Bang Doel (deadline-news.com)-Palu-Tim Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemdiktisaintek mulai melakukan investigasi dugaan profesor plagiator di Universitas Tadulako (Untad) Palu.
Hal itu dibenarkan Rektor Untad Prof Dr.Amar menjawab media ini Senin (21/7-2025) via chat di aplikasi whatsAppnya.
“Tabe.. sdh datang dari Irjen beberapa hari lalu… dan masih melakukan investigasi dan klarifikasi. Tks,”tulis Prof Amar.
Sebelumnya media ini menerima informasi jika Tim Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemdiktisaintek telah tiba di Kampus Universitas Tadulako beberapa waktu lalu.
Kedatangan Tim Itjen tersebut diduga kuat akan melakukan interogasi mendalam terhadap terduga plagiator 16 SKRIPSI Mahasiswa yang dijadikan artikel international untuk meraih jabatan profesornya Tahun 2022 silam.
Adalah oknum Prof Dr. RN., S.Pd., M.Si, yang diduga melakukan plagiator itu. Dan RN terduga Prof Plagiator ini baru saja dilantik sebagai Dekan, sangat dikenal di kalangan Untad sebagai sosok cerdik untuk hampir semua urusan.
Semua hal selalu mampu diselesaian dengan berbagai cara dan pendekatan. Mulai dari cara pura-pura bersedih, merendah, bersujud-sujud, hingga cara-cara lain, termasuk yang membutuhkan pengorbanan, kata sejumlah dosen yang mengetahui sifat dan sepak terjang oknum Prof RN.
Informasi yang beredar dengan cepat di dalam kampus, menyebutkan jika Tim Itjen sudah terpantau sejak perjalanan dari Bandara ke Kampus.
Menurut sumber terpercaya, dengan memperhatikan kedatangan Tim Itjen, kemungkinan menggunakan pesawat Garuda dari Jakarta-Makassar-Palu.
Dengan penerbangan GA608 bertolak dari Jakarta pukul 09.10 WIB dan tiba di Makassar Pukul 12.45 Wita. Dari Makassar, GA608 akan take off pukul 13.39 Wita, dan diperkirakan tiba di Bandara Udara Mutiara Sis Aljufri Palu pada Pukul 15.05 Wita.
Berdasarkan jadwal penerbangan GA608 tersebut, maka sudah berkesesuaian antara kabar yang beredar pada pukul 15.45 Wita, dan diperkirakan Tim Itjen Kemdiktisaintek telah berada di ruang rektor pada pukul 16.12 Wita.
Hingga pukul 16.50 Wita, belum ada info valid apakah oknum Profesor RN, plagiator 16 skripsi mahasiswa telah berada di Ruang Rektor atau di ruang tertentu untuk dilakukan interogasi medalam.
SEMOGA TIM ITJEN YANG DATANG BUKAN KALENG-KALENG
Hampir dapat dipastikan jika sebagian besar kalangan kampus mengharapkan agar tim Itjen yang datang bukan kaleng-kaleng yang dapat diajak “86”.
Pasalnya, kata sejumlah sumber internal, mengingat kecerdikan oknum Prof RN dinilai terlalu piawai dalam melakukan penghindaran atau alibi.
Bahkan, kata sebuah sumber, oknum Prof RN juga dijuluki sebagai sosok yang piawai dalam membangun opini untuk mengesankan orang lain yang bersalah.
“Ya, kami berharap Tim yang diterjunkan ini bukan dari kalangan yang mudah di-86-kan”, harap mereka.
Prof RN juga dikabarkan sangat diperhitungkan oleh rektor karena dianggap bisa menjembatani untuk urusan-urusan strategis di Kemdiktisaintek.
Jadi wajar, kata sejumlah kalangan, jika oknum, Prof RN tetap dilantik sebagai dekan walau satu Untad dan juga pihak Kementerian, telah mengetahui kuatnya data dugaan plagiasi bahwa yang bersangkutan patut diduga melakukan tindakan yang tidak beretika secara akademik dengan menggunakan skripsi mahasiswa untuk kenaikan ke jabatan profesor.
DATA LENGKAP AKAN DIRILIS PASCA PEMERIKSAAN
Sebagai mantan Sekretaris Dewan Profesor, oknum Prof RN di setiap memberi materi di depan calon profesor senantiasa menggampangkan untuk menduduki jabatan profesor. Makanya, kata sumber internal, Prof RN selalu menggelar acara “percepatan profesor”.
Aneh saja, mosok bisa dipercepat, kecuali menggunakan cara-cara terhina seperti mencuri karya orang lain, katanya heran.
Untuk itu, mereka berharap agar data yang ada di media, dapat dirilis secara bertahap ke-16 skripsi yang diplagiasi untuk kepentingan kenaikan ke jabatan guru besar.
“Allah memang melarang membuka aib orang lain, tapi bagi yang takabur, semoga Allah mengampuni”, kata sumber itu penuh harap terhadap kerja Tim Itjen agar bersungguh-sungguh.
34 PUBLIKASI 2020 YANG TIDAK RASIONAL
Seperti diberikatan pada edisi 21 Juni 2025 bahwa menggelinding informasi jika Universitas Tadulako juga akan kena giliran pemeriksaan seperti UNILA akibat adanya oknum Profesor yang berinisial RN yang patut diduga menggunakan artikel yang dipublikasi di Jurnal internasional dengan cara curang, tidak beretika, dan jauh dari perilaku seorang akademisi.
Informasi yang dihimpun redaksi menuturkan, oknum profesor tersebut dinilai tidak rasional perihal kepemilikan artikel internasionalnya menjelang kenaikan jabatan akademik dari posisi Lektor Kepala (LK) ke jabatan Gurubesar (GB).
Ada sejumlah pihak yang menduga jika oknum profesor itu mencuri sejumlah karya orang lain, terutama kalangan mahasiswa lalu dijadikan artikel ilmiah nasional dan internasional.
Cara yang dinilai tidak beretika tersebut, dilakukan menjelang tahun kenaikan jabatan. Berdasarkan data yang diperoleh media ini, terdapat empat tahun oknum itu menunjukkan grafik kepemilikan artikel ilmiah yang tidak logis.
Tahun 2018 sebanyak (13 artikel); 2019 (23); 2020 (32); 2021 (27). Pada tahun 2022, saat telah meraih profesor, jumlah artikel ilmiahnya turun drastis menjadi 4 artikel dan pada tahun 2023 sisa satu artikel.
Pertanyaannya, kata dosen yang mulai curiga, kapan menulis proposal, kapan penelitian, kapan mengolah data, dan kapan menulisnya. “Ih, gila memang itu ibu ee”, katanya tanpa menjelaskan siapa nama ibu profesor yang dia maksud setelah mengetahui artikel ilmiahnya pernah terbit sebanyak 34 artikel pada Tahun 2020.
Jika diakumulasi selama 4 tahun, maka total artikel yang dia publikasi sebanyak 94 artikel.
Sementara itu, data sumber lain dari SINTA DIKTI yang terindeks scopus, pada tahun 2019 sebanyak 4 artikel, namun masuk Tahun 2020 jumlah artikel naik drastis menjadi 24 dan tahun 2021 sebanyak 21 artikel yang kesemuanya terindeks di scopus.
Masih informasi dari kampus Universitas Tadulako, oknum profesor tersebut sebenarnya sudah lama menjadi buah bibir dan dicurigai dari mana mendapatkan bahan baku artikel, sementara jumlah penelitiannya biasa-biasa saja.
Hanya saja, kata sumber terpecaya, oknum profesor itu merasa berkuasa karena suaminya menduduki jabatan penting, yang bisa saja menggunakan kekuatan jabatannya melakukan pendzoliman ke orang yang mengkritisinya. Akhirnya orang menjadi bungkam.
Namun, “Sepandai-pandainya pulanduk melompat, akhirnya akan jatuh juga”, kata seorang dosen senior yang banyak tahu tentang intrik dan perilaku oknum profesor tersebut di lingkungan Universitas Tadulako. Selain dikenal “cerdik” juga banyak sok hebat, katanya. Yang menarik, kata sejumlah dosen, di setiap memberi materi seolah menggampangkan naik ke guru besar dengan mengambil contoh kesuksesan dirinya.
“Kita percaya karena ibu itu bisa meraih gurubesar, jadi kalau memberi materi terlalu sering patende (puji dirinya sendiri)”, kata cerita ex peserta pembekalan yang diberi frame “Percepatan Kenaikan Guru Besar”.
Padahal, tidak ada istilah percepatan karena ini bukan mesin tetapi karya, lanjutnya.
Para dosen yang tidak ikhlas nama baik Untad rusak, karena perilaku oknum tersebut, mereka meminta jika terbukti artikel yang digunakan naik ke jabatan profesor sebagai hasil yang diperoleh dengan cara-cara yang curang, maka mencabut gurubesarnya adalah langkah terbaik, harapnya. Sumber berita dikutip di media online group pikiran rakyat sulteng.***














