Sabtu pagi sekitar pukul 10:10 wita, menuju kota Tarakan dengan menumpang Lion Air melalui Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri ke Bandar Udara International Sultan Hasanuddin di Maros Makassar Sulsel.
Palu ke Makassar ditempu kurang lebih 1 jam 20 menit. Sekitar pukul 11: 30 wita pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandar Udara Sultan Hasanuddin.
Sekitar 144 penumpang termasuk awak kabin dan Pilot berada dalam pesawat yang saya tumpangi itu.
Kata kawanku punya teman, walau kita sebangsa dan setanah air, sepertinya tidak kenal satu sama lain didalam pesawat ini, terkecuali yang memang rombongan keluarga, sanak saudara dan handai tolan.
Para penumpang duduk tenang sepanjang penerbangan setelah mendapatkan arahan dan petunjuk dari awak kabin.
Tak ada yang “berdemo ataupun berisik” hanya karena tidak dapat makanan atau minuman dalam kabin pesawat itu. Padahal biaya naik pesawat itu diatas Rp 1 juta rupiah.
Bahkan untuk tujuan bandar udara
Juwata Tarakan dengan 3 kali pindah pesawat biayanya kurang lebih Rp, 2,8 juta.
Tiba di bandara Sultan Hasanuddin Maros Makassar Sulsel, saya bersama penumpang transit lainnya harus sabar menunggu dua jam tiga puluh menit (2,30).
Karena Makassar ke Surabaya berangkat seperti yang tertera dalam tiket 13:30 wita. Namun delay atau tertunda dengan alasan teknis. Sehingga harus bersabar menunggu sekitar 50 menit.
Sekitar pukul 14:20 wita, pesawat lion air seris boing 787 yang membawa kami dari Makassar ke Surabaya take off. Makassar Surabaya Jawa Timur ditempu kurang lebih satu (1) jam 20 menit.
Singakat cerita tepat pada pukul 15 : 45 wib, pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandar Udara International Juanda Surabaya.
Lagi-lagi maskapai lion air delay karena alasan teknik, kurang lebih 1 jam harus menunggu, kemudian terbang lagi dari bandar udara Juanda ke Tarakan.
Dalam tiket tertar pukul 16:45 wib penerbangan Surabaya ke Tarakan dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam. Tak ada kendala yang berarti dalam penerbangan itu, walau harus menunggu hingga pukul 17: 20 wib.
Matahari senja mulai menyembunyikan sinarnya, sehingga nampak berwana jingga dilangit yang mulai berawan.
Dikegelapan malam, Pesawat berselimut embun yang dikemudikan Haris Maulana melaju di ketinggian 10 ribu kaki dari permukaan laut.
Tepat pada pukul 20:10 Wib, pesat lion air itu mendarat di bandar udara Juwata Tarakan. Palu ke Tarakan ditempu kurang lebih 4 jam diatas udara dengan 3 kali pindah pesawat.
Sabtu malam atau malam minggu (13/9-2025) kota Tarakan masih ramai, di jalan-jalan terlihat kendaraan bermotor masih lalulalang.
Sebelum ke tempat menginap, saya mampir mencicipi kuliner seafood ala Tarakan. Karena Tarakan terkenal dengan tambak undang dan ikan Bandeng.
Adalah udang Vaname rebus dengan bumbu bawang bombai, lada (merica), garam, penyedap tambah jeruk nipis, manyus. Enak, gurih dan terasa asamnya, sangat cocok di lidah saya.
Usai makan malam saya pun bergegas menuju hotel grand Taufik di jalan Yos Sudarso Tarakan. Hotel itu sudah lama berdiri, bahkan sebelum pemekaran Kalimantan Timur ke Kalimantan Utara.
Sehingga lemari dan kuseng pintu, jendela dan tempat tidurnya yang terbuat dari kayu terlihat terkelupas dan menempel debu-debu serbuknya.
Minggu pagi (14/9-2025), saya jogging keliling jalan Yos Sudarso Tarakan sekaligus mampir beli tiket kapal penyeberangan Speedboat (Kapal Cepat) Taraka ke Tanjung Selor Ibu kota Kalimantan Utara (Kaltara).
Sekitar 1 kilometer saya jogging dari hotel tempat saya menginap lalu putar balik setelah mendapatkan informasi kapal penyeberangan (Speedboat) Tarakan ke Tanjung Selor.
Tarakan ke Tanjung Selor ditempuh kurang lebih 1 jam 30 menit dengan menggunakan speedboat Limex Permai.
Dengan melintasi lautan lepas dan sungai luas Limex Permai melaju dan bergoya menari lincah diatas permukaan air meniti ombak. Sesekali percikan air membasahi speed boat yang saya tumpangi itu.
Speedboat merupakan salah satu alat transportasi yang menghubungkan dan membawa warga Kaltara yang hidup dan bermukim di pulau-pulau.
Mas Andi (45) asal jawa timur kabupaten Nganjung yang duduk di samping kananku diatas speedboat itu, mengaku sudah 3 tahun tinggal di Tanjung Selor dan Bulungan ikut dalam pengerjaan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Longbesuk.
Kata dia setiap berangkat dari Tanjung Selor ke Tarakan ataupun sebaliknya selalui naik speedboat.
“Karena speedboat ini sudah menjadi alat transportasi yang ramah sebagian besar masyarakat di Kaltara ini. Sebab dengan seedboat jarak jadi dekat ke daerah-daerah yang dituju, karena naik darat selain jauh juga jalannya sebagian masih kurang bagus. Namun demikian ada juga kendaraan mobil dan motor tapi itu di daerah perkotaan (Kabupaten/kota), tapi untuk penghubung antar pulau harus menggunakan speedboat dan kapal Fery,”jelas Mas Andi.
Hal senada juga dikatakan mba Sarieyam.
Untuk diketahui Proyek pembangkit listrik di wilayah Tanjung Selor, Kalimantan Utara, adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Kayan terbesar yang berada di Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan. ***














