Sore itu Minggu (30/8-2026) secara tidak sengaja saya membuka istgram dan face book, saya melihat beberapa postingan dan status lewat berandaku.
Saya kaget bukan kepalang, karena dua tokoh politisi nasional asal daerah saya yang saya kenal selama ini sering berbagi cerita kemesraan dan kebahagiaan di media sosial baik face book, istagram maupun tiktok, tiba-tiba ada kalimat yang saling menyidir antara satu sama lain itu, apalagi mereka suami istri.
Kedua tokoh itu selama ini saya kagumi, karena selain gemar berbagi juga sering kali memosting momen kebahagiaan mereka dimanapun berada baik saat liburan maupun ketika beribadah Umroh di tanah suci mekkah.
Sebab saya terlanjur telah mengikuti “Sunna” Rasul. Padahal saya sudah menahan diri, namu takdir berkata lain, sebab Jodoh, Rezeki dan Maut sudah diatur oleh sang Khaliq. Sekalipun saya hanya mau bermono gami, tapi kenyataannya berpoligami.
Kawanku punya teman itu adalah seorang kaya raya dari daerahku dan politisi nasional, terlihat bahagia dari luar, tapi ternyata tidak bahagia. Makanya tidak heran jika temanku punya teman itu mencari kebahagian diluar dengan kecantol dan menikahi gadis berdarah Cina Manado itu.
Sebenarnya secara publik tidak ada masalah, karena tidak merugikan publik, paling-paling anak dan istrinya yang “keberatan dan marah”. Tapi sudah itulah resiko laki-laki yang berani berpoligamy.
Ditinggalkan atau meninggalkan istri pertama.
Apalagi jika selama ini merasa tidak mendapatkan perhatian, kasih sayang dan cinta dari istri pertama. Sebagai laki-laki normal tentunya butuh perhatian, kasih sayang dan kemesraan didalam rumah tangganya.
Dalam ajaran Islam berpoligamy hal biasa (baca surah Annisa-Al-Quran) yang penting mampu berlaku adil. Tapi tentunya mendapat restu dari istri pertama.
Kendati demikian di Indonesia tidak lah ada istri yang rela berbagi suami dengan wanita lain. Bahkan rela “bercerai” jika mengetahui suaminya menikah lagi (berpoligamy). Bersambung..



















