Padat Karya Solusi Entaskan Kemiskinan

Warga yang ikut program padat karya di Palu
0

Warga yang ikut program padat karya di Palu
Warga yang ikut program padat karya di Palu

bang Doel (deadline-news.com)-Palusulteng-Kurang lebih 10 tahun kepemimpinan H.Rusdy Mastura sebagai walikota Palu, sejak terpilih kedua kali 2010. Ia didampingi wakil walikota Andi Mulhanan Tombolotutu. Selama kurun waktu kepemimpiannya itu, kota Palu mengalami kemajuan yang cukup signifikan dibandingkan 5 tahun sebelumnya.

Walau pembangunan perkantoran pemkot Palu masih tergolong terbatas, namun tingkat kemiskinan perlahan tapi pasti mengalami penurunan yang cukup besar. Kemiskinan di Kota Palu saat ini telah mengalami penurunan setiap tahunnya. Mulai dari tahun 2009, dimana masa akhir periodenya bung Cudy yang pertama sudah terlihat trend penurunan angka rumah tangga miskin di Palu. Kemudian memasuki periode keduanya memerintah Kota Palu penurunan rumah tangga miskin terus meningkat.

Catatan badan pusat statistik (BPS) kota Palu tahun 2013, menunjukka jumlah orang miskin Kota Palu telah turun secara perlahan-lahan. Untuk tahun 2013 saja orang miskin di kota Palu telah berada dilevel 7,24, persen (data BPS), dari jumlah penduduk sekitar 350 ribu jiwa lebih. Walikota Palu H.Rusdy Mastura memang sangat gigih menurunkan angka kemiskinan di Kota Palu. Adalah program zero poverty (nol orang miskin) di Palu 2015 ini, bukti kegigihan bung Cudy entaskan kemiskinan. Jika secara keseluruhan Provinsi Sulawesi Tengah rumah miskin mencapai 13,93 persen (data mareta 2014).

Adalah program padat karya pemerintah Kota Palu melalui liding sektornya Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota (BPMP) Kota Palu, salah satu cara menurunkan angka kemiskinan itu. Padat karya ini dimulakan sejak tahun 2014 dengan melibatkan 2.165 rumah tangga miskin (RTM) se Kota Palu dengan upah (fee) Rp, 500 ribu perbulan. RTM yang ikut padat karya ini berfungsi membersihkan kota Palu disetiap kecamatan (8 kecamatan sekota Palu), kelurahan dan RT/RW. Mereka membersihkan tepi jalan, trotoar, drainase dan lorong-lorong disetiap kelurahan dan RT/RW.

Hal ini juga dimaksudkan untuk tetap menjaga kebersihan kota Palu. “Jadi selain memberdayakan masyarakat miskin, juga meningkatkan kebersihan kota,”jelas Cudy sapaan akrab H.Rusdy Mastura.

Tahun 2015, masyarakat yang dilibatkan dalam program padat karya, mencapai 5000 rumah tangga miskin, dengan demikian mengalami penambahan sebesar 2,835 RTM. Begitupun dengan upahnya mengalami kenaikan sebesar Rp, 100 ribu. Sehingga tahun 2015 upah per satu Rumah Tangga Miskin mencapai Rp, 600 ribu perbulan. Dengan demikian Pemkot Palu menyiapkan total anggaran untuk program padat karya menuju Palo nol orang meskin sebesar Rp, 3 miliyard (Rp,600,000 X 5000 orang). Pendapat RTM ini dibayarkan melalui rekening di Bank.

Namun begitu hanya Rp, 500 ribu yang diberikan secara tunai. Sebab Rp, 50 ribunya untuk tabungan mereka, dan yang Rp, 50 ribunya lagi sebagai biaya BPJS dan asuransi pendidikan. “Sehingga ketika mereka sakit tidak perlu lagi mereka pusingkan biaya kesehatan keluarga mereka. Begitupun dengan biaya pendidikan anak-anak mereka, telah ditalangi pemerintah melalui pemberian insentif kerja di padat karya,” demikian ditegaskan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Sudaryano Lamangkona, S.Sos, M.Si, menjawab koran Deadline News Sabtu (10/1-2015 pekan lalu via pesan singkat di handponennya.
Menurut Ano panggilan akrab Sudaryano Lamangkona, pemerintah Kota Palu telah mengajarkan bagi masyarakat Kota Palu melalui Padat Karya RTM itu untuk membudayakan menabung. Sebab dengan menabung di bank, kebutuhan keluarga dapat teratasi dan masa depan bisa tercerahkan. Program padat karya itu, menjangkau 8 kecamatan se Kota Palu.

Kata Walikota Palu bung Cudy idealnya program padat karya ini upah per RTM mestinya Rp, 1,100,000. Namun begitu yang dapat dikaver tahun 2015 ini baru mencapai 5000 RTM dengan upah totalnya sebesar Rp, 3,000,000,000. Dan untuk kelanjutannya nanti ketika akhir masa jabatannya, dirinya menyerahkan ke walikota terpilih nanti.

“Yang pasti kita sudah memulai, tinggal dilanjutkan dan ditingkatkan secara menyeluruh ke seluruh daerah-daerah di Sulteng. Paling tidak kota Palu bebas dari kemiskinan dengan program Zero Poverty, dengan melibatkan rumah tangga miskin pada padat karya,”harap Cudy. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: