Penyintas Korban Bencana, Demo di DPRD Kota Palu, Minta Dibangunkan Hunian Layak

Stefi Sunarto (deadline-news.com)-Palu-Sejumlah penyintas korban bencana alam gempa bumi, likuifaksi dan tsunami yang kini bermukim di kawasan Hutan Kota Palu menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Palu, Jl Moh Hatta, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Selasa (10/2-2026).

Para penyintas sebelumnya tinggal di kawasan Pantai Talise, mendesak pemerintah kota Palu untuk segera membangun hunian layak bagi mereka.

Aksi ini dipimpin oleh Muhammad Raslin bersama Agussalim dari LBH Rakyat, dengan massa yang diperkirakan mencapai 50 orang.

Mereka membawa spanduk serta menggunakan satu yunit mobil pick ap ,yang dilengkapi sound sistem suara pengeras agar semua warga baik para Instasi di pemerintahan siapapun dia kusus nya di sltg bisa dengar suara rakyat yang sedang menuntut hak mereka.

Muhammad Ralin dalam orasinya menegaskan bahwa tuntutan utama mereka adalah pembangunan hunian layak bagi  penyintas bencana yang hingga saat ini masih tinggal di kawasan hunian tetap.

Mereka ini adalah penyintas bencana di tahun 2018 yang dulu tinggal di kota palu Mereka  terpaksa tinggal hidup  ertahan di huntap karena tuntutan utama mereka jsangat elas .

Raslis juga mengkritik masalah  pembagunan di kota paludl dinilai belum bisa mengutamakan kebutuhan mendesak masyarakat.ia menyebut bahwa  anggaran justru banyak di alokasikan untuk pembangunan yang terlalu di perioritas kan, seperti pembangunan patung Garuda senilai Rp 2 Miliar, adapula patung kuda senilai 5 Miliar sementara pembangunan hunian penyintas masih tertunda.

Setelah ada sekitar satu jam , berorasi, Masa aksi barulah dipersilakan masuk oleh sekertaris DPR kota palu untuk berdiskusi lebih lanjut di ruang sidang utama, audensi tersebut diterima langsung oleh ketua DPR kota palu Rico at Djanggola ,bersama anggota DPR lainnya seperti Ratna Mayasari Agan ,Rini Haris, Rusta Tompo,Alfian Chaniago, dan Nanang.

“Kata terakhir bahwa yang mana kami selaku penyintas kota palu Menolak Relokasi Huntara Manboro. Sementara kami mencari penghasilan di kota palu dan tinggalnya juga masih di huntara,”ungkap seorang penyintas atas nama Bu Sri. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top