MUI : Fatwa Larangan Unggah Foto di Medsos Dibahas

Amat (deadline-news.com)-Palu-Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera membahas fatwa mengenai larangan perempuan dewasa dan beristri unggah foto-foto seksi ke media sosial.

Ketua MUI Kota Palu, Prof. Dr. H. Zainal Abidin M.Ag dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja MUI di Mercure Hotel, Sabtu (8/4-2017), menekankan agar lembaga ummat tersebut segera membahas fatwa larangan perempuan mengupload foto-foto yang menampilkan auratnya.

“Sebelumnya MUI telah menduga bahwa ada muatan haram ketika foto-foto perempuan dewasan dan beristri di upload ke media sosial seperti facebook dan sebagainya,” ungkap Prof. Zainal Abidin.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu itu menekankan agar rapat kerja MUI harus segera menyusun rencana kerja untuk membahas hal itu yang menjadi salah satu sumber atau penyebab perempuan mendapat perilaku kekerasan psikis, mental dan seksual.

Pakar Pemikiran Islam modern itu menegaskan perempuan, khususnya mereka yang beragama Islam mengupload foto menampilkan aurat atau sengaja memamerkan kecantikan wajahnya merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Karena, kata dia, Islam tidak membenarkan perempuan dewasa dan telah bersuami atau berstatus istri memamerkan kecantikan wajahnya untuk dilihat oleh semua orang lewat media sosial.

Bahkan, sebut dia, Islam secara tegas melarang keras perempuan memamerkan auratnya kepada yang bukan muhrimnya atau kepada yang bukan berhak melihat.

“Akhir-akhir ini semakin banyak perempuan baik yang berstatus istri atau yang sudah bersuami dan belum bersuami semakin rajin memamerkan wajahnya, tubuhnya, bedaknya atau mickup di facebook,” katanya.

Ia menghimbau agar perempuan dewasan dan beristri di Kota Palu dan Sulawesi Tengah untuk berhenti dan tidak lagi melakukan kebiasaan tersebut, dikarenakan lebih memberikan dampak yang buruk.
“Hal itu dapat menjadi sumber terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, bahkan berdampak pada perceraian karena ada dugaan selingkuh dan sebagainya,” urainya.

Berdasarkan Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palu mencatatkekerasan terhadap perempuan dan anak tahun 2009 terjadi 137 kasus kekerasan terhadap perempuan, tahun 2010 sebanyak 125 kasus, dan tahun 2011 sebanyak 126 kasus.

Selanjutnya ditahun 2012 terjadi 197 kasus, tahun 2013 sebanyak 212 kasus, 2014 sebanyak 182 kasus, tahun 2015 terjadi 132 kasus kekerasan hingga bulan November.

Sementara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulteng berdasarkan data yang dimilikinya menyebutkan kekerasan terhadap perempuan tahun 2015 mencapai 117 kasus dan tahun 2016 305 kasus kekerasan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *