Berkuda Di Hutan Pinus

“Ke Indahan Alam MALINO, Anugerah ALLAH SWT, Sejarah Pernah Dihuni Penjajah Belanda”

 

Foto saat berkuda, hutan pinus, bunga dan kebun teh di Malino. Foto Azka/deadline-news.com

Hari itu Senin sore (23/3-2026), sekitar pukul 17:30 wita, 2 hari pasca hari Idul Fitri 1447 hijjriah, Wisata alam Malino Kecamatan Tinggimoncong (Puncak Gunung) terlihat ramai dikunjungi oleh para penikmat destinasi alam.

Ratusan kendaraan bermotor baik sepeda motor maupun mobil hilir mudik dari berbagai daerah di Indonesia. Ada dari Sulut, Sultra, Gorongtalo, Sulteng, Sulbar dan lokal Sulsel. Bahkan ada dari luar Sulawesi.

Adalah Hutan Pinus Malino objek wisata alam populer di Kecamatan Tinggimoncong di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu yang menawarkan hamparan pohon pinus rindang dengan udara sejuk penuh pesona.

Hutan pinus ini terletak di dataran tinggi, kawasan ini memiliki suhu dingin, berkabut di pagi, sore hingga malam hari, dan tidak kalah dari negeri di atas awan tanah toraja.

Hutan pinus ini menjadi favorit untuk berkemah, berkuda, serta sersua foto keluarga, handai tolan dan mitra bisnis strategis, terutama saat akhir pekan.

Saya bersama keluarga kebetulan mudik idul Fitri dari Palu ke Lombo (kampung halamku Pattinjo), Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang provinsi Sulsel.

Pasca sehari lebaran tepatnya Minggu (22/3-2026), kami bergegas dari Lombo Pinrang ke Makassar.

Karena sudah larut malam tiba di Makassar dengan niat terus ke Jeneponto dan Bantaeng menziarahi kuburan leluhur Kami diantaranya Kakek almahrum Ibnu Saud Karaeng Sudding dan Kerabat lainnya, namun karena hujan deras, istri dan anak-anak saya menawarkan mampir istirahat di Maros perbatasan Makassar dekat pintu masuk bandara Sultan Hasanuddin. Kebetulan juga sudah agak mengantuk.

Mampir disalah satu penginapan murah meriah di “pintu masuk” batas kota Makassar – Maros, namun nyaman untuk istirahat sejenak sebelum lanjut ke tempat tujuan utama.

Namun disaat pagi tiba, tepatnya pukul 8:15 wita, kami bangun, sambil ngobrol, pikiranpun berubah “kita mampir dulu berwisata alam di Malino, soalnya sudah lebih dari 10 tahun kita tidak pernah berwisata ke Malino,”kata Istri saya dan di iyakan oleh dua putri kami.

Okelah, kita mampir dahulu berwisata di datara puncak gunung Malino yang menawarkan “kesejukan, keindahan alam dan kedamain jiwa,”jawabku ke istri dan anak-anakku.

Kurang lebih 6 jam perjalanan dari Makassar ke Malino, akibat terjebak macet sepanjang jalan sejak memasuki ruas jalan bilibili Malino. Padahal biasanya ditempu 3 jamaan.

Apalagi setelah menanjak dari Bendungan Bilibili ke Malino kendaraan padat, ruas jalan sempit, sebagian berlubang-lubang dan ada beberapa titik longsor kecil, akibat hujan deras setiap hari semakin membuat antrian makin panjang dari kedua arah yang berlawanan.

Apalagi sejak Sabtu, Minggu hingga Senin dan selasa (21,22, 23 dan 24 Maret 2026, ternyata penikmat wisata alam hutan pinus Malino sudah ramai berdatangan.

Ada yang datang dan ada juga yang pulang, karena sudah tiga hari menikmati liburan bersama keluarga di wisata alam hutan pinus, kebun teh, strowberry Malino itu.

Selain hutan pinus yang diselimuti awan dan udara sejuk di pagi, siang, sore hingga malam hari (2X24 jam), wisata alam Malino juga menawarkan air terjun Takapala, Lembanna, permandian Lembah Biru, perkebunan teh, strowberry, Manggis, Markisa, Jagung manis dan bunga.

Malino, yang dijuluki “Kota Bunga” di Sulawesi Selatan itu, memiliki ragam bunga indah, terutama di kawasan Malino Highlands.

Jenis bunga yang populer antara lain krisan, hydrangea (bunga masamba), matahari, lavender, kamboja, bunga sepatu, hingga sakura Jepang. Bunga-bunga ini mekar dan mempercantik kawasan dataran tinggi yang sejuk itu.

Wisata alam puncak Malino ini juga menawarkan transportasi tradisional seperti kuda. Berkuda di bawah pohon Pinus yang rindang, berkeliling laksana jaman Kejaraan membuat anak-anak, pasangan remaja, dewasa dan orang tua senang, riang dan gembira.

Lokasi wisata alam hutan pinus, kebuh teh, Manggis, Markisa, air terjun dan permandian ini terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, sekitar 70-90 km dari Kota Makassar atau sekitar 3 jam perjalanan, dikenal juga sebagai dataran tinggi atau “Puncak”-nya Sulawesi Selatan.

Keindahan Alam Hutan Pinus ini merupakan hutan homogen subur dan rindang dan tempat-tempat wisata alam lainnya, saat musim hujan, suhu bisa mencapai antara 18 – 22 deajat celcius.

Pengunjung bisa melakukan aktivitas berkuda, berjalan-jalan, berkemah, berfoto di spot instagramable, serta berwisata kuliner khas seperti jus markisa, dodol, cendol, coto khas Makassar dan aneka jenis panganan lainnya.

Fasilitas alam yang tersedia di puncak malino yang dijuluki “kota Bunga) ini, terdapat area perkemahan, area menembak, taman bermain anak, dan sering digunakan untuk kegiatan organisasi atau komunitas.

Hutan Pinus Malino ini bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga berfungsi sebagai kawasan penyerapan air, menjadikannya kawasan yang asri dan terjaga kelestariannya.

Dikutip dari berbagai referensi di google, Hutan Pinus Malino ini sudah dihuni manusia setidaknya sejak masa pemerintahan kerajaan Gowa sejak abad ke 14.

Masa Kerajaan Gowa (Abad ke-14), Kawasan yang meliputi sembilan kasuwiang (wilayah adat) di Malino sudah ada dan utuh sejak masa pemerintahan Raja Gowa pertama, Tumanurunga, sekitar tahun 1320.

Sebelum hutan Pinus Malino ini dikenal dengan disebut Lapparak (artinya dataran).

Pada masa Penjajahan Belanda, Malino mulai berkembang pesat dan populer sebagai tempat peristirahatan bagi pegawai pemerintah kolonial Belanda, terutama setelah Gubernur Jenderal Caron menjadikannya sebagai lokasi peristirahatan pada tahun 1927.

Sebagai kawasan pegunungan yang subur dan sejuk, Malino adalah Anugerah Allah SWT telah lama menjadi pemukiman masyarakat, yang kemudian dikembangkan menjadi pusat wisata alam dan bukti sejarah bahwa pernah dihuni koloniel penjajah Belanda di Sulawesi Selatan.

Di kawasan wisata alam hutan pinus, kebun teh dan strowberry itu tersedi puluhan villa, hotel dan penginapan dengan harga terjangkau mulai dari harga Rp, 250 ribu perkamar hingga 1 jutaan perkamar dan dapat dihuni 4 orang perkamar. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top