“PSN Parimo Sudah Sesuai Ketentuan Yang Ada”
Bang Doel (deadline-news.com)-Palu-Proyek Strategis Nasional (PSN) pembangunan kawasan industri pengolahan pertambangan (Smelter) di Siniu Kabupaten Parigi Moutong telah direncanakan dan dicanangkan dizaman pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Rusdy Mastura (Cudy) Gubernur Sulteng.
“Saat itu bulan Juli tahun 2023 PSN Parimo dicanangkan oleh pemerintah pusat dimana saat itu Presidennya bapak Jolowi dan Gubernur Sulteng bapak Cudy. Jadi Gubernur Anwar Hafid hanya meneruskan program pusat itu. Dengan demikian sudah sesuai peraturan yang berlaku,”kata sekretaris komisi III DPRD Sulteng Muhammad Safri dalam rilisnya Sabtu (7/2-2026).
Menurutnya terkait PSN diparigi itu sudah sesuai ketentuan dan proyek ini perencanaanya pada bulan 7 tahun 2023 dizaman Presiden pak Jokowi dan pak Cudy Gubernur Sulteng.
“Proyek Strategis Nasional (PSN) ini berdasarkan Permenko Perekonomian No. 12 Tahun 2024,”sebut politisi PKB Sulteng itu.
​Safri menegaskan pengembang PSN Parimo itu adalah Neo Energy (PT Anugrah Neo Energy Materials – ANEM). Perusahaan ini juga terafiliasi dengan Neo Energy Morowali (NEMIE) dengan nilai Investasi ditargetkan mencapai Rp 225 – 226 Triliun.
Sebelumnya telah diberitakan
Gubernur Sulteng Anwar Hafid menyatakan industri nikel yang akan dibangun di Kabupaten Parigi Moutong sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Penetapan itu lewat Proyek Strategis Nasional (PSN) Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) di Desa Towera Kecamatan Siniu dan sekitarmya.
“Jadi sebenarnya. Jadi kan begini, itu kan parigi itu sudah dikatakan PSN.
Jauh sebelum saya jadi gubernur sudah PSN itu. Nah, kenapa saya dukung karena ternyata yang mau dilakukan itu adalah green industry,” jelas Gubernur Sulteng, Anwar Hafid kepada media, Rabu (4/2-2026).
Dia mengatakan, green industry atau Industri hijau yang ramah lingkungan. Ore nikel yang sudah diolah setengah jadi, akan dikirim ke pabrik smelter di Parigi Moutong.
“Itu apa modelnya? Kenapa industri hijau?
Jadi dia pengolahan juga pengolahan…
Kanan? Kadar, eh, nikel kadar low grade yang dari Morowali. Itu kan ini perusahaan ada kawasan juga satu di sana,” katanya.
Gubernur Anwar Hafid mengemukakan perusahaan yang akan investasi di Kecamatan Siniu punya dua kawasan, Morowali dan Parigi Moutong.
“Satu di Morowali, satu di sini.
Jadi Morowali itu dia mengolah dari nikel,
dari tanah menjadi setengah jadi.
Dari hasil itu, itu yang dibawa ke parigi.
Di parigi itu nanti akan dibangun macam-macam. sampai ke hilir,” tutur Gubernur Anwar Hafid.
Menurut mantan Bupati Morowali dan Anggota DPR RI dua periode itu, industri di Siniu kelebihannya green energy, jadi nanti yang PSN itu sudah lama.
Gubernur Anwar Hafid juga menjelaskan bahwa dirinya tidak menginginkan Parigi Moutong seperti Kabupaten Morowali yang dikepung asap akibat indsutri masif dari batubara.
“Saya bilang saya tidak inginkan lagi
kalau di Parigi itu seperti di Morowali.
Morowali itu kan asap, batubara.
Kalau ini tidak,” katanya.
Kalau pabrik atau industri yang masuk di Siniu tidak pakai asap nanti, karena akan menggunakan PLTA dari Banggaiba, Kabupaten Sigi yang langsung ke areal pabrik.
“Jadi Banggaiba itu dibangun khusus itu.
145 megawatt. Kenapa mereka mau bikin di situ? Dari situ nanti akan dibangun jalan masuk ke Pantoloan,” ujar Gubernur Anwar Hafid.
Dia menjelaskan, akses jalan masuk ke Kota Palu menjadi tiga, Toboli yang sudah ada, kemudian Siniu ke Pantoloan dan Sausu tembus Sigi, di mana rencananya akan segera dibuka.
“Nanti perusahaan itu akan buka jalan dari Siniu juga masuk ke Pantoloan.
Karena cuma 20 kilo lebih,” ungkapnya.
Ia optimis bahwa ke depan perusahaan yang masuk ke Parigi Moutong merupakan industri masa depan, sehingga membuka lapangan kerja secara besar.
Mungkin yang di Morowali itu nanti akan, diolah setengah jadi, sebab di sana hulunya.
“Dia hilirnya. Jadi mungkin kalau saya dengar caranya mereka, mobil nanti di situ diproduksi. Mobil, ya, baterai. Mobil listrik,” jelas Gubernur Anwar Hafid.
Sementara, Bupati Kabupaten Parigi Moutong, Erwin Burase menyatakan aat ini masih berjalan tapi lambat. Dari awal rencana, baru sekitar 300an hektare.
“Karena mereka seperti kan kemarin,
mereka akan mulai membangun itu
apabila sudah mencapai 1000 hektare. Di Kecamatan Siniu, Desa Towera, dan sekitarnya,” ungkap Erwin Burase. ***













