Sakit Se Isi Rumah

foto kopi pahi Bang Doel/deadline-news.com
0

 

Oleh Andi Attas Abdullah

Pendemi covid19 belum berlalu walau sebagian besar rakyat Indonesia telah divaksin.

Gejala virus asal Wuhan China itu hampir sama dengan penyakit demam biasa yang ada sejak dulu.

Hanya saja bedanya, jika terinfeksi virus corona penciuman hilang, terjadi pengentalan lendir yang dapat menimbulkan sesak nafas.

Tapi gejala umumnya hampir sama dengan penyakit orang-orang terdahulu yakni demam, batuk-batuk, bersin-bersin, flu, pilek, ngilu-ngilu seluruh persendian dan tulang-tulang dan panas serta dingin naik turun.

Dan celakanya lagi penyakit ini menyerang se isi rumah. Artinya penyakit ini tidak turun dari rumah (hilang) sebelum menjangkiti se isi rumah.

Hal ini kami alami sekeluarga. Awalnya Indoku (Ibuku) mengalami sakit, flu, demam, pusing, panas dan dingin, sehingga harus diinfus beberapa botol cairan.

Karena nafsu makannya menurun. Terkadang hanya makan 2 atau 3 sendok bubur, Ibuku sudah merasa kenyang dan daya tahan tubuhnya menurun drastis.

Begitupun dengan gulanya, sesuai hasil pemeriksaan tenaga kesehatan yang merawatnya di rumah.

Menurut Indoku (Ibuku) Hamida penyakit yang menyerupai Covid19 saat ini sejak dahulu kalah sudah ada. Dan akan sembuh sendiri dalam jangka waktu 2 sampai 4 mingguan.

“Yang penting rajin mengkomsumsi air hangat, makan teratur, minum obat dan vitamin Insya Allah cepat sembuh. Tapi orang dulu menggunakan bawang, kunyit dan air putih untuk pengobatan penyakit menular menyerupai covid19 saat ini,”ujar Hamida.

Hal senada juga dikatakan H.Sere, Munta’a dan Hanasia yang sekampung dengan Ibu saya di dusun Lombo Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan.

“Kami juga se isi rumah sakit, demam, panas tinggi, menggigil, pusing, sakit kepala, hilang penciuman, batuk-batuk, beringus, bersin-bersin dan malas makan. Kami hanya menum obat tradisional bawang, kunyit dan air putih yang sudah di doa-doakan oleh dukun di kampung yang sudah turun temurun mengobati keluarga kami dan dibantu obat dari Pustu setempat,”jelas Hanasia.

Awal Agustus 2021 saya mendapat kabar dari adik saya Andi Hartono bahwa Indoku (Ibu Kami) jatuh sakit setelah sekitar 8 hari kami tinggalkan dari Kampung Lombo dan kembali ke Palu Sulteng.

Mendengar kabar sakitnya Ibuku itu, kamipun sekeluarga bergegas meninggalkan Palu menuju Lombo Pinrang Sulsel untuk melihat dan merawat Ibuku yang sudah rentah dengan umur kurang lebih 80an tahun yakni tahun kelahiran (1940-2021).

Kurang lebih seminggu kami merawat Ibuku bersama adik-adikku, Istriku dan anak-anakku. Setelah sebelumnya mendapat perawatan intensif dari adik saya yang bertugas di Dinas kesehatan.

Walau kondisi kesehatan Ibu kami itu mulai pulih, namun karena faktor usianya yang sudah menua, sehingga daya tahan tubuhnya masih lemah dan hanya mau mengkomsumsi bubur dengan lauk ikan dan air sayur. Dan minum se gelas susu kental manis setiap habis makan.

Celakanya, saya, Istri dan 3 orang anak-anak ikut sakit di dalam rumah Ibuku. Badan terasa panas dingin, malas makan, batuk-batuk, flu, dan bersin-bersin. Syukurnya penciuman tidak hilang.

Kurang lebih 2 minggu kami se keluarga mengalami demam, flu, batuk-batuk, bersin-bersin, beringus, daya tahan tubuh menurun, kepala sakit dan pusing. Namun lendir (Ingus) tidak kental, tapi hidung terkadang mampek (tersumbat) pernapasan kurang lancar di hidung.

Air jeruk panas dicamput jahe dan daun pepaya kami komsumsi kurang lebih 3 hari berturut-turut serta dipadu dengan vitamin, antibiotik dan paracetamol, sehingga kondisi kesehatan mulai pulih kembali.

Andaikan ditracing mungkin dianggap atau dicap positif covid19 se isi rumah. Tapi karena di kampung dan mengikuti tradisi yang ada di kampung itu, sehingga kami hanya di dalam rumah saling menguatkan, saling merawat satu sama lain sambil mengkomsumsi makanan yang bergizi.

Dan pada akhirnya kondisi kesehatan kami setelah se isi rumah terserang sakit, flu, demam, panas dingin, batuk-batuk, bersin-bersin, beringus, sakit kepala dan pusing sembuh semua.

Mungkin faktor cuaca yang membuat penyakit itu timbul. Sebab sudah beberapa bulan terakhir ini hujan deras mengguyur.

Bahkan kurang lebih 3 minggu hujan tak pernah berhenti di kampung tempat tinggal ibuku itu.

Kami patuh terhadap protokol kesehatan, yakni selalu memakai masker baik didalam maupun diluar rumah, menjaga jarak, sesering mungkun mencuci tangan dengan sabun dan air bersih serta tidak mendekati kerumunan atau pesta-pesta, tapi masih saja kena penyakit yang menyerupai covid19. Bahkan kami sudah divaksin 2 kali.

Semoga saja covid19 ini segera berlalu, setelah rakyat Indonesia sudah divaksin semua, dan tetap mematuhi protkes. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: