SMART FARMING, Pascabencana di Nobiru Village, Kota Higashi Matsushima

foto Hasanuddin Atjo bersama Ir.Iskandar Arsyad di Jepang. foto dok Hasanuddin Atjo/deadline-news.com
0

Catatan Hasanuddin Atjo kunjungan ke Jepang

Inisiatif Kelompok tani yang tergabung dalam Perusahaan kemitraan Agried Naruse di Nobiru Village, kota Higashi Matsushima untuk bangkit dan kembali bertani setelah diterjang dan terendam pasang tsunami patut diberi apresiasi.

Pasca bencana 11 Maret 2011 secara bersama kemudian membersihkan dan memperbaiki sistem pompanisasi, fasilitas irigasi dan membersihkan sampah sampah yang tertimbun di permukaan sawah.

Awalnya diperkirakan padi tidak akan hidup sampai tiga tahun karena kontaminasi garam. Namun dengan Pengolahan tanah melalui pembalikan tanah, diairi dan dikeringkan secara berulang maka dalam setahun sudah dapat ditanami padi 2 kali dan kedele 1 kali.

Semangat yang ditunjukkan Oleh kelompok bersama mitranya mendapat dukungan Pemerintah dan Sejumlah donatur memberikan bantuan Peralatan dan dana

Kini Agried Naruse Ltd mengelola lahan pertanian 96,8 ha untuk padi, kedele, gandum. Lahan ini ada yang merupakan titipan masyarakat untuk dikelola karena faktor usia atau tidak ada keturunannya yang bisa melanjutkan. Dengan lahan seluas itu pengelolaannya dilakukan secara modern dengan mekanisasi berbasis aplikasi, pendekatan industri hulu-hilir. Hasil padi, kedele dan gandum sebahagian besar di olah menjadi berbagai macam makanan seperti kue lapis dan makanan lainnya. Selebihnya dijual dalam bentuk bahan baku dengan mutu premium. Hal yang tidak kalah pentingnya bahwa usaha pertanian telah dimasukan dalam muatan lokal kurikulum di tingkat pendidikan dasar, bahkan juga telah menjadi destinasi wisata.

Pembelajaran yang dapat dipetik dari kasus di atas bahwa (1) Semangat, pantang menyerah, kebersamaan dan rasa ingin tau yang tinggi menjadi modal dasar menuju kemandirian. Kondisi seperti ini menimbulkan simpati dari sejumlah pihak untuk memberikan bantuan dan dukungannya, (2) Agar bisnis ini dapat berdaya saing dan berkelanjutan maka pengelolaannya harus berorientasi hulu-hilir, mekanisasi berbasis aplikasi agar memiliki nilai tambah dan dapat diprediksi, (3) Sudah saatnya memasukan dalam muata lokal kurikulum di tingkat pendidikan dasar agar lebih awal ditanamkan rasa cinta terhadap sektor pertanian yang kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda.

Kasus di atas dapat menjadi referensi untuk menyusun sebuah model pengembangan Pertanian modern bagi petani di wilayah bencana Sulawesi Tengah, khususnya Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong. Semoga.***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: