Saadiah Lahay Mengakui Uang Ditransfer ke Rekeningnya oleh H.Asep, Tapi Bohong Kalau Rp,200 juta

 

“Begini Ceritanya”

Gub Sulteng H.Risdy Mastura

Bang Doel (deadline-news.com)- Saadiah Lahay yang diduga mempertemukan PLT Kadis Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulteng Ir.Basir Tanase dengan Ir. H. Asep Rony Noorhidayat, mengakui uang di transfer ke rekeningnya oleh H.Asep.

Hanya saja nilainya tidak sampai Rp,200 juta seperti yang disebutkan H.Asep didalam berita laporannya ke Polres Tasikmalaya Jawa Barat.

Anwar Hafid

“Memang ada uang biaya akomodasi, transportasi dan konsumsi (operasional) dari pak H.Asep sebesar Rp,100 juta, bukan Rp, 200 juta. Bohong besar itu H.Asep kalau sampai dia bilang Rp, 200 juta. Karena hanya biaya akomodasi dan transportasi untuk kami beberapa orang,”aku Saadiah menjawab konfirmasi deadline-news.com Minggu sore (26/3-2023) via telepone di aplikasi whatsAppnya.

Himbauan iuran sampah

Menurutnya sejak meninggalkan Palu ke Jakarta awalnya diajak oleh Sabaruddin itupun sempat ditolaknya.

Dewan masjid

Alasannya karena tidak mempunyai biaya ke Jakarta dan kalau kontraktornya mau dan butuh pekerjaan dia yang ke Palu.

Syarifuddin Hafid

“Saya bilang ke pak Sabaruddin ngapai kita ke Jakarta, boro-boro ke Jakarta di Palu saja kita kesulitan biaya,”jelas Saadiah.

Hendri Muhidin

Saadiah menceritakan, awalnya di Palu tidak tau jalan, lalu ketemulah pak Sabaruddin yang kebetulan sama-sama pengurus disalah satu partai politik.

“Karena saya tidak tahu jalan di Palu sementara pak Sabaruddin tidak mempunyai kendaraan, maka cerita-ceritalah kami, untuk mencari-cari pekerjaan penunjukan langsung (PL) di Dinas-dinas.

Cerita saya itu disahuti pak Sabaruddin sehingga singkat cerita jalanlah kami berdua dengan mengendarai sepeda motor saya ke Dinas Binamarga dan Penataan Ruang dan ketemulah kami dengan pak Kadis Basir Tanase.

“Sebenarnya saya belum kenal baik pak Basir, tapi pak Sabaruddinlah yang perkenalkan saya dengan beliau. Dalam pertemuan kami dengan pak Basir saya utarakanlah niat saya untuk minta paket PL saja,”ujarnya.

Lalu pak Basir meresponnya dan mengatakan kebetulan ada lima (5) paket, diantaranya, paket Tunusu dan Beteleme, pilihlah beberapa paket, tapi nilainya besar dan harus ikut lelang, sehingga kami katakan ke pak Basir kami tidak sanggup dengan paket itu.

Pak Basir menyarankan cari kontraktor yang bonafide nanti dibantu ringankan prosesnya. Tapi saya katakan ke pak Basir kenapa bukan kontraktor lokal saja pak yang diajak.

“Jawab pak Basir kontraktor lokal tidak bagus kerjanya,”kata Saadiah menirukan pak Basir.

Saadiah menerangkan bahwa pembicaraan antara pak Kadis Basir saat itu yang berperan pak Sabaruddin. Maka setelah beberapa kali pertemua maka disepakatilah cari kontraktor bonafide di Jakarta.

Saadiah menceritakan waktu itu pak Kadis Basri Tanase bilang ke kami, ‘ini ada 5 paket proyek, kalau kamu punya kontraktor yang betul-betul bonafide kamu kasi. Lalu pak Sabar bilang ada pak. Kemudian pak Kadis bilang, kalau ada, ok saya akan berikan HPS, KK, RAB dan BQ nya. Tapi karena waktu itu masih sibuk pak Kadis, sehingga belum diberikan HPS dan BQ, KK dan RABnya, maka kami diminta membeli flesdics untuk mengcopy HP,BQ,KK dan RAB yang dijanjikan pak Kadis itu.

“Setelah itu, pak Sabar bilang ke saya, ada kontraktor bu, saya bilang ok, kalau ada, pertemukan kami di Palu, tapi kata pak Sabar, kontraktornya tidak mau ketemu di Palu maunya di Jakarta dan kontraktornya katanya sanggup membiayai akomodasi dan transportasi kami ke Jakarta,”akunya.

Sehingga saya dan pak Sabaruddin ke Jakarta bersama pak Amir.

Saadiah mengatakan dengan modal Rp, 1,5 juta Mereka ke Jakarta, itupun separuh ditinggalkan untuk putrinya, Rp,500 ribu untuk pak Amir dan sisanya untuk biaya perjalanan, makan dan minum.

Sesampai di Jakarta, mereka dijemput oleh pak Muh.Artur Uga dan diinapkan di wisma Delima di jalan Kebun Kacang IX Jakarta.

“Sekitar 5 hari kami di Jakarta, lalu ketemulah pak Ramli. Kemudian pak Ramli mempertemukan dan memperkenalkan dua orang kontraktor bernama pak Dadang dan Pak Nanang. Kedua kontraktor itu sempat menanyakan ke kami, apakah Ibu ini perwakilan pak Kadis? Lalu saya jawab bukan, kami hanya disuruh pak Kadis mencari kontraktor bonafide. Saat itu pak Amir mengaku PPK/PPTK dari Dinas Binamarga yang akan menjelaskan secara teknis proyek tersebut dan meyakinkan calon rekanan itu. Dalam pertemuan itu kami membicarakan soal proyek, namun pak Dadang dan Pak Nanang mundur karena ada pensyaratan harus ada deposit uang jaminan 20 persen di rekening kontraktor dari nilai anggaran proyek yang akan dilelang itu,”jelas Saadiah.

Memasuki dua minggu di Jakarta, melalui pak Ramli memberi kabar bahwa ada kontraktor lain mau ketemu.

Kami disuruh siap-siap dan akan ketemu disalah satu rumah makan sekitar pukul 9 pagi waktu Jakarta.

Namun kontraktor yang dimaksud tidak kunjung datang, maka dijadwalkan kembali pertemua sore harinya hingga malam di salah satu hotel didepan wisma Delima tempat kami menginap.

Saya belum tahu kontraktor yang dimaksud. Karena memang saya tidak kenal, baik itu pak Dadang, Nanang maupun H.Asep.

“Lalu datanglah Ir. H. Asep kemudian bertemulah kami. Singkat cerita dalam pertemuan itu saya disuruh bergeser kebelakang, lalu merekalah berbicara yakni pak Ramli, pak Amir, pak Sabar dan pak Artur. Dalam pertemuan itu saya mendapat kabar duka  bahwa adik kami meninggal dunia di Makassar Sulsesl. Jadi kami bilang ke pak Ramli bahwa adik saya meninggal dunia, jadi saya mau segera pulang. Dalam persiapan pulang itu, H.Asep mengatakan belum tersedia uang direkeningnya, sehingga kami hanya diberikan sebanyak 10 juta rupiah untuk biaya transportasi dan biaya penginapan selama kami di Jakarta. Karena biaya penginapan belum kami bayar, dan pak Sabar masih tinggal dipenginapan itu sambil menunggu penyelesaian pembayaran. Untuk uang sisanya H.Asep meminta nomor rekening saya, sayapun memberikannya,”tutur Saadiah.

“Dan setelah kami sampai di Palu, H. Asep transfer lagi 50 juta kemudian 40 juta, jadi total keseluruhan adalah Rp 100 juta, bukan Rp 200 juta. Tapi uang tersebut bukan uang tanda jadi proyek atau uang deposit, tapi biaya operasional dan akomodasi dan transportasi kami sebagaimana yang disampaikan pak Sabar dan Pak Aftur ke saya,”ungkapnya.

“Setelah itu, proyek dilelang tapi karena perusahaan pak Asep ternyata tidak sesuai, tidak memenuhi syarat untuk ikut, maka dinyatakan kalah. Karena SMPnya tidak punya izin yang dari Gorontalo,”ujarnya.

Menurutnya setelah dua paket proyek itu dilelang dan Asep kalah, maka pak Kadis Basir Tanase mengarahkan lagi ikut tender di paket lain. Tapi lagi-lagi gagal karena yang disyaratkan tidak lengkap.

Dikutip di nasional.id Saadiah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah memutus komunikasi kepada H. Asep sebagaimana yang disebutkan H. Asep dalam berita sebelumnya dengan judul “Plt Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Sulteng Dipolisikan Dugaan Kasus Penipuan, ini Kronologinya”.

“Fitnah itu pak, karena sampai detik ini saya masih berkomunikasi dengan pak Asep, baik via telpon maupun via pesan WhatsApp,” ujar Saadiah seperti dikutip di nasional.id, Sabtu malam (25/3-2023).

Dia juga menepis telah menerima uang Rp, 200 juta dari H. Asep sebagai deposit atau tanda jadi dua paket proyek yang akan di lelang di Sulawesi Tengah sebagaimana pernyataan H. Asep dalam berita itu.

“Maaf pak, kami tidak pernah mengambil uang Rp, 200 juta ya pak, dan minta maaf pak, saya tidak kenal dengan pak Asep waktu itu yang saya tahu adalah pak Sabar dan pak Aftur,” papar Saadiah.

Sementara itu, Ramli yang dikonfirmasi membenarkan telah bertemu dengan ibu Saadiah, pak Sabar, pak Aftur dan pak Amir di Jakarta.

Tapi, kata Ramli, dirinya tidak pernah membangun komitmen dengan pak Sabar dan pak Artur bahwa akan menanggulangi biaya akomodasi dan transportasi bila Saadiah ke Jakarta bertemu dengan dirinya.

“Tidak pernah, saya tidak pernah berjanji akan memberikan mereka biaya ke Jakarta. Jadi begini, beberapa tahun lalu, pak Artur berutang proyek pengadaan dengan kami. Lalu pada suatu hari pak Artur nelpon menawari kami proyek, tapi proyek fisik jadi kami tolak karena perjanjian kami adalah pengadaan bukan fisik,” aku Ramli.

“Tapi karena pak Artur mendesak, maka saya panggilkan kontraktor yang biasa kerja fisik, lalu saya mempertemukan mereka dengan kontraktor atas nama H. Asep. Ada dua kontraktor yang saya pertemukan dengan mereka, salah satunya adalah H. Asep ini,” papar Ramli.

Dalam pertemuan itu, lanjut dikatakan Ramli, pak Amir mengaku ke H. Asep bahwa dirinya adalah PPK merangkap sebagai PPTK pada proyek yang akan diberikan, dan pak Amir mengaku bahwa kedatangannya ke Jakarta bertemu dengan kontraktor adalah mewakili pak Kadis Basir Tanase.

“Kemudian pak Amir, pak Sabar, dan pak Artur terus melobi dan meyakinkan H. Asep agar ikut lelang, saking yakinnya pak Kadis akan memenangkan H Asep dalam lelang tersebut, mereka berani menyerahkan HPS, BQ, KK, dan RAB proyek tersebut ke saya untuk diberikan kepada H. Asep agar H. Asep ikut lelang,” urai Ramli.

“Akhirnya H Asep yakin dan bersedia ikut lelang dengan ketentuan harus menang, dan mereka iyakan bahwa H. Asep pasti menang. Diberikanlah mereka uang sebagaimana yang mereka minta dari H. Asep. Singkat cerita, pengumuman lelang keluar dan ternyata H. Asep dinyatakan kalah, melaporlah H. Asep karena merasa ditipu dan telah rugi ratusan juta rupiah,” pungkas Ramli.

Mantan pelaksana tugas (PLT) Kepala Dinas Binamarga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah Ir.Basir Tanase akan menuntut balik terhadap laporan
Ir. H. Asep Rony Noorhidayat.

Pasalnya laporan Asep terhadap dirinya dengan tuduhan dugaan penipuan Rp, 200 juta atas dua paket proyek di Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang itu masuk ranah penceraman nama baik.

“Pak Aseep itu hanya sekali saya ketemu mana berani kadis memastikan pemenang siapa pun kadis dan di dinas apa pun tidak akan berani memastikan pemenang lelang, karena yang menentukan adalah pokja atau panitia lelang bukan Kadis,”kata Basir Tanase menjawab konfirmasi deadline-news.com via chat di aplikasi whatsAppnya Minggu (26/3-2023).

Kata Basir, pak Asep benar minta bertemu hanya kurang lebih 10 menit dan hanya sekali itu.

“Dan akan saya tuntut balik pencemaran nama baik karena saya tidak ada transaksi apa pun dengan Pak Asep,”tulis Basir.

Semengara itu sebelumnya telah diberitakan pak Amir PPK/PPTK yang disebut-sebut Ir. H. Asep Rony Noorhidayat warga Kota Tasikmalaya, Jawa Barat terlibat dalam dugaan konspirasi penipuan dua paket proyek di Dinas Binamarga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, mengaku kenal dengan H.Asep.

Menurut Amir, Ia kenal Asep melalui beberapa orang rekan-rekan ibu Saadiah Saat itu Asep diperkenalkan ke dirinya karena Asep berkeinginan mau ikut masuk pelelangan proyek paket jalan yang ada di Sulteng.

Amir mengaku sebatas menjelaskan secara teknis adanya paket tersebut. Dan disinggung soal adanya setoran Rp,200 juta dari Asep, Amir mengaku tidak tahu sama sekali.

“Waalaikumsalam… sy Kenal melalui beberapa orang rekan2 ibu Sadia. Saat itu di perkenalkan karna Pak Asep berkeinginan masuk Pelalangan Paket Jalan yg ada di Sulteng dan sy menjelskan teknis adanya paket tersebut. Dan sy hanya sebatas itu. Masalah menyangkut nominal 200jt sy samasekali tdk mengetahuinya. ????????,”tulis Amir menjawab konfirmasi deadline-news.com Minggu (26/3-2023) via chat di aplikasi whatsAppnya.

Informasi yang dihimpun deadline-news.com Amir bukanlah PPK/PPTK dua paket yang diincar Asep senilai
Rp, 68 m dan Rp, 48 m, lalu kenapa bisa Amir yang mehendel saat pertemuan dengan Asep?

Amir mengakui memang bukan dirinya PPK/PPTK pada dua paket yang diincar Asep. Tapi sebatas menjelaskan secara teknis dan membenarkan paket itu ada.

“Sy bukan pptk pada paket tersebut sy di bagian jbt. Sy cuma menjelaskan kalau benar paket itu adanya. Dan sy ke jkt bukan semata untuk pertemuan itu mengunjungi keluarga. Hanya meyakinkan kalau paket itu benar adanya. Untuk masalah setoran yg di maksud sy tdk menhetahui kepada siapa pak asep memberikan dan berapa nominalnya. Sy baru mengetahui ada setoran dari pak asep melalui adanya pemberitaan media,”aku Amir.

Disinggung apakah diminta atau disuruh oleh PLT.Kadis Bina Marga dan Penataan Ruang Basir Tanase untuk menemui Asep ketika itu? Amir mengatakan tidak.

“Sy tdk diminta khusus oleh p kadis utuk hal ini. Waktu ke jkt sy mau pamit izin ke pak kadis tapi beliau sdh di jkt. Tapi setelah di jkt sy ketemu beliau sy sampaikan mohon maaf sy menemui keluarga di jkt dan sy bantu ibu sadia hanya menjelskan paket itu memang ada. Dan pak kadis sampaikan tdk apa2 dan siapa saja boleh menawar pekerjaan,”jelas Amir.

Ditanya apakah bapak hadir bersama di dalam ruangan pak PLT Kadis Bina Marga dan Penataan Ruang Basir Tanase saat pertemua bersama Asep didampingi putranya dengan Ibu Sadia?

Jawab Amir, dirinya ada di kantor, tapi tidak ikut menyertai didalam ruangan pak PLT Kadis, karena ada urusan lain.

“Waktu Pak Asep Ketemu Pak Basir. Sy ada karna jam kantor tapi tdk bersama mereka di dalam. Sy dgn urusan tugas kantor tersendiri,”jawab Amir.

Ditanya apa peran Ibu Saadiah di Dinas Bina marga dan penataan ruang, sampai bisa menawarkan proyek di Binamarga ke pak Asep. Apakah ibu Broker proyek sampai bisa menghubungkan kontraktor ke pihak Dinas Bina marga termasuk ke bapak Amir dn pak Basir?

Jawab Amir, menurut ibu saadiah pengakuanya dia kontrktor kecil hanya kadang mendapatkan paket PL. Untuk menawarkan paket2 besar ke kontraktor lain sy tdk mengetahui adanya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top