan potongan gelondongan kayu bekas penebangan liar banyak yang tersangkut di lobang sirkulasi pembuangan aliran air sungai tersebut.

Yang lebih memprihatinkakan adalah di desa Poi (Dolsel) penampakan debris sedimen atau material pasirnya kian terjadi penumpukan.

Jika dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan akan mengakibatkan banjir, meski itu bukan lagi berupa banjir bandang, tetapi bahaya banjir itu dapat mengacam warga desa setempat yang bermukim di sekitaran bantaran sugai tersebut.

Sejatinya peruntukan mobilisasi proyek Sabo Dam itu adalah proteksi debit air di aliran sungai yang terpaut sedimen agar terhidar dari bahaya banjir bandang. Sehingga pemerintah merealisir pinjaman triliunan rupiah dari dana Loan yang terasosiasi dengan Bank Dunia yaitu, JICA dan international ADB.

Terkait prioritas lokalisir teknik kosntruksi Sabo Dam itu, adalah mencakup objectifitas struktur elemen yang menetralisir ferkwensi pergerakan sedimen dalam sungai yang mengontrol terstruktur dalam modul bangunan Sabo Dam tersebut.

“Baik struktur elemen speack dan dimensi konstruksi yang mengatur pengendalian sungai dan pergerakan sungai itu sendiri maupun fungsi siklop (groundshil) sebagai pengendali aliran debris (lahar/sedimen) beserta prasarana pelengkapnya.

Sejumlah korporasi perusahaan nasional yang mengelolah proyek multi years tersebut, melekat di leding sektor BWSS lll Palu Sulawesi Tengah.

Adapun sumber dana anggaran proyek multi years itu yang digulirkan terhadap perusahan-perusahaan besar tersebut, intes melalui sokongan dana yang berasal dari anggaran plus instructure rekonsrtuction sektir loan (IRSL) JICA serta insternational asian develoment bank (ADB), dimana telah terakomudir lewat pihak kementrian PUPR yang nilainya mencapai Rp, 15 triliun.

Secara teknis persentasi progres kerja dari kesemua speack pekerjaan proyek tersebut hingga ekskalasi dan maksimalisasi struktur dan dimensi pekerjaan itu, dan intens mengikuti petunjuk tkenis sesuai tata cara aturan arsitekturnya, sehingga bobot hasil garapan mencakup progres per-item terakumulasi dengan sempurna dan signifikan serta terlihat berkualitas.

Hanya saja penggarapannya terkesan agak sedikit lamban, karena terkendala oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor alam, dimana wilayah Sigi itu memang diakui cuacanya cukup rentan dan ekstrim, sehingga membuat pekerjaan beberapa proyek berskala nasional itu sering mengalami keterlambatan. Terindikasi high interest (tingginya kepentingan).

Sejumlah proyek berskala nasional itu dipetakan dan difokuskan dikawasan Kabupaten Sigi yang lebih parah terdampak bencana alam gempa tsunami dan likuifaksi (gempis) sekitar lima tahun yang silam.

Diketahui optimalisasi sistim tata kelolah beberapa proyek berskala nasional itu, dalam prioritas penggarapannya cukup signifikan, juga diakui cukup menelan banyak anggaran yang sangat luarbiasa besar hingga mencapai triliunan rupiah.

Dan terkait objektifitas pengololaan proyek itu, juga dijamin sangat ketat pengentrolannya, hingga upaya high control (tingginya pengawasan) dari kementrian PUPR, tampak cukup baik.

Tetapi masih ada bagian-bagian fital proyek itu, mengalami kerusakan fatal dan terkesan terabaikan oleh pihak penglolah proyek tersebut.

Dimana maksimalisasi gerak bersama (geber) korporasi perusahaan bonafit yang bergerak di sektor konstrusi dan perihal revitalisasi proyek infrastruktur serta plot lokalisir sejumlah proyek multi years di Kabupaten Sigi secara sitematis pekerjaan itu telah berjalan sesuai terapan dan aturan PUPR.

Namun realitasnya sortasi progres pekerjaan peritem, tatkala pihak PUPR mereview ulang proyek-proyek tersebut, lalu kemudian pekrejaan proyek-proyek itu di protek dengan aturan proses adendum.

Selain itu, tatkala juga proses penambahan elevasi volume pekerjaan diakui sudah efesien, sedangkan secara teknis pembuatan fisik konstruksi itu mengikuti metode sesuai speak.

Padahal faktaya fisik dari pekerjaan proyek-proyek tersebut, dibeberapa titik ada yang rapuh, bahkan terlihat amburadul, hasil pekerjaan itu diduga terkesan masih adanya kong kali kong dari pihak tertentu atau high interest (tingginya kepentingan).

Tatkala proyek multi years itu diproyeksikan dan dipetakan, juga diplot dengan teknis perencaan yang matang hingga kemudian dilakukannya revisi ulang pada tata kelolah terkait pelaksaan garapan pekerjaan disetiap item serta tahapan akumulasi progres pekerjaanpun secara keseluruhan melalui proses hingga mencapai bobot yang berkuwalitas.

Berkaitan dengan hal itu, maka unsur kesesuaiannya terpaut pada Contract Change Order (CCO) adalah Surat kesepakatan beruapa perjanjian tertulis yang di tanda tangani oleh pemilik (owner), wakil Owner (MK) dan kontraktor dikarenakan adanya revisi atau perubahan perencanaan awal pada proyek konstruksi yang dikondisikan dengan keadaan dilapangan, dimana terjadi Contract Change Order.***

Diduga PT.Wika 10 Bulan Tak Bayar Subkonnya di Proyek Infrastruktur

 

 

 

Banga Doel/Nelwan (deadline-news.com)-Sigi-Beberapa kontraktor lokal Sulawesi Tengah keluhkan PT.Wijaya Karya yang sudah memasuki bulan ke 10 jasa hasil pekerjaannya tidak dibayarkan.

Ceritanya perusahaan lokal itu melakukan subkontrak pekerjaan di PT Wijaya Karya Tbk (Persero) atau yang biasa disebut PT WIKA dalam pekerjaan infrastruktur peningkatan ruas jalan nasional pasca bencana di Sulteng, baik yang di Kota Palu, kabupaten Sigi maupun di ruas jalan nasional wilayah Pantai Barat Kabupaten Donggala.

PT.Wika merupakan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang konstruksi infrastruktur jalan, bendungan, Irigasi maupun bangunan gedung di Indonesia.

Perusahaan ini merupakan hasil nasionalisasi perusahaan Belanda, Naamloze Vennotschap Technische Handel Maatschappij en Bouwbedijf Vis en Co atau NV Vis en Co.

Namun sayangnya BUMN ini diduga mengabaikan hak-hak kontraktor lokal yang sudah membantunya. Bayangkan sudah bulan ke 10, subkontraktornya tidak dibayarkan.

Padahal anggaran pasca bencana Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) mencapai Rp, 15 triliun. Dan sudah mau berakhir penanganan pasca bencana pasigala itu.

Menurut informasi yang dihimpun deadline-news.com group detaknews.id adalah PT.Karivan salah satu subkontraktor PT.Wika yang sudah 10 bulan tidak dibayarkan biaya jasa hasil pekerjaannya yang totalnya lebih dari Rp, 2 miliyar.

Salah seorang pengusaha nasional yang dikonfirmasi mengatakan perusahaan BUMN itu sudah dibayarkan oleh kementrian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR), namun diduga dananya diputar lagi ke pekerjaannya ditempat lain.

Hampir semua kontraktor BUMN seperti PT.Wika, PT.Pembangunan Perumahan (PP) tbk, PT.Adhi Karya, PT.Nindia Karya dan perusahan kontraktor BUMN lainnya memperlakukan subkontnya begitu.

“Karena uangnya yang sudah cair diproyek tertentu, misalnya proyek peningkatan jalan atau pasca bencana pasigala dialihkan dananya ke proyek ditempat lain. Sebab BUMN ini ibaratnya jeruk makan jeruk dimana paket pekerjaannya di seluruh Indonesia, sementara alatnya dan modalnya tidak mencukupi, makanya anggaran pekerjaan ditempat lain yang sudah cair dialihkan ke pekerjaan di daerah lain yang masih dalam proses pekerjan dan dananya belum mencukupi,”jelas sumber itu.

Kata sumber itu sebaiknya para subkon yang merasa di rugikan menggugat pailit itu BUMN yang tidak menyelesaikan kewajibannya sampai berbulan-bulan.

Adalah rekonstruksi ruas jalan Kalawara-Kulawi yang dikerjakan PT.Wika dengan menggunakan anggaran pascabencana dari pinjaman negara di bank dunia.

Manajemen PT.Wika di Sigi melalui humasnya Serdy Palembangan, SE, MM menjawab konfirmasi deadline-news.com group detaknews.id di kantornya Kamis (27/7-2023) di Sigi mengatakan tidak betul keterlambatan pembayaran subkon sudah 10 bulan.

Memang menurutnya, ada 4 subkon ambil pekerjaan di pt.wika dan mengenai telatnya pembayaran itu terjadi hanya keterlambatan soal teknis penyortiran berkas terkait pencairan. ***

BPD Ganpensi Sulteng Gelar Pelatihan Tim Tinjauan Sertifikasi LSBU PT.GKB

 

 

“Kenapa Jam Krindo Hanya Memjamin Jasa Konstruksi, Pengadaan Tidak?”

Bang Doel (deadline-news.com)-Palu-Badan pengurus daerah gabungan pengusaha jasa konstruksi (BPD Gapensi) sulawesi tengah (sulteng) gelar pelatihan tim tinjauan permohonan sertifikasi Lembaga Sertifikasi Badan Usaha (LSBU) PT.Gamana Krida Bhakti Kamis (27/7-2023) di kantor BPD Gapensi Palu Plaza.

PT Jamkrindo merupakan perusahaan penjamin terbesar di Indonesia. Sebagai perusahaan penjaminan kredit, Jamkrindo memiliki berbagai produk, baik produk penjaminan program maupun penjaminan nonprogram. Pada penjaminan program, PT Jamkrindo memiliki produk penjaminan KUR dan penjaminan KMK dalam rangka PEN.

Adalah pengurus BPP Gapensi pemateri dalam pelatihan tim tinjauan itu diantaranya Fahmi Ibnu Fadeli, SE (Direktur Eksekutif), Sobari, Aris, dan Agus.

Sementara para peserta dari BPD Gapensi Sulteng dan para BPC Gapensi kabupaten/kota se Sulteng diantaranya BPC Gapensi Tolitoli Ruslan Nurung, Tojo Unauna Moh.Mirsa alias Aco Lasehe, Donggala, Sigi dan Palu.

Pengurus BPP Gapensi Fahmi dalam sambutan singkatnya mengatakan pelatihan itu untuk mendorong kemampuan anggota dan pengurus BPC Gapensi dalam mengurus LSBU, untuk melahirkan tenaga-tenaga yang terampil.

Ketum BPD Gapensi Sulteng Hj.Salma Rahman, meminta para peserta pelatihan untuk mengikuti pelatihan ini secara serius untuk melahirkan output yang berguna, baik bagi anggota, pribadi maupun organisasi.

Hadir dalam pelatihan itu Ahmad manajer Bisnis Jam Krindo. Ahmad menjawab pertanyaan ketua BPC Gapensi Touna Moh.Mirsa alias Aco Lasehe mengatakan Jam Krindo tidak menjaminkan bagi pengadaan makhluk hidup seperti Sapi maupun tanaman.

Moh.Mirsa alias Aco Lasehe Gapensi Touna ini awalnya mempertanyakan soal jam krindo yang hanya bisa melayani jasa konstruksi, tapi pengadaan tidak, baik pengadaan makhluk hidup maupun alkes.

Sementara Ruslan Nurung ketua BPD Gapensi Tolitoli mempertanyakan soal bank garansi (uang muka). Apakah jam krindo bisa menjamin, mohon prosentasenya.

Ahmad dari Jam Krindo menjawab Ruslan dari BPC Gapensi Tolitoli menjelaskan bahwa soal tarif tergantung bank masing-masing. Sebab setiap bank berbeda-beda tarifnya.

“Kami menyesuaikan tarif bank masing-masing yang ditunjuk,”jelas Ahmad.

Pelatihan ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni Kamis – Jumat (27-28/7-2023). Hadir dalam pelatihan itu Kristian Seleng, H.Rais, Hardi Yambas dan Idrus Hadaddo. ***

Subkontraktor Merana Pekerjaan Tak Dibayar Kontaktor Utama Pada ProyekPasca Bencana

 

 

Bang Doel (deadline-news.com)-Puluhan subkontraktor lokal maupun dari luar daerah Sulawesi Tengah merana.

Pasalnya kontraktor utama pada paket proyek pasca bencana gempa bumi, likuifaksi dan tsunami Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) tidak dibayarkan.

Sebut saja PT. MainCoN Djasa Ubersakti sampai saat ini tidak membayar jasa hasil pekerjaan PT.Sindang Multi Megatama. Demikian dikatakan Tris Agustian Panjaitan pada pers konfrence Senin malam (24/7-2023) di salah satu Cafe di jalan Ir.Juanda Palu.

Menurutnya PT.MainCoN Djasa Ubersakti telah dibayar oleh kementerian PUPR melalu balai prasarana permukiman wilayah sulawesi tengah (BPPWS) di Palu.

Adalah pekerjaan proyek rehab rekon kampus universitas Islam negeri (UIN) datokarama Palu senilai Rp, 18 miliyaran dengan pembangunan gedung perkuliahan, auditorium, study center, gedung PAUD, rumah genset, gedung informasi dan teknologo.

Ironisnya subkontraktor sudah menyelesaikan pekerjaannya, namun tidak dibayarkan oleh kontraktor utamanya yakni PT.MainCoN Djasa Ubersakti.

Padahal PT.MainCoN Djasa Ubersakti sudah dibayarkan oleh PUPR 92 persen sedangkan subkontraktor yakni PT.Sindang Multi Megatama baru sekitar 78 persen atau sekitar Rp, 4 miliyaran.

“Karena kami tidak dibayar sampai saat ini, sehingga kami akan melaporkan PT.MainCoN Djasa Ubersakti ke Polda Sulawesi Tengah Selasa besok (25/7-2023), dengan dugaan penipuan dan penggelapan,”tegasnya.

Kepala balai prasarana permukiman wilayah Sulteng Sahabuddin yang dikonfirmasi membenarkan masih tersisa uang kontraktor proyek rehab rekon kampus UIN Datokarama itu sekitar Rp, 9 miliyaran.

“Hal itu terjadi karena pekerjaannya terlambat dan dikenakan denda. Sehingga menunggu hasil audit badan pemeriksa keuangan (BPK) RI perwakilan Sulteng dengan badan pengawas keuangan dan pembangunan (BPKP),”jelas Sahabuddin. ***

Aktivis Pasigala Minta APH Usut Proyek Mini Soccer Bandara Mutiara

 

Dewan masjid

 

Bang Doel (deadline-news.com)-Palu-Aktivis pasca bencana palu, sigi dan donggala (pasigala) Moh.Raslin minta aparat penegak hukum usul proyek mini soccer di bandara mutiara sis aljufri Palu Sulawesi Tengah.

 

Pasalny Proyek mini soccer yang dibiayai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2022 senilai Rp, 400 jutaan itu diduga dikerjakan internal bandara mutiara sis aljufri palu sendiri.

 

Bahkan diduga meminjam alat berat PT.Adhi Karya saat melakukan penggusuran dan pematangan lokasi mini soccer itu.

Anwar Hafid

 

Bukan itu saja tapi perataan, penanaman rumput dan penyiramannya setiap pagi dan sore dilakukan oleh pegawai bandara sendiri.

 

Sehingga patut diduga terjadi tindak pidana korupsi (TPK) pada proyek mini soccer itu.

 

“Olehnya kami minta APH untuk mengusutnya. Karen jika benar hanya dikerjakan internal bandara sendiri sangat merugikan kontraktor daerah ini. Sehingga sangat patut diduga ada tpk pada proyek mini soccer itu,”tegas Raslin.

Sebelumnya telah diberitakan, mestinya pekerjaan mini soccer yang sumber anggarannya dari APBN itu sudah selesai dan dapat dimanfaatkan.

Tapi kenyataannya belum dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena masih banyak perlu dibenahi, termasuk rumputnya.

Pekerjaan mini soccer diduga dikerjakan internal bandara alias orang dalam. Tidak dipihak-ketigakan.

Hal itu dikuatkan dengan informasi dari beberapa narasumber kepada media ini. Saat pekerjaan mini soccer berlangsung, pegawai bandara saling bahu membahu turun tangan mengerjakan.

Mulai dari mengangkat dan menanam rumput, meratakan timbunan, hingga menyiram timbunan dan rumput mini soccer yang baru ditanam. Ada bahkan yang bekerja masih mengenakan baju dinas bandara.

Selain dikerja gotong royong, internal bandara juga meminta support alat berat ke perusahaan yang sedang mengerjakan rehab terminal bandara. Alat berat yang dikerahkan jenis greder.

Dengan bantuan greder, pekerjaan tanah dan gundukan material pasir lebih cepat diratakan. Sebab, selain permukaan tanah menjadi rata juga gembur. Sehingga lebih mudah ditanami rumput.

“Ada alat berat sebelumnya bekerja, tapi tidak disewa alias gratis. Alat berat perusahaan yang mengerjakan terminal bandara dimintai tolong,” katanya.

“Hasil pekerjaan mini soccer agak memprihatinkan. Bagaimana mungkin kualitasnya bagus, kalau hanya dikerja secara swadaya oleh pihak internal. Padahal ada anggarannnya,” ujarnya sembari geleng-geleng kepala.

PPK MEMBANTAH

Apa tanggapan pihak Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu? Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pekerjaan mini soccer, Supriyadi, membantah kalau pekerjaan mini soccer dikerjakan oleh internal bandara.

“Dipihak ketigakan pak. Saya lupa nama perusahaannya. Saya tidak hafal,” katanya berkelit saat ditanya nama perusahaan yang mengerjakan mini soccer.

Termasuk besaran anggaran pekerjaan mini soccer, Supriyadi juga lupa. Sebagai PPK, ia mengaku tidak tahu persis berapa anggarannya.

Supriyadi hanya ingat bahwa pekerjaan mini soccer masuk dalam empat item kegiatan pemeliharaan taman dan halaman bandara. Total anggarannya Rp 400 juta. Dalam Rp 400 juta tersebut, ada pembiayaan mini soccer salah satunya.

“Tidak-lah pak. Tidak ada. Itu (informasinya) sudah ditambah-tambah saja. Ada fotonya. Kami punya foto-foto juga,” kilahnya.

“Sudah selesai sekarang pekerjaan mini soccer. Tetap ada penyempurnaan. Seperti rumputnya. Kalau ada (tidak bagus) ya kita ganti,” ujar sang PPK dikonfirmasi via telepon pada Minggu sore 4 Juni 2023. Sumber metrosulteng.com. ***

Proyek Mini Soccer Bandara Mutiara Palu Diduga Hanya Digotong Royong

 

Dewan masjid

“Diduga Tidak dipihak ketigakan”

 

Bang Doel (deadline-news.com)-Palu-Proyek mini soccer yang “terbengkalai”, ternyata diduga dikerjakan secara gotong royong.

 

Proyek anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2022 senilai Rp, 400 jutaan itu diduga dikerjakan internal bandara mutiara sis aljufri palu sendiri.

Anwar Hafid

 

Bahkan diduga meminjam alat berat PT.Adhi Karya saat melakukan penggusuran dan pematangan lokasi mini soccer itu.

Himbauan iuran sampah

 

Bukan itu saja tapi perataan, penanaman rumput dan penyiramannya setiap pagi dan sore dilakukan oleh pegawai bandara sendiri.

 

Sebelumnya telah diberitakan, mestinya pekerjaan mini soccer yang sumber anggarannya dari APBN itu sudah selesai dan dapat dimanfaatkan.

Tapi kenyataannya belum dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena masih banyak perlu dibenahi, termasuk rumputnya.

Pekerjaan mini soccer diduga dikerjakan internal bandara alias orang dalam. Tidak dipihak-ketigakan.

Hal itu dikuatkan dengan informasi dari beberapa narasumber kepada media ini. Saat pekerjaan mini soccer berlangsung, pegawai bandara saling bahu membahu turun tangan mengerjakan.

Mulai dari mengangkat dan menanam rumput, meratakan timbunan, hingga menyiram timbunan dan rumput mini soccer yang baru ditanam. Ada bahkan yang bekerja masih mengenakan baju dinas bandara.

Selain dikerja gotong royong, internal bandara juga meminta support alat berat ke perusahaan yang sedang mengerjakan rehab terminal bandara. Alat berat yang dikerahkan jenis greder.

Dengan bantuan greder, pekerjaan tanah dan gundukan material pasir lebih cepat diratakan. Sebab, selain permukaan tanah menjadi rata juga gembur. Sehingga lebih mudah ditanami rumput.

“Ada alat berat sebelumnya bekerja, tapi tidak disewa alias gratis. Alat berat perusahaan yang mengerjakan terminal bandara dimintai tolong,” katanya.

“Hasil pekerjaan mini soccer agak memprihatinkan. Bagaimana mungkin kualitasnya bagus, kalau hanya dikerja secara swadaya oleh pihak internal. Padahal ada anggarannnya,” ujarnya sembari geleng-geleng kepala.

PPK MEMBANTAH

Apa tanggapan pihak Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu? Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pekerjaan mini soccer, Supriyadi, membantah kalau pekerjaan mini soccer dikerjakan oleh internal bandara.

“Dipihak ketigakan pak. Saya lupa nama perusahaannya. Saya tidak hafal,” katanya berkelit saat ditanya nama perusahaan yang mengerjakan mini soccer.

Termasuk besaran anggaran pekerjaan mini soccer, Supriyadi juga lupa. Sebagai PPK, ia mengaku tidak tahu persis berapa anggarannya.

Supriyadi hanya ingat bahwa pekerjaan mini soccer masuk dalam empat item kegiatan pemeliharaan taman dan halaman bandara. Total anggarannya Rp 400 juta. Dalam Rp 400 juta tersebut, ada pembiayaan mini soccer salah satunya.

“Tidak-lah pak. Tidak ada. Itu (informasinya) sudah ditambah-tambah saja. Ada fotonya. Kami punya foto-foto juga,” kilahnya.

“Sudah selesai sekarang pekerjaan mini soccer. Tetap ada penyempurnaan. Seperti rumputnya. Kalau ada (tidak bagus) ya kita ganti,” ujar sang PPK dikonfirmasi via telepon pada Minggu sore 4 Juni 2023. Sumber metrosulteng.com. ***

Ada Potensi Dugaan Korupsi di Proyek Rp, 91. 071.561.000

 

 

Dewan masjid

 

“Diduga gunakan batu kali kwalitas rendah”

 

Bang Doel (deadline-news.com)-Palu-Pelaksanaaan Pekerjaan Konstruksi Pembangunan Infrastruktur permukiman kawasan talise Kota Palu, dengan Nomor Kontrak : HK.02.01/ KONT.FIS/SPPP.ST/PKP/05/2022, dengan Nilai Kontrak Rp. 91.071.561.000, berpotensi korupsi.

 

Proyek itu dilaksanakan oleh APHASKO-KARAGA, KSO, dan Konsultan Pengawasan TMC-1 CSRRP PT.CIRIAJASA CIPTA MANDIRI diduga menggunakan material tidak sesuai spesifikasi tekhnis.

Anwar Hafid

 

Karena telah menggunakan material bermutu/kwalitas rendah yang berasal
dari Lokasi yang tidak berizin, (material diduga illegal) dengan harga rendah.

 

Sehingga berpotensi merugikan Negara Miliaran Rupaih.

 

“Mengambil atau memasok material tambang dari sumber ilegal adalah merupakan perbuatan melanggar hukum, tanpa terkecuali. Apalagi material tersebut dipergunakan untuk fasilitas pemerintah,”demikin ditegaskan aktivis korban bencana Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) Moh.Raslin dalam rilisnya Rabu (7/6-2023) yang dikirim ke whatsApp redaksi deadline-news.com group detaknews.id.

Menurutnya dalam Undang-Undang nomor 4 tahun 2009 tentang Minerba. Terkhusus pada pasal 161 dijelaskan, setiap orang atau pemegang IUP operasi produksi atau IUPK operasi produksi yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, penjualan mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP,
IUPK atau izin, dipidana dengan ancaman penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah).

“Bahwa berdasarkan uraian diatas APHASKO-KARAGA, KSO diduga telah
menggunakan Material yang berasal dari Lokasi yang tidak berizin atau
penambangan illegal dan hal ini sangat bertentangan dengan pasal 158 dan atau pasal 161 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2022 Tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan
Batu Bara sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja dengan ancaman pidana paling lama 3 tahun dan denda paling banyak Rp 100 miliar. dan Pasal 98 Ayat (1) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan
ancaman pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 3 miliar,”tegas Rasli.

Kata Raslin berdasar penelusuran tim Relawan Pasigala bersama KRAK Sulteng melakukan penelusuran di lokasi pembangunan infrastruktur kawasan Talise kota Palu menemukan adanya dugaan penggunaan material batuan yg ditengarai dipasok dari area yang tidak memiliki izin resmi.

“Disinyalir ratusan bahkan ribuan kubik batu yg digunakan pada pasangan bronjong, talud dan turap didatangkan dari sungai poboya,”jelas Raslin.

Relawan Pasigala bersama KRAK Sulteng ini sangat menyayangkan jika proyek yang di bandrol dengan harga Internasional tersebut diduga dikerja asal asalan dengan menggunakan batu kali atau batu sungai.

Ia mengatakan akan berkoordinasi dengan BPK RI perwakilan Sulteng meminta segera mengaudit pekerjaan tersebut dan meminta tanggung jawab TMC 1 CSRRP PT Ciriajasa Cipta Mandiri selaku konsultan pengawas terkait lolosnya penggunaan material batuan yang ditengarai dan diduga didatangkan dari area tidak meliki izin itu.

Kepala perwakilan PT.Apasko Palu Sulawesi Tengah Saifullah yang dikonfirmasi via chat di whatsAppnya Rabu siang (7/6-2023) tidak memberikan jawaban. ***

Proyek Mini Soccer Disorot, Pihak Bandara Dadakan Bikin Event

 

Dewan masjid

 

“Proyek APBN Mini Soccer Bandara Diduga Dikerjakan Secara Swadaya”

Anwar Hafid

 

Bang Doel (deadline-news.com)-Palu- Setelah pekerjaan mini soccer (lapangan bola mini) di kompleks Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Sulawesi Tengah, disoroti media dengan beberapa kali pemberitaan, internal bandara gercep (gerak cepat) bikin event.

 

 

Informasi yang dihimpun Metrosulteng.com media petner deadline-news.com, pihak bandara dijadwalkan menggelar mini soccer turnamen di bulan Juni ini.

 

Event itu memperebutkan piala Kepala Bandara Rudi Ricardo dengan total bonus Rp 3,5 juta. Event tersebut bersifat internal.

 

Hanya untuk pegawai dan jajaran Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu saja. Setiap tim yang mendaftar, dibebankan biaya pendaftaran sebesar Rp 300 ribu.

Saat ini, untuk mempersiapkan turnamen mini soccer, tim panitia terus mematangkan persiapan. Rapat demi rapat dilakukan demi maksimalnya pelaksanaan event tersebut.

Tak terkecuali lokasi mini soccer yang akhir-akhir ini ramai disoroti pemberitaan media. Sebagai tempat pertandingan, keberadaan mini soccer diharapkan tidak mengecewakan.

Terkait gelaran ternamen mini soccer, suara sumbang pun tidak terbendung. Turnamen itu dinilai sangat dadakan digelar.

“Tiba-tiba digelar (turnamen mini soccer). Apakah kesiapan lapangan mini soccer sudah maksimal,”kritik sumber terkait event tersebut.

Kata sumber itu kesiapan lapangan mini soccer masih diragukan. Karena rumputnya baru saja ditanam. Akar rumput belum terlalu kuat menyatu dengan tanah. Apalagi lapisan bawah mini soccer juga ditaburi pasir saat dikerja.

“Rumput lapangan mini soccer akan banyak yang rusak, bila event ini dipaksakan digelar. Lihat saja kondisinya, tidak subur tumbuhnya,” ragu sumber media ini meminta namanya tidak disebutkan.

Sebelumnya diberitakan, mestinya pekerjaan mini soccer yang sumber anggarannya dari APBN 2023, sudah selesai dan dapat dimanfaatkan.

Tapi kenyataannya belum dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena masih banyak perlu dibenahi, termasuk rumputnya.

Pekerjaan mini soccer diduga dikerjakan internal bandara alias orang dalam. Tidak dipihak-ketigakan.

Hal itu dikuatkan dengan informasi dari beberapa narasumber kepada media ini. Saat pekerjaan mini soccer berlangsung, pegawai bandara saling bahu membahu turun tangan mengerjakan.

Mulai dari mengangkat dan menanam rumput, meratakan timbunan, hingga menyiram timbunan dan rumput mini soccer yang baru ditanam. Ada bahkan yang bekerja masih mengenakan baju dinas bandara.

Selain dikerja gotong royong, internal bandara juga meminta support alat berat ke perusahaan yang sedang mengerjakan rehab terminal bandara. Alat berat yang dikerahkan jenis greder.

Dengan bantuan greder, pekerjaan tanah dan gundukan material pasir lebih cepat diratakan. Sebab, selain permukaan tanah menjadi rata juga gembur. Sehingga lebih mudah ditanami rumput.

“Ada alat berat sebelumnya bekerja, tapi tidak disewa alias gratis. Alat berat perusahaan yang mengerjakan terminal bandara dimintai tolong,” katanya.

“Hasil pekerjaan mini soccer agak memprihatinkan. Bagaimana mungkin kualitasnya bagus, kalau hanya dikerja secara swadaya oleh pihak internal. Padahal ada anggarannnya,” ujarnya sembari geleng-geleng kepala.

PPK MEMBANTAH
Apa tanggapan pihak Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu? Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pekerjaan mini soccer, Supriyadi, membantah kalau pekerjaan mini soccer dikerjakan oleh internal bandara.

“Dipihak-ketigakan pak. Saya lupa nama perusahaannya. Saya tidak hafal,” katanya berkelit saat ditanya nama perusahaan yang mengerjakan mini soccer.

Termasuk besaran anggaran pekerjaan mini soccer, Supriyadi juga lupa. Sebagai PPK, ia mengaku tidak tahu persis berapa anggarannya.

Supriyadi hanya ingat bahwa pekerjaan mini soccer masuk dalam empat item kegiatan pemeliharaan taman dan halaman bandara. Total anggarannya Rp 400 juta. Dalam Rp 400 juta tersebut, ada pembiayaan mini soccer salah satunya.

“Tidak-lah pak. Tidak ada. Itu (informasinya) sudah ditambah-tambah saja. Ada fotonya. Kami punya foto-foto juga,” kilahnya.

“Sudah selesai sekarang pekerjaan mini soccer. Tetap ada penyempurnaan. Seperti rumputnya. Kalau ada (tidak bagus) ya kita ganti,” ujar sang PPK dikonfirmasi via telepon pada Minggu sore 4 Juni 2023. Sumber metrosulteng.com. ***

Proyek APBN Mini Soccer Bandara Mutiara, Diduga Dikerjakan Orang Dalam

 

Dewan masjid

 

Bang Doel (deadline-news.com)-Palu- Pekerjaan mini soccer (lapangan bola mini) tahun 2023 di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Sulawesi Tengah, disinyalir tidak dipihak-ketigakan. Bahkan, diduga pekerjaan mini soccer dikerjakan sendiri oleh internal bandara.

Anwar Hafid

 

Data yang dihimpun Metrosulteng.com media patner deadline-news.com pekerjaan mini soccer bersumber dari APBN 2023.

 

Item pekerjaannya masuk dalam program kegiatan taman dan halaman Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu.

 

“Dari 4 item pekerjaan, diantara pekerjaan mini soccer dan caffe bandara. Mini soccer diduga dikerjakan sendiri pihak bandara,” ungkap sumber media ini yang tahu pekerjaan tersebut.

 

Hal itu dikuatkan informasi dari beberapa narasumber kepada media ini. Saat pekerjaan mini soccer berlangsung, pegawai bandara saling bahu membahu turun tangan mengerjakan.

Mulai dari mengangkat dan menanam rumput, meratakan timbunan, hingga menyiram timbunan dan rumput mini soccer yang baru ditanam. Ada bahkan yang bekerja masih mengenakan baju dinas bandara.

Selain dikerja gotong royong, internal bandara juga meminta support alat berat ke perusahaan yang sedang mengerjakan rehab terminal bandara. Alat berat yang dikerahkan jenis loader.

Dengan bantuan loader, pekerjaan tanah mini soccer saat itu lebih cepat. Sebab, permukaan tanah menjadi rata dan gembur, sehingga lebih mudah ditanami rumput.

“Ada alat berat sebelumnya bekerja, tapi tidak disewa. Alat berat perusahaan yang mengerjakan terminal bandara dimintai tolong,” kata sumber yang menolak disebut namanya soal pekerjaan mini soccer.

Bahkan pekerjaan mini soccer terbengkalai. Belum bisa difungsikan. Rumputnya tidak bagus. Kesannya dikerja apa adanya. Tidak berstandar.

“Hasil pekerjaan mini soccer agak memprihatinkan. Bagaimana mungkin kualitasnya bagus, kalau hanya dikerja secara swadaya pihak internal. Padahal ada anggarannnya,” ujarnya sembari geleng-geleng kepala.

Apa tanggapan pihak Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu? Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pekerjaan mini soccer, Supriyadi, membantah kalau pekerjaan mini soccer dikerjakan internal bandara.

“Dipihak-ketigakan pak. Saya lupa nama perusahaannya. Saya tidak hafal,” katanya berkelit saat ditanya nama perusahaan yang mengerjakan mini soccer.

Termasuk besaran anggaran pekerjaan mini soccer, Supriyadi lupa. Ia tidak tahu persis berapa anggarannya.

Supriyadi hanya menegaskan bahwa pekerjaan mini soccer bukan dikerjakan orang dalam yakni internal bandara.

“Tidak-lah pak. Tidak ada. Itu (informasinya) sudah ditambah-tambah saja. Ada fotonya. Kami punya foto-foto juga,” kilahnya.

Supriyadi akui bahwa anggaran pekerjaan mini soccer bersumber dari APBN tahun 2023.

“Sudah selesai sekarang pekerjaan mini soccer. Tetap ada penyempurnaan. Seperti rumputnya. Kalau ada (tidak bagus) ya kita ganti,” kata sang PPK dikonfirmasi via telepon pada Minggu sore 4 Juni 2023. Sumber metrosulteng.com. ***