Prof Tikki : Vaksin Bukan Jaminan Kebal Virus

0

 

Andi Attas Abdullah (deadline-news.com)-Jakarta- Prof Tikki Pangestu dalam diskusi virtual menegaskan pemberian vaksin bukan jaminan kebal dari virus covid19.

“Tapi mengurangi resiko penularan virus covid19. Olehnya sekalipun telah mendapat vaksin, harus tetap mematuhi protokol kesehatan (Protkes) yakni menggunakan masker, menjaga jarak, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir,”kata Prof Tikki menyarankan.

Diskusi virtual yang diinisiasi Dewan Pers bersama BBC Media Action dengan tema Vaksinasi Covid-19, Perubahan Perilaku dan Diseminasi Informasi. Setelah Nakes, Siapakah Prioritas Penerima Vaksinasi COVID-19 Selanjutnya?

Diskusi virtual ini diikuti 102 wartawan liputan ubahlaku Kamis sore (18/2-2021), sekitar pukul 15:00 wita di Jakarta dan diikuti secara nasional oleh wartawan di seantero Nusantara.

Prof Tikki menegaskan virus corona tidak akan hilang sama sekali dari muka bumi. Olehnya perubahan prilaku ini harus disosialisasikan secara dimasifkan ke masyarakat.

Menurut Prof Tikki masyarakat jangan takut divaksin. Karena vaksin itu tidak membahayakan. Tapi memang memiliki efek samping. Misalnya pegal-pegal, demam, elergi, atau gejala-gejala efek samping lainnya.

“Manfaat vaksin itu dari segi kesehatan 70-95 persen sangat baik. Dan 5-10 persen ada memang efek sampingnya,”jelas Prof Tikki.

Sementara itu Agus Sudibyo dari Dewan Pers mengatakan pers merupakan salah satu garda terdepan didalam membantu negara didalam memberikan informasi perubahan prilaku bagi masyarakat dimasa pendemi c.ovid19 itu.

Namu demikian tidak mengurangi rasa kritis bagi pers terhadap proses penyelenggaraan vaksinasi covid19 oleh negara (Pemerintah) kepada rakyatnya.

Karena pers dan jurnalis merupakan garda terdepan dalam penyebaran informasi terkait perubahan prilaku masyarakat ditengah pandemi covid19 itu.

Termasuk proses vaksinasi covid19 yang tengah berlangsung dan dilaksanakan oleh pemerintah (Negara).

“Kawan-kawan jurnalis/pers harus menyajikan berita secara berimbang, rasional dan konprehensif antara manfaat dan efek samping vaksin covid19. Sehingga masyarakat tidak bingung, menolak atau menerima mentah-mentah vaksin itu. Tapi masyarakat dapat memilih dan kritis seacara rasional terhadap vaksin covid1o itu.

Kata Agus, pihak Dewan Pers mengupayakan jurnalis mendapat prioritas vaksin covid19. Sebab jurnalis sebagai pekerja sosial dan profesional lebih banyak berada di lapangan mencari, memperoleh informasi terkait pandemi covid19 dan perubahan prilaku serta penyelenggaraan vaksin secara nasional.

“Yang perlu sangat diawasi adalah jangan sampai terjadi nepotisme pada proses pemberian vaksin covid19. Jangan sampai hanya keluarga pejabat yang diutamakan diberikan vaksin,”tegas Agus.***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: