Dibantu Asing, BKSDA Belum Berhasil Selamatkan Buaya Berkalung Ban

Bang Doel (deadline-news.com)-Palusulteng-Walau dibantu oleh dua orang asing asal Australia yakni Matthew Nicollas Wright dan Chris Wilson, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Sulteng belum berhasil menyelamatkan buaya muara sungai Palu dari lilitan ban atau dikenal buaya berkalung ban (B3) di sungai Palu.

foto buaya lain di muara sungai Palu. foto dikutip di FB Amar/deadline-news.com

Upaya penyelamatan Buaya “penunggu” muara sungai Palu Sulteng dari lilitan ban itu terus dilakukan pihak BKSDA sejak beberapa bulan terakhir ini. Bahkan tahun 2019 lalu, pihak BKSDA Sulteng terus melakukan upaya-upaya penyelamatan termasuk memberikan makanan ke Buaya berkalung ban itu hampir setiap hari dengan cara melemparkan makanan ke sungai.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulteng yang juga ketua Tim Satgas Penyelamatan Buaya berkalung ban di muara sungai Palu Haruna menjawab deadline-news.com membenarkan pihaknya belum berhasil menyelamatkan buaya itu dari lilintan ban.

Ketua Tim Satgas BKSDA penyelamatan satwa berkalung ban itu, didampingi sejumlah anggotanya disela-sela penantian munculnya buaya berkalung ban di Muara Sungai Palu Sabtu sore (15/2-2020), sekitar pukul 15:25 wita.

Menurutnya salah satu faktor sehingga buaya terlilit ban itu masih sulit ditangkap, adalah kemunculannya kepermukaan air hanya sebentar, karena terlalu banyak orang menonto. Namun demikian penyelamatan terhadap buaya berkalung ban itu terus dilakukan walau tanpa ahli dari luar negeripun.

“Penyelamatan buaya berkalung ban ini, merupakan salah satu tugas pokok, sehingga dengan atau tanpa bantuan asing kita terus bekerja dan berupaya menyelamatkan buaya itu dari lilintan ban,”terang lelaki asal Pattinjo Letta Pinrang itu.

Pantauan deadline-news.com sejak Selasa –Sabtu (11-15/2-2020), puluhan warga Palu terlihat memadati pinggir sungai Palu untuk melihat langsung upaya penyelamatan buaya berkalung ban itu. Bahkan sesekali buaya berkaling ban itu muncul disertai buaya lainnya.

Dan selain buaya berkalung ban, ternyata dimuara sungai Palu itu terdapat puluhan ekor buaya. Bahkan diperkirakan sekitar 100san buaya menghuni muara sungai Palu itu.

“Hasil pantauan kami diperkirakan sekitar 35an erkor buaya yang menghuni sungai muara Palu ini. Dan mereka bermain dari muara Sungai Palu sampai ke Sigi. Jadi Jika air laut surut buaya-buaya itu ikut turun ke Muara sungai Palu. Kemudian pada saat air laut pasang, mereka ikut naik sampai ke Sigi. Karena memang mereka (Buaya) suka air tawar yang suhunya dingin dibandingkan air laut yang agak panas,”terang Haruna.

Kata haruna sudah berbagai macam cara dan alat digunakan, termasuk Harpun. Harpun terbuat dari besi berdimeter sekitar 1-2 mili, dengan panjang sekitar 5 centimeter dengan bermata 3 runcing, tajam dan ada pengaitnya, tapi tidak membahayakan buaya. Sebab hanya sebatas kulit masuk,terkait dan diikuti kemanapun belari saat kena harpoon sampai kecapean disitulah ditangkap serta dibebaskan dari ban yang melilit lehernya.

Sampai berita ini naik tayang tim Satgas BKSDA Sulteng dibawa ketua Tim Haruna terus melakukan upaya penyelamatan dan menjadi tontonan gratis dan menarik bagi warga kota Palu dan sekitarnya. Bahkan bisa menjadi destinasi baru di Kota bekas bencana alam 28 September 2018 ini. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top