Bang Doel (deadline-news.com)-Palu-Siang itu senin (1/9-2025), sekitar pukul 11:30 – 13 -30 wita aksi unjuk rasa serentak di seluruh penjuru Nusantara ramai, tak terkecuali Palu ibu kota Sulawesi Tengah.
Sekitar seribuan massa tampak ramai di depan antara kantor DPRD dan Kantor Gebernur Sulteng.
Mereka terdiri dari gabungan
11 Aliansi Mahasiswa baik perguruan tinggi Negeri maupun swasta, masyarakat, LSM, Serikat buruh dan Ojol yakni :
1. UNTAD
2. UIN
3. UNISMU
4. UNISA
5. UNIVERSITAS ABDUL AZIS LAMAJIDO
6. POLTEKES
7. PESATUAN PEREMPUAN
8. LSM
9. Serikat Pekerja/Serikat Buruh
10.Ojol
11. MASYARAKAT PANTAI BARAT
12. MASYARAKAT
Adapun isu sentral baik nasional maupun daerah yaitu :
1. Mengecam Tindakan Reprensif Kepolisian
2. Pencopotan anggota DPR RI yang Menyampaikan Narasi Propokatif dan Anti Rakyat
3. pencopotan Kapolri
4. Menutut Audensi anggaran dan Transparansi Tunjangan DPR
5. Menutut Kesejahteraan Buru Dan Tenaga Kesehatan
6. Sahkan RUU Perampasan Aset
7. Perlindungan Perempuan dan Anak
8. Evaluasi DPR, TNi dan POLRI
9. Batalkan RUU Ketenagakerjaan
Isu Daerah
1. Batalkan Kenaikan Gaji dan Tunjagan Pegawai
2. Evaluasi 7 Anggota DPR RI Dapil Sulteng
3. Pembatalan Pajak 10%
4. Evaluasi Program Berani Cerdas
Syukur Alhamdulillah aksi unjuk rasa itu berakhir dengan damai, berkat kepekaan para pemimpinnya, hadir ditengah-tengah massa yang sedang berunjuk rasa, sehingga memberikan kesejukan dan kedamaian.
Adalah Gubernur Sulteng Anwar Hafid dan mantan Gubernur Rusdy Mastura hadir ditengah-tengah massa membawa kesejukan.
Dikutip dari Tulisan Ruslan Sandaji yang akrab disapan Ochan dalam tayangan Kaidah.id Senin (1/9-2025), halaman kantor Gubernur Sulawesi Tengah menjadi saksi sebuah peristiwa yang menyejukkan di tengah hiruk-pikuk demonstrasi mahasiswa.
Massa yang datang dengan semangat kritis dan orasi lantang, berhenti sejenak ketika dua tokoh muncul di tengah kerumunan.
Rusdy Mastura, mantan Gubernur Sulawesi Tengah yang masih sangat dihormati, berdiri bersama Anwar Hafid, Gubernur yang kini memimpin.
Keduanya tidak memilih bersembunyi di balik tembok kekuasaan, tidak pula berdiri jauh di menara pengawas. Mereka turun langsung, berdiri sejajar dengan mahasiswa yang tengah menyampaikan aspirasinya.
Momen itu menghadirkan pemandangan yang jarang terlihat. Para mahasiswa, yang biasanya menjaga jarak dengan pejabat, justru mendekat dan mengulurkan tangan.
Satu per satu mereka menyalami Rusdy Mastura dan Anwar Hafid, bahkan dengan penuh takzim mencium tangan kedua tokoh pemimpin Sulteng itu.
Di tengah terik dan suara lantang, lahir kehangatan yang melampaui sekat generasi dan perbedaan pandangan. Tidak ada lagi jarak antara penguasa dan rakyatnya, yang ada hanyalah rasa saling menghormati.
Setelah itu, Rusdy Mastura memilih duduk di kursi sederhana di halaman kantor yang ia pernah pimpin.
Ia menatap ke arah mahasiswa, seakan sedang menyerap semangat muda yang berkobar di hadapannya.
Ada ketenangan dalam raut wajahnya, ketenangan seorang pemimpin yang sudah kenyang pengalaman, yang tahu bahwa merangkul jauh lebih berharga daripada menghadapi dengan kekerasan.
Sementara itu, Anwar Hafid tetap berdiri, menjaga interaksi hangat dengan mahasiswa yang menghampirinya.
Pemandangan ini seakan menjadi cermin dari kepemimpinan yang ideal. Di tengah hiruk-pikuk politik yang sering keras dan penuh gesekan, hadir dua sosok yang menunjukkan bahwa kewibawaan sejati, lahir dari sikap rendah hati.
Bahwa ketegangan bisa luruh, hanya dengan jabat tangan yang tulus, bahwa rasa hormat tidak perlu dipaksakan, melainkan akan datang sendiri ketika pemimpin menunjukkan keberanian untuk hadir.
Sungguh, sikap Rusdy Mastura dan Anwar Hafid adalah teladan yang patut dicontoh.
Mereka tidak hanya berdiri sebagai pejabat, tetapi tampil sebagai manusia yang mau mendengarkan, mau menyapa, dan mau merangkul.
Kehadiran mereka memberi pesan kuat bahwa di atas segala jabatan dan kepentingan, ada tanggung jawab moral untuk menjaga hubungan batin antara pemimpin dan rakyat.
Apa yang terjadi di Palu hari itu bukan sekadar peristiwa kecil, melainkan sebuah pelajaran berharga.
Bahwa dalam gelombang kritik dan tuntutan, seorang pemimpin tetap bisa hadir dengan elegan, tanpa kekerasan, tanpa jarak, tanpa sekat.
Justru dengan sikap itulah mereka meninggalkan jejak mendalam di hati banyak orang.
Sebuah jejak yang akan selalu diingat, kekuasaan sejati bukan untuk ditakuti, melainkan untuk membawa keteduhan bagi mereka yang dipimpin. ***















