Nasib Pengungsi, Hidup di Tenda, Tak Ada Lagi Bantuan Sembako

foto dr.Nur Apni Oktavia bersama pengungsi di dalam tenda tempat pemeriksaan usai ibu-ibu mencari kutu. foto bang Doel/deadline-news.com
0

“Mobil Mewah Ditengah Korban Bencana Alam”

foto tenda pengungsi di Gunung Bale Banawa Donggala. foto Bang Doel/deadline-news.com
foto tenda pengusi di Gunug bale nabawa Donggala sebagian sudah tak layak. foto bang Doel/deadline-news.com
foto huntara di gunung Bale banawa Donggala/ foto bang Doel/deadline-news.com

Bang Doel (deadline-news.com)-Donggalasulteng-Panas Terik mata hari diatas ubun-ubun langit Donggala terasa membakar kulit. Suhu panas di Rabu siang (10/April 2019), sekitar pukul 12:30 wita tengah hari tua itu sekitar 30 derajat selcius.

Sehabis keliling Gunung Bale disekitar perkantoran kabupaten tertua di Sulteng itu, saya menyempatkan diri mampir dikerumunan ibu-ibu yang lagi mencari kutu dibawah Tenda bertuliskan BNPB berada tepat dibelakang Kantor Bupati Donggala.

Masih terlihat tenda-tenda pengungsi, shelter-shelter di atas gunung Bale baik di halaman samping dan depan kantor DPRD serta kantor Bupati Donggala.

Adalah Pak Daeng kepala keamanan bersama Aco, yang berada di tenda Gunung Bale itu.

Ke dua lelaki itu duduk-duduk menyaksikan ibu-ibu yang sedang ngerumpi sambil cari kutu dibawah tenda. Mereka mengaku sudah 7 bulan di tenda-tenda itu. Mereka tidak lagi mendapatkan bantuan sembako seperti Beras, Minyak, Mie Instan, Air mineral, dan makanan lainnya.

“Tujuh bulan pasca bencan, dan hanya 3 bulan kami mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah. Sementara 4 bulan terakhir ini, sudah tidak ada lagi bantuan sembako dari Pemerintah, baik Kabupaten maupun provinsi,”ujar Pak Daeng yang diamini ibu-ibu disekitarnya.

Menurutnya awalnya pengungsi sekitar 175 kepala keluarga berada di tenda-tenda yang mereka tempati saat ini. Tapi sebagian telah pindah ke hunian sementara (huntara) yang berada di bagian atas lokasi tenda-tenda mereka. Sehingga tinggal 67 kk yang masih tersisa di tenda-tenda itu.

Dan adalah bahan makanan dan minuman yang terasa sulit mereka dapatkan secara gratis. Kalaupun mau beli, mereka tidak punya uang lagi, sebab mata pencaharian mereka rata-rata petani dan nelayan. Namun mereka sudah taku kembali ketempat mereka yang berada dipesisir Pantai Banawa kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah itu.

Mereka hanya menunggu belas kasihan dari dermawan, kalaupun tidak ada yang member, mereka berusaha mencari demi keluarga mereka walaupun hanya seliter beras dan segelas air mineral.

Ironisnya lagi, Bantuan yang ada selama ini, itu tidak jelas kemana arahnya. Padahal ratusan juta, bahkan miliaran masuk ke Kabupaten Donggala dan diterima langsung oleh Bupati Donggala Drs.H.Kasman Lassa, SH dari kawan-kawannya sesama pemerintah daerah Kabupaten.

Sebut saja salah satunya dari Bupati Banggai Herwin Yatim, dan beberapa kepala daerah dari luar pulau Sulawesi lainnya.

Bahkan Bupati Donggala Drs.H.Kasman Lassa, SH membeli mobil mewah merek Toyota Alphard berwarna putih. Harga mobil mewah sang Bupati Donggala Kasman Lassa itu diperkirakan Rp,1,6 miliyar. Sungguh bupati Kasman Lassa tidak punya rasa prihatin dan empati terhadap kondisi daerah dan masyarakatnya.

Bayangkan saja, mobil mewah merek Alphard “ditengah” pengungsi korban tragedy bencana alam 28 September 2018. Mobil mewah sang bupati Donggala Kasman Lassa sering diparkir di garasi rumah jabatan yang tidak jauh dari lokasi tenda para pengungsi bencana alam itu.

Bahkan saban hari mondar mandir dari Rujab ke Kantor Bupati dengan melewati tenda-tenda pungsi masyarakatnya. Sungguh ironis, ditengah masyarakat kelaparan dan kehausan, malah Bupatinya enak-enakan diatas mobil mewah.

Sedih dan miris rasanya melihat kondisi para pengungsi dibawah tenda-tenda serta shelter-shelter itu. Tapi apa daya, kita juga orang susah, beda dengan mereka yang punya kekuasaan dan kekuatan, semua dapat dipenuhi untuk keluarga dan kroni-kroninya, walau didepan mata rakyat menjerit kelaparan dan kehausan, karena tak ada lagi pasokan makanan dan minuman buat mereka.

Celakanya lagi, bila hijan tenda-tenda mereka digenangi air, dan pada siang panas terik mata hari didalam tenda. Akibatnya sering mereka khususnya yang berusia diatas 40 tahun mengalami gangguan kesehatan radang sendi dan sakit badan.

Bagaimana tidak, mereka tidur berlantaikan tanah dan beralaskan tikar seadanya. Sementara para pemimpin di daerah itu, setiap saat dapat menikmati makanan enak, tidur dikasur busah yang empuk dan ruangan kamar yang sejuk oleh AC. Kemana-mana naik mobil mewah.

Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kabupaten Donggala memang cukup lumayan besarnya, sebab mencapai Rp,1,3 triliun. Dan pendapatan asli daerah (PAD)-nya sekitar Rp,90 miliyar pertahun. Jika dikalkulasi maka sekitar 1,8 persen dari PAD Rp, 90 miliyar yang dinikmati Bupati Donggala Kasman Lassa dalam bentuk pembelian mobil mewah merek Alphard itu.

Salah seorang dokter PTT bernama dr,Nur Apni Oktavia mengaku para pengungsi yang ditanganinya sering mengeluhkan nyeri sendi. Hal ini terjadi karena mungkin faktor usia dan kondisi cuaca.

“Selama saya bertugas disini, memberikan pelayanan kesehatan secara gratis, rata-rata pengungsi disini mengeluhkan radang sendi,”ujar dokter muda yang pas hari itu Rabu (10/4-2019), berakhir masa tugasnya di kompleks tenda pengungsian Gunung Bale Banawa Kabupaten Donggala.

Asisten I M.Yusuf Lamakkampali yang ditemui di ruang kerjanya dalam satu kesempatan mengatakan liding sektor Jaminan hidup (jadup) dan bekal hidup (bedup) berada di Dinas Sosial Kabupaten Donggala. Namun begitu Yusuf sedikit menjelaskan bahwa sepengetahuan dirinya, bagi pengungsi korban bencana yang menempati shelter-shelter hunian sementara (Huntara) maupun Hunian Tetap (Huntap) itu dijanjikan oleh pemerintah Rp,10,000/perorang, itupun mungkin hanya sekitar 3 bulanan.

“Dan untuk lebih jelasnya komiu ke Dinas Sosial,”ujar Yusuf dengan nada mengarahkan. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: