Pembangunan Fisik Kewajiban Pemimpin

Banyak yang bangga dengan pembangunan fisik dari seorang pemimpin daerah. Tapi tidak sedikit yang kecewa.

Apalagi jika pembangunan yang katanya monumental menyisahkan hutang daerah atau negara.

Puluhan kontraktor menjerit karena hasil pekerjaannya yang dibiayai dari hutan kredit di bank belum terbayarkan oleh Pemda. Apalagi pemotongan anggaran mulai dari pusat hingga ke daerah-daerah.

Sesunggugnya pembangunan fisik itu adalah kewajiban seorang pemimpin.

“Jadi apa yang mau dibangga-banggakan, apalagi jika pembangunannya hanya sekelas lapangan yang hanya dinikmati saat liburan atau bersantai ria bagi orang-orang berpunya”.

Mereka duduk nongkrong berjam-jam seperti tak ada beban hidup yang menderanya. Sementara tidak sedikit orang menjerit karena beban hidupnya yang begitu berat.

Maumakan saja kesulitan, belum lagi menyekolahkan anak tak punya biaya. Begitu juga saat berobat ke rumah sakit terlambat dilayani atau bahkan tidak dilayani sama sekali karena tidak punya BPJS atau menunggak BPJSnya.

Dua hal itu yang mestinya menjadi prioritas pemerintah. Bukan soal makan gratis yang belum tentu bergizi. Apalagi nilainya hanya Rp,10,000 – Rp, 15,000 sekali makan bagi anak-anak sekolah.

Tugas dan kewajiban seorang pemimpin itu adalah membantu dan mensejahterakan rakyatnya, bukan memberikan beban dengan berbagai macam pungutan pajak makanan di warung-warung dan retribusi sampah.

Pembangunan fisik bukan tidak penting, tapi mboh ya yang falitas umum seperti perbaikan jembatan dan pengaspalan ruas-ruas jalan baik dalam kota maupun diluar kota diperioritaskan.

Apalah gunanya pembangunan taman kalau toh hanya jadi tempat “kemaksiatan”, transaksi narkoba dan semacamnya.

Rakyat butuh sekolah/pendidikan dan biaya kesehatan gratis, bukan taman yang indah dimana tumbuh berbagai jenis pepohonan yang rindang toh menjadi sampah yang butuh tenaga kebersihan.

Intinya kurangi beban rakyat dengan memberikan stimulus biaya pendidikan dan kesehatan gratis.

Bangunkan jembatan dan jalan-jalan desa agar transportasi dari kantong-kantong produksi lancar.

Semoga saja para pemimpin kita punya rasa memiliki dan kepedulian terhadap masyarakatnya.

Dan tidak haus akan pujian, tapi rindu akan kritikan, sehingga menjadi penyemangat membangun negeri ini.

Dan akhirnya kami ucapkan selamat Idul Fitri Minal Aidin Walfaidzin, mohon maaf lahir dan Banthin. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top