Pagi itu Kamis (6/8-2026), saya berangkat dari Palu tujuan Jakarta dengan menumpang pesawat batik air untuk menghadiri tahlilan ke tujuh harinya almahrum Paman Saya Sersan Purnawirawan TNI Moh.Syahrir Karaeng Siama di Depok.
Almahrum Paman saya Syahrir Karaeng Siama itu adalah salah seorang dari anggota komando pasukan khusus tim pembebasan Timutimor gelombang kedua pada jaman pemerintahan orde baru Jendral Purnawirawan TNI almahrum Muh.Soeharto.
Dari Palu pukul 7:00 wita ke Jakarta. Jarak tempu Palu ke Jakarta kurang lebih 2 jam. Sekitar 30 menit diatas udara, awak kabin batik Air yang dikapteni Abimanyu itu menyuguhkan ke para penumpang, ternasuk saya sebuah roti berisi cokelat terbungkus platik bening dengan merek lion air dan satu gelas air mineral bertuliskan batik.
Saat roti dan air mineral dalam kemasan gelas platik itu saya pegang, saya langsung teringat dengan makanan bergizi gratis (MBG) di sekolah anak saya. “Ternyata di dalam pesawat Batik Air ini ada juga MBG ya”gumamku dalam hati sambil tersenyum dan mengingat anak-anakku di Sekolahnya.
Hanya saja bedanya kalau MBG di Sekolah anak-anak saya menggunakan wadah (omprengan) yang pengadaannya diduga di korupsi oleh seorang anggota Polri berpangkat bintang satu (Brigjen Pol) yang saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) beberapa waktu lalu.
Penetapan bintang satu anggota Polri itu sebagai tersangka dalam proyek pengadaan omprengan MBG itu ternyata mabes Polri “tersinggung” karena jajaran Mabes Polri juga mengelola dapur MBG.
Sehingga diduga ada “balas dendam” tim khusus pemberantasan korupsipun di Mabes Polri menggeledah rumah kediaman dan sejumlah tempat milik bintang tiga di Kejagung yakni mantan Jaksa muda tindak pidana khusus (Jampidsus) Ferbrie Ardiansyah yang menangani perkara-perkara korupsi besar.
Dibalik penggeledahan kediaman Febrie Ardiansyah itu, tim khusus pemberantasan korupsi bentukan Presiden ke 7 Joko Widodo itu menemukan uang tunai dalam berbagai mata uang, mulai dari rupiah hingga dollar amerika serikat dan dolar Singapur yang totalnya kurang lebih Rp, 500 miliyar ditambah 74 kilogram Emas Murni Batangan.
Terbongkarnya aparat penegak hukum (APH) terlibat korupsi dengan “menggunakan kekuasaannya” itu berawal dari kasus dugaan korupsi anggaran MBG di badan gizi nasional (BGN) yang melibatkan Dadan, Sony dan Ledewik.
Kerugian negara atas dugaan korupsi di jejaring BGN – MBG itu katanya mencapai Rp, 2 triliun dari total anggaran negara (APBN) kurang lebih Rp, 300 triliun.
Sebenarnya urusan ketersediaan makanan bergizi bagi anak-anak bangsa ini adalah kewajiban dan tanggungjawab orang tua masiang-masing.
Artinya sebagai orang tua berkewajiban
memenuhi kebutuhan makanan yang bergizi bagi anak-anaknya atau keluarganya. Lalu bagaimana cara mendapatkan asupan makanan bergizi itu bagi orang tua untuk keluarganya?
Jawabnya tentu butuh pekerjaan yang layak untuk mendapatkan upah layak, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Artinya pemerintah (Negara)lah yang bertanggungjawab atas pekerjaan yang layak bagi seluruh masyarakatnya untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. ***




















