Demi Rakyat Ketua DPRD “Ngamuk”

 

Mungkin publik menilai negatif tindakan ketua DPRD Tolitoli Randy Syahputra saat “ngamuk” di ruang sidang utama DPRD Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah.

Padahal amukan ketua DPRD termuda se Indonesia itu, sebagai bentuk kepeduliannya terhadap rakyat (Aparatur Sipil Negara) yang gaji ke -13nya belum cair-cair dari Badan Keuangan Daerah (BKD).

Mungkin memang keliru tindakannya karenan sangat emosional yang disertai reaksi kekerasan dengan cara memecahkan kaca meja dan melemparkan palu sidang ke arah Kepala BKD Tolitoli Asrul Bantilan.

Namun itulah model ketegasan pemimpin diusia muda yang belum mampu menguasai emosinya. Ya pemimpin yang masih tergolong remaja itu masih terlalu sedikit pengalaman manajemen olah emosionalnya.

Apalagi memang ada bibit barah api dalam sekam yakni kekecewaan bercampur “terlecehkan” terpendam akibat tidak hadirnya kepala BKD Asrul Bantilan bersama staf setiap kali diundang rapat dengar pendapat (RDP), terkait gaji 13 Pegawai Negeri Sipil (PNS/ASN) di Lingkup pemerintahan Kabupaten Tolitoli.

Padahal kehadiran pengelola keuangan daerah itu sangat penting bagi anggota DPRD untuk mendapatkan informasi apa kendalanya sehingga gaji 13 ASN itu belum dicairkan, sampai-sampai perwakilan ASN harus berdemo ke DPRD Tolitoli Senin (31/8-2020).

Alasan itu sehingga DPRD Tolitoli menggelar RDP dengan mengundang kepala BKD Asrul Bantilan bersama stafnya.

Namun apa lacur, RDP itu tak berjalan mulus, luapan emosi ketua DPRD Tolitoli Randy Syahputra memuncak, kepala BKD pun jadi sasaran amuknya.

Mungkin secara tata tertib dan etika seorang pejabat tidaklah patut berprilaku seperti itu. Namun secara manusiawi ditilik dari minimnya pengalaman kepemimpinan dan tingginya rasa emosional patutlah dimaklumi.

Apalagi dalam konteks memperjuangkan hak-hak rakyat yang memang secara tugas dan fungsinya seorang wakil rakyat harus menyampaikan aspirasi rakyat ke pemerintah.

Pencairan gaji 13 tentu sangat diharapkan dan dibutuhkan para ASN. Dan memang sangat mereka tunggu-tunggu karena memang haknya serta dapat membantu memenuhi kebutuh keluarganya.

Apalagi ditengah pandemi covid19 ini, kita semua merasakan betapa sulitnya untuk mendapatkan stimulan pemenuhan kebutuhan hidup keluarga.

Roh amarah Randy sebagai wakil rakyat tidaklah sepenuhnya keliru. Mungkin cara menyampaikannya saja yang kurang tepat karena penuh dengan emosional dan amarah.

Semoga saja menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa ketika jadi pemimpin kedepankan kepentingan rakyat dari kepentingan pribadi dan golongan. Karena rakyatlah sesunggunya pemegang kedaulatan di negeri ini. Tanpa rakyat kalian bukanlah apa-apa. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top