Satu Liang, Kuburan Massal ini Menampung 14.264 Jasad Korban Tsunami

Zwaeb Laibe (deadline-news.com)-Aceh-ACEH – Ratusan ribu jiwa warga Provinsi Nangroeh Aceh Darussalam (NAD) meninggal dunia saat gelombang tsunami yang maha dasyat menerjang daerah bertajuk Serambih Mekkah ini, 26 Desember 2004 silam. Banyaknya korban yang meninggal membuat jenazah menjadi sulit dikenali satu persatu, hingga akhirnya mereka harus dikubur secara massal dalam satu liang yang sama tanpa nisan.

Ada tiga kuburan massal korban tsunami di Tanah Rencong ini. Salah satunya adalah kuburan massal Ulee Lheue di Kota Banda Aceh, ibukota Provinsi NAD. Dua kuburan massal lainnya masing-masing berada di daerah Gampong Siron Lambaro dan Lhoknga, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Di kuburan massal Siron terdapat 46.718 jenazah yg di kebumikan. Sementara di daerah Lhoknga, kuburan massalnya terpisah di beberapa tempat yang berbeda, empat lokasi diantaranya berada di jalan Mon Ikeun-Lampuuk dan sisanya tak jauh dari masjid Lhoknga.

Namun, dari ketiga kuburan massal ini, kuburan massal Ulee Lheue yang paling terkenal, karena letaknya yang tak jauh dari jantung kota Banda Aceh, tepatnya di Jl Pocut Baren No.30. Hanya beberapa meter dari bibir pantai, di tepi jalan menuju pelabuhan penyeberangan ke Pulau Sabang.

Ulee Lheue merupakan salah satu desa yang paling parah terkena dampak gelombang tsunami yang menewaskan lebih dari 220.000 warga Aceh, karena letaknya yang paling dekat dengan bibir pantai.

Kuburan massal yang menampung sebanyak 14.264 jasad korban tsunami ini, jauh dari kesan angker laiknya pemakaman umum biasanya. Sepintas, kuburan seluas 15.800 meter persegi ini nampak seperti taman sabana. Hanya rumput hijau yang menghampar dengan beberapa batu berukuran besar berserakan. Di sudutnya pohon trembesi rindang tumbuh meneduhkan.

Selain itu terdapat tiang besi penanda yang menunjukkan lokasi kuburan untuk orang dewasa dan kuburan untuk anak-anak. Penanda ini menunjukkan bahwa jasad orang dewasa dikubur di sisi kanan dan kiri bagian depan, sedangkan jasad anak-anak dikubur di sisi kiri bagian belakang kuburan.

Jalan tengah pemisah kuburan orang dewasa dan anak-anak ditaburi batu koral putih. Di ujung jalan pemisah terdapat sebuah bangunan kecil, persisnya sebuah pondok, yang dijadikan sebagai tempat berdoa bagi keluarga korban maupun pengunjung yang datang untuk berziarah

Di sekeliling kuburan, tertancap tembok yang saling terpisah, sekaligus sebagai pagar pembatas area kuburan. Pada setiap dinding pagar tertulis masing-masing satu dari 99 Asmaul Husna.

Di depan pintu gerbang terdapat sebuah prasasti yang ditulis dalam Bahasa Aceh yang dikutip dari Surah Al-Anbiya, Ayat 35, yang jika dibahasa Indonesia-kan kurang lebih bermakna; “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (Al-Anbiya : 35)
“Dengan Rahmat Allah Ta’ala,

Di tempat ini telah disemayamkan + 14.264 jiwa yang syahid dalam bencana gempa dan tsunami pada waktu pagi hari ahad. 14 Hari Bulan Dzulqaidah 1425 Hijriah. 26 Desember 2004”.

Kuburan massal Ulee Lheue ini juga dikenal sebagai kuburan massal Merauxa karena brada di daerah Kecamatan Merauxa. Sebelumnya, lokasi kuburan ini adalah bekas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauxa, yang juga rusak berat akibat ganasnya gelombang tsunami. Pasca tsunami, rumah sakit ini direlokasi ke daerah Mibo di jalan Soekarno-Hatta Banda Aceh.

Hingga kini, sebagian puing rumah sakit masih nampak berdiri. Ada dua bangunan yang terpisah. Bangunan utamanya berlantai tiga yang sebagian masih berdiri. Di dalamnya kita bisa melihat bekas ruang bangsal yang rusak parah, dinding yang retak, lantai keramik yang tercecar, hingga bekas rendaman banjir air laut yang masih melekat di dinding gedung.***

Air Terjun 7 Undak di Balik Hutan Kota Jantho

Zwaeb Laibe (deadline-news.com)-Aceh-Hanya bisa berdecak kagum begitu menyaksikan dari dekat keindahan air terjun ini. Siapa sangka di balik Gunung Kuta Cot Glie, di daerah Gampong Siron Blang, Kemukiman Lamleuot, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, Nagroeh Aceh Darussakam (NAD), terdapat sebuah air terjun yang deburan airnya maha dasyat. Namanya Air Terjun Seuneurah.

Belum terkenal dan masih sangat asing memang di telingah para penikmat wisata alam. Tapi kita tak akan merugi jika mengunjungi air terjun yang tumpah dari sebuah tebing batu berketinggian sekitar 100 meter ini. Panoramanya luar biasa, sangat mempesona!

Tumpahan airnya yang mengucur deras tertampung oleh sebuah telaga di bawahnya, yg luasnya kira-kira 10 kali 15 meter. Tumpahan air terjun berundak tiga ini juga mengairi aliran Sungai Seuneurah yang meliuk sepanjang pegunungan Kuta Cot Glie. Dari dalam telaga, airnya memancarkan kesegaran warna hijau tosca. Kita bisa bermain air sepuasnya, atau sekedar duduk di antara bebatuan besar di sekitar telaga, menikmati sejuk dan hijaunya panorama lembah yg mengapitnya.

Butuh persiapan mental dan fisik yang prima, termasuk manajemen perjalanan yang mantap untuk tiba di air terjun yang antimainstream ini. Namun, semua itu akan terbayar lunas setelah mata tertuju pada sebuah Keagungan Tuhan yang sangat luar biasa, yang pesonanya mulai nampak dari balik semak belantara di jarak 300 meter sebelum tiba di lokasi air terjun yang sesungguhnya.

Rasa lelah setelah naik motor dan berjalan kaki menyusuri bukit dan lembah pegunungan Kuta Cut Glie yang belukarnya masih padat, benar-benar terlupakan begitu menikmati sejuknya percikan air terjun, yang baru mulai dikunjungi para pegiat alam bebas sekitar tahun 2013 ini.

Dari kota Banda Aceh air terjun ini bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan bermotor, menyusuri jalur pesisir utara Aceh ke arah Medan. Patokannya, arah menuju Waduk Keuliling Indrapuri atau sekarang Kecamatan Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar. Jaraknya sekitar 35 km dari pusat kota Banda Aceh.

Begitu tiba di jalan menuju Waduk Keuliling, kita akan menyusuri jalan beraspal yang sedikit berkelok hingga menemukan pertigaan. Dari pertigaan itu kita ambil arah yang ke kanan, lalu menyusuri jalan yang tidak beraspal.

Tantangan yang sesungguhnya dimulai dari sini. Jalurnya cukup ekstrem.
“Ini jalan yang dibuat khusus para pekerja ilegal logging untuk mengangkut kayu hasil jarahan mereka, bang”, ungkap Rahmat Kadarus,
anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Pandayana Universitas Abulyatama Banda Aceh, yang menemani penulis mengunjungi air terjun ini.

Jalan yang dilalui berupa tanah merah dengan lubang yang menganga di sana sini, kebanyakan digenangi air. Juga harus menyeberangi beberapa anak sungai. Disarankan untuk menggunakan motor trail dengan ban khusus trek berlumpur. Jalan yang dilalui adalah jalur bekas ban truk raksasa pengangkut kayu ilegal logging. Sekitar 1,5 jam jarak tempuhnya. Jangan lupa membawa bensin cadangan.

Tak ada pemukiman warga di sepanjang jalan ini, kecuali beberapa pondok yang didirikan para penjarah hutan. Sangat sepi!. “Daerah ini adalah bekas basis pasukan khusus pejuang GAM (Gerakan Aceh Merdeka)”, kata Herman Felani, anggota Mapala Pandayana lainnya. Kawasan ini juga, ungkap Herman, adalah daerah perlintasan Harimau Sumatera.

Perjalanan menggunakan sepeda motor berakhir di tepi salah satu anak sungai yang sudah tak jauh dari air terjun ini. Selanjutnya, kita harus berjalan kaki menerobos lebatnya belantara pegunungan Kuta Cot Glie, kurang lebih 1 jam lama perjalanannya. Nyali petualangan kita benar-benar teruji di sini. Mau coba?

Terima kasih yg sebesar2nya kepada saudara & sahabat saya Anggota Mapala Pandayana Universitas Abulyatama Banda Aceh, yang telah mengantarkan saya menikmati keindahan Air Terjun Seuneurah. Kalian sangat luar biasa, Love U…!! ***

Pesona Air Terjun di Hutan Bekas Camp Latihan Tentara GAM

Zwaeb Laibe (deadline-news.com)-Aceh-Anda mungkin pernah mendengar nama Kota Jantho, sebuah daerah kecamatan yang kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Aceh Besar di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Namun, siapa sangka di balik pegunungan Bukit Barisan yang mengitari daerah yang berbatasan dengan Banda Aceh ini, menyimpan keindahan sebuah air terjun. Namanya Air Terjun Peucari.

Keberadaan air terjun yang berada di kawasan hutan di Desa Beung ini, belum banyak diketahui orang, termasuk warga di sekitar Kota Jantho sendiri. “Masih belum terekspose, air terjun ini baru ditemukan”, ungkap Ariandi, anggota Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah (Mapala Unmuha) Aceh, yang menemani penulis mengunjungi air terjun ini.

Bagi anggota Mapala Unmuha Aceh, kawasan air terjun ini sudah mulai akrab dengan mereka. Sebab daerah ini telah dijadikan sebagai salah satu lokasi Pendidikan Dasar Kepecinta Alaman. Tak jarang mereka juga mengantar sesama pecinta alam lainnnya mengunjungi air terjun ini.

Ariandi yang akrab disapa Kompeni mengungkapkan, air terjun yang mengalir deras dari ketinggian 70 meter ini ditemukan oleh warga lokal sekitar tahun 2014. Tak heran jika nama Air Terjun Peuchari masih asing di telinga kalangan penikmat wisata alam. Selain itu, untuk menikmati gemercik air yang jatuh pada tiap undakannya yang berketinggian masing-masing sepuluh meter, dibutuhkan persiapan mental dan fisik yang matang.

Bagi seorang petualang, air terjun ini adalah pilihan yang tepat untuk sekedar menjajal hobi berpetualang di alam bebas. Rasa lelah menapaki naik turun bukit dan sembilan kali menyeberangi kelokan aliran Sungai Kleung Inong, akan terbayar begitu menyaksikan pesona panoramanya.

Di bawah air terjun terdapat telaga yang tidak begitu dalam, menyemburkan kesegaran lewat airnya yang hijau toska. Di sekelilingnya, hutan belantara yang menyegarkan mata. Di sini kita bebas berenang atau sekedar bersantai di tepian telaga. Bagi yang hobby memancing, ikan-ikan yang leluasa berseliweran di antara bebatuan di dalam telaga begitu menggoda dan menggemaskan.

Karena jarak tempuh yang memakan waktu sekitar 2,5 jam dari Desa Beung, sebaiknya memulai perjalanan dari pagi hari, sebab kawasan hutan ini kerap diguyur hujan saat hari beranjak petang. Banyak yang menginap terlebih dulu di kawasan Hutan Pendidikan Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Banda Aceh di ujung Desa Beung, sebelum memulai perjalanannya di pagi hari.

Menginap di sini merupakan ‘bonus’ sebelum menikmati perjalanan sesungguhnya. Kita bisa memilih tempat untuk memasang tenda. Jika tak membawah tenda, kita pun bisa menginap di Menara Hutan Pendidikan STIK Banda Aceh. Menara setinggi 12 meter ini menyajikan pemandangan hijaunya jejeran pegunungan Bukit Barisan yang menyejukkan mata.

Dari Kota Banda Aceh hanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk tiba di Kawasan Hutan Pendidikan STIK Banda Aceh, melalui jalur pesisir timur utara Aceh melintasi jalan nasional Banda Aceh-Medan.***

Perempuan Dilarang Berkunjung ke Pantai Ini

Zwaeb Laibe (deadline-news.com)-ACEH – Orang Aceh boleh bangga dengan potensi keindahan alamnya. Provinsi bergelar Serambi Mekkah ini memiliki berbagai potensi wisata, termasuk wisata pantai yang tak kalah indahnya dengan pantai-pantai tujuan wisata yang bertebaran tepi pulau-pulau di Indonesia. Salah satunya adalah Pantai Lhok Mata Ie di Aceh Besar.

Selain keindahannya, pantai yang terletak di pesisir barat Aceh ini punya keunikan tersendiri. Perempuan dilarang masuk ke kawasan pantai yang terletak di Ujong Pancu, Kecamatan Peukan Bada ini.

Letak pantai ini cukup tersembunyi. Untuk menuju ke sana, kita harus menaiki bukit terlebih dahulu, karena letak pantai ini di balik bukit Ujong Pancu. Kita harus mempersiapkan fisik untuk mendaki dan menuruni bukit, sekitar satu jam lamanya.

Setiap hari tempat ini selalu ramai di kunjungi oleh wisatawan lokal, apalag di akhir pekan banyak pengunjung yang pasang tenda untuk menginap. Mereka yang menginap biasanya menikmati pantai sambil memancing ikan untuk dikonsumsi.

Pantai ini juga menjadi kawasan edukasi para aktifis lingkungan. Salah satunya, anggota Mapala Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh. Oleh mereka, kawasan ini dijadikan sebagai salah satu sarana pelatihan peningkatan skill dan edukasi tentang konservasi lingkungan pantai.

Letak tempat ini dari Kota Banda Aceh tidaklah jauh. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit menuju bukit Ujong Pancu. Tak ada transportasi untuk menuju tempat ini. Bila ingin ke sana, kita bisa menyewa transportasi umum, yang warga setempat menyebutnya ‘Labi-labi’ atau becak motor. Soal ongkos, bersahabat, bisa dinego.

Begitu tiba di bukit Ujong Pancu, keunikan pantai ini mulai terlihat. Sebuah pamflet yang berisi peranturan bagi pengunjung terpampang. Isinya adalah larangan berkunjung bagi perempuan, baik muhrim maupun bukan muhrim, kecuali sudah mendapatkan izin dari kepala desa (geucik) setempat. ***

Kapal Apung PLTD, Saksi Tsunami Aceh

Zwaeb Laibe (deadline-news.com)-ACEH – Kedasyatan gelombang tsunami yang memporak porandakan pesisir utara Banda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 silam, menyisahkan berbagai jejak. Salah satunya adalah Kapal Apung PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel), sebuah kapal generator listrik milik PT. PLN di Banda Aceh.

Dahsyatnya tsunami yang melululantakkan sebagian wilayah daerah bergelar Tanah Rencong itu, terekam di Kapal Apung yang kini bertengger di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Kini lokasi itu menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Aceh. Kapal Apung berbobot 2.600 ton itu kini menjadi salah satu monumen yang mengingatkan kita betapa dasyatnya kekuasaan Tuhan.

Sesuai namanya, kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue, tempat kapal ini ditambatkan sebelum terjadinya tsunami. Saat tsunami, kapal ini sedang berada di Pantai Ulee Lhee, Banda Aceh. Akibat diterjang tsunami, kapal terseret dan terdampar hingga 5 km ke perkampungan Gampong Punge, Blangcut, Banda Aceh.

Kapal dengan panjang 63 meter yang luasnya mencapai 1.900 meter persegi ini, berlabuh di Aceh pada tahun 2003. Sebelumnya, kapal pembangkit listrik berkapasitas 10,5 megawatt ini berlabuh di berbagai tempat. Sebelum ke Aceh, kapal ini dilabuhkan di perairan Kalimantan Barat.

Saat tsunami menerjang ada 11 ABK yang berada di kapal ini. Dari 11 orang itu, hanya 1 ABK yang selamat. ABK asal Kalbar tersebut beruntung selamat karena masih tetap berada di atas kapal ketika tongkang itu terbawa ombak ke daratan.

Tak ada yang membayangkan kapal ini bisa bergerak lalu terseret gelombang pasang yang tingginya mencapai 9 meter hingga ke tengah Kota Banda Aceh. Kapal ini terhempas hingga ke tengah-tengah pemukiman warga, tak jauh dari Museum Tsunami.

Saat ini, area sekitar tempat terdamparnya Kapal Apung ini telah ditata ulang menjadi salah satu destinasi wisata yang memberikan berbagai edukasi tentang tsunami bagi pengunjungnya.

Di sekitar Kapal Apung, dibangun monumen peringatan untuk mengenang korban jiwa yang meninggal akibat tsunami. Selain tanggal kejadian tsunami, pada monumen itu tertera nama, usia, dan dusun tempat tinggal korban. Di sekeliling monumen, dibangun dinding dengan relief menyerupai gelombang air bah.

Berada di atas Kapal Apung yang geladaknya setinggi 20 meter ini, sebuah pemandangan tersaji. Kita dapat melihat rangkaian pegunungan Bukit Barisan, laut, dermaga Ulee Lheu, dan sebagian kota Banda Aceh.

Sementara di dalam lambung kapal kita disajikan berbagi visualisasi berupa foto dan video yang mengingatkan kita betapa dasyatnya gelombang tsunami yang menewaskan kurang lebih 220.000 jiwa warga Banda Aceh ketika itu.***

Museum Tsunami Aceh, Karya Besar Sang Walikota Bandung

Zwaeb Laibe (deadline-news.com)-Aceh-Museum Tsunami Aceh adalah sebuah museum di Banda Aceh yang dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami maha dahsyat pada tanggal 26 Desember 2004 silam

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh seorang arsitek terbaik Indonesia, yang kini menjadi Walikoa Bandung, Ridwan Kamil. Kang Emil, sapaan akrab sang walikota, memenangi sayembara yang dilaksanakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh. Mengalahkan 153 pesaing yang juga ikut dalam sayembara ini.

Dengan Tema ‘Rumah Aceh as Escape Hill’ Emil menyajikan ilustrasi yang sangat luar biasa. Museum ini berbentuk seperti Kapal PLTD Apung milik PT PLN (Persero), sebuah kapal pembangkit listrik yang kekuataan 10,5 Megawatt. Kapal Apung yang mengispirasi Emil itu, kini berpindah fungsi dari pembangkit listrik, yang juga menjadi salah satu objek wisata Tsunami Aceh. Mesin pembangkit listrik yang kekuatan dayanya mencapa

Kapal berbobot 2.600 ton ini sebelumnya berada di laut yang jauhnya sekitar 5 KM dari tempat berdirinya sekarang (Punge Blang Cut, Jaya Baru, Kota Banda Aceh). Pada tahun 2004, kapal ini ikut terseret sejauh 4-5 km ke daratan akibat gempa bumi dan dasyatnya gelombang tsunami yang tingginya mencapai 9 meter.

Emil merancang sisi museum seperti Lorong Tsunami. Menapaki lorong ini, kita seolah berada dalam kegelapan dengan sisi kiri kanan lorong yang diisi percikan-percikan air, menggambarkan bagaimana tinggi dan gelapnya gelombang tsunami. Lorong ini akan mengantarkan kita menuju ke “Cerobong Doa”, dimana terdapat ribuan nama yang menjadi korban tsunami, yang di sudut atasnya terdapat tulisan “ALLAH” yang senantiasa mengingatkan kita bahwa manusia semuanya akan kembali kepada Allah.

Selain itu, di dalam museum kita juga disajikan berbagai foto tsunami yang memporak porandakan kota yang berjuluk Serambi Mekkah, melalui ruang visual khusus. Di sebelahnya ada ruangan display dan ruangan sains tentang tsunami dan gempa bumi.

Emil berhasil memadukan kearifan lokal dan kejadian tsunami menjadi karya yang sangat indah. Museum yang berstruktur empat lantai dengan luas 2.500 m² ini, dinding lengkungnya ditutupi relief gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh.

Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk ‘bukit pengungsian’ bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.***

Tersangkut di Atas Rumah, Kapal Kayu Selamatkan 59 Orang dari Dasyatnya Tsunami Aceh

Zwaeb Laibe (deadline-news.com)-ACEH – “Kapal ini dihempas oleh gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, hingga tersangkut di atas rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting betapa dahsyatnya musibah tsunami tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu”.

Demikian bunyi tulisan di atas sebuah plakat dalam tiga bahasa yakni, Aceh, Indonesia, dan Inggris, yang bisa kita temukan saat mengunjungi sebuah situs wisata sejarah Tsunami Aceh; ‘Kapal di Atas Rumah’.
Plakat yang dirancang dan dibuat oleh tim Bustanussalatin dan bantuan Recovery Aceh-Nias Trust Fund BRR ini, berada tepat di bawah sebuah kapal kayu yang tersangkut di atas atap sebuah rumah.

Kapal kayu berbobot 35 GT, atau sekitar 20 ton ini, terhempas dan tersangkut di atas sebuah rumah milik pasangan suami istri Misbach-Abasiah, di daerah Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, saat Tsunami memporak porandakan sebagian wilayah Banda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 silam.

Kapal kayu dengan panjang 25 meter dan lebar 5,5 meter ini, kini menjadi salah satu situs sejarah dan saksi bisu yang mengingatkan kita, betapa dasyatnya gelombang Tsunami Aceh yang menewaskan 220.000 jiwa lebih.

Kapal kayu ini bertengger di sisi kanan lantai dua rumah pasangan suami istri Misbach-Abasiah. Ekornya menghadap ke utara. Di sisi bawah, ditopang oleh beton rumah yang nyaris ambruk. Bagian bawah kapal dicat berwarna merah, sedangkan badan kapal dicat berwarna abu-abu dan hitam, dengan menggunakan cat minyak. Beberapa bagian dinding kapal terlihat mulai lapuk dimakan usia.

Menyaksikan kapal kayu ini, mengingatkan kita betapa besar dan luar biasanya kekuasaan Allah SWT. Berkat kapal kayu ini, 59 orang warga Gampong Lampulo selamat dari dasyatnya gelombang tsunami yang menerjang desa mereka. Kala itu, mereka menyelamatkan diri ke atas kapal kayu ini.

Kapal kayu ini, yang waktu itu sedang dalam masa perbaikan, terseret dari bibir pantai Krueng Aceh, 5 kilometer dari tempat dia terdampar saat ini. Sedianya, pada Minggu kelabu itu kapal kayu ini akan berlayar kembali menuju ke Sungai Lhoknga, Aceh Besar, guna diisi pukat. Namun, di hari yang sama, dasyatnya gelombang Tsunami Aceh akibat gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter, menghempaskannya hingga ke perkampungan warga Desa Gampung Lampulo.

Gampung Lampulo, merupakan salah satu desa yang porak poranda akibat tsunami. Sebelum Tsunami Aceh melanda, desa yang terletak di sudut kota Banda Aceh ini dihuni oleh sekitar 6.000-an jiwa. Namun, usai tsunami menyapu bersih kawasan pesisir pantai ini, hanya sekitar 1.500-an jiwa yang tersisa.

Untuk menemukan situs ‘Kapal di Atas Rumah’ ini tidaklah susah. Letaknya tak jauh dari Puskesmas Lampulo, persis di belakang Sekolah Dasar (SD) Nomor 65 Coca Cola Banda Aceh. Akses ke sana juga mudah, bisa menggunakan sepeda motor atau naik bentor (becak motor) sewaan.***

Mengenal Obyek Wisata Negeri Diatas Awan Puncak Gunung Karomba

 

foto villa Dona Dei dan lokasi pengembangannya di puncak gunung karomba desa Mesa Kada/Suppirang kec. Lembang.Kab.Pinrang prov Sulsel, milik Donatus Marru/ foto dobdullah/deadline-news.com)
jalan lingkar menuju villa
inilah villa diatas awan milik Ir.Donatus Marru di Desa puncak gunung Karoba Desa Mesa Kada Kab.Pinrang. foto dok Andi Attas Abdullah/deadline-news.com

Andi Attas Abdulla (deadline-news.com)-Pinrang-Sulsel-Hari itu Rabu (21/10-2015), sekitar pukul 15:00 wita, saya meninggalkan Kota Makassar menuju Puncak Gunung Karomba di Desa Mesa Kada Kecamatan Lembang kabupaten Pinrang. Saya berdua dengan pak Yusuf dengan menggunakan mobil Fortune warna hitam. Kami melaju dengan kecepatan 80-100 perkilometer. Jarak tempu antara kota makassar dengan kota Pinrang antara 4-5 jam. Sebetulnya perjalanan yang melelahkan itu bukanlah kota Pinrang tujuan kami, tapi puncak gunung Karomba di Desa Mesa Kada Kecamatan lembang Kabupaten Pinrang. Jika perjalanan diteruskan dari Makassar ke puncak Gunung Karomba itu maka dapat ditempu 10-12 jam.
Karena kelelahan, kamipun mampir menginap semalam di Desa benteng Paremba Kecamatan lembang kabupaten Pinrang yang notabene tetangga Desa dengan Mesa Kada dimana terdapat puncak Gunung Karomba itu. Keesokan harinnya Kamis (22/10-2015), perjalanan kami lanjutkan menuju obyek wisata puncak gunung Karomba. Puncak Gunung Karomba merupakan potensi obyek wisata yang terpedam selama ini dibiarkan. Padahal menyimpan keindahan yang dapat menarik wisatawan asing kelak. Apalagi Puncak gunung Karomba ini jika disore hari hingga pagi hari diselimuti empun, sehingga membuat hawa dingin yang merasuk kesumsum tulang belulang.
Sekalipun terik matahari, namun udara di puncak Gunung Karomba itu tetap sejuk, apalagi dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Puncak gunung Karomba ini diperkirakan berada diketinggian 40 kilometer dari permukaan laut. Diatas puncak gunung Karomba itu terdapat bangunan Villa berbentuk rumah adat Toraja (Tongkonan) yang terbuat dari kayu ulin. Dari atas Villa puncak gunung Karomba dikejauhan terlihat lampu-lampu germerlap tetangga Desanta. Puncak gunung Karomba diapit dua gunung yang menjulang tinggi disisi kiri dan sisi kanannya. Sedangkan dibagian belakang dan depan, terdapat lembah nan hijau sepanjang mata memandang.
Menariknya villa yang dibangun diatas lahan sekitar 5 hektar are itu dilengkapi dengan landasan pendaratan Helipat bagi wisatawan asing yang akan berkunjung ke obyek wisata pegunungan puncak Karomba itu. Selain itu juga terdapat kolam renang dengan air begitu jernih dan dingin. Adalah Donatus alias Totot salah seorang putera kelahiran Desa Mesa Kada yang membangun obyek wisata puncak Karomba itu. Memang baru sebagian Villa yang telah rampung dan sudah dapat ditempati. Sedangkan sebaginnya masih dalam proses pembangunan. Jarak tempu dari ibu Kota Makassar ke puncak Gunung Karomba itu sekitar 400 kilometer atau sekitar 12 jam perjalanan jika tidak mampir-mampir istirahat.
Namun perjalan saya kali ini, terpaksa harus mampir di kediaman Ibunda saya yang sudah sekitar 6 bulan tidak bertemu. Sambil melepas rindu juga mengunjungi obyek wisata Villa puncak gunung Karomba. Sekalipun puncak gunung Karomba begitu sejuk, indah dan bersahabat, namun jalur transportasinya masih jauh dari kata layak. Bagaimana tidak, sebagian besar jalur yang dilalui masih sebatas pengerasan. Kalaupun ada yang sudah dicor beton, hanya sekitar 10 kilometer dari total panjang jalan untuk sampai ke atas puncak gunung Karomba sekitar 38 kilometer dari Ibu Kota Kecamatan lembag yakni kelurahan Tadokkong.
Ironisnya lagi, jalannya sempit, berkelok-kelok, mendaki, terjalan dan kadang menuruni lembah dan jembatan sempit serta ala kadarnya. Celakanya lagi, proyek pengerjaan pengecoran jalan mulai dari Dusun Rampusa kelurahan Tadokkong hingga ke Desa Mesa Kada sangat amburadul. Betapa tidak, para pekerja proyek jalan itu hanya menghamparkan krikilnya didasar jalan kemudian ditindis campuran pasir dan semen yang tebalnya hanya sekitar 25-40 centimeter. Padahal selayaknya 50-70 centimeter. Sebab akan dilalui kendaraan roda dua dan empat. Bayangkan saja, ada ruas jalan yang dikerjakan pengecorannya tahun anggaran 2014 lalu, sudah mulai rusak. Padahal tidak ada kendaraan yang bertonase 50 ton yang melaluinya. Hal ini patut diduga bahwa proyek pengecoran jalan beton di Dusun Rampusa yang menghubungkan Desa Mesa Kada, Suppirang dan Salisali itu asalan.
Sisi kiri jalan menuju puncak Gunung Karomba itu jurang yang sangat curam, sedangkan disisi kanannya terdapat pegunungan yang telah dijadikan perkebunan Kakao (Cokelat), Kemiri dan Kopi. Selain itu juga terdapat pohon pinus, dan tumbuhan lain yang menyerupai pohon kelapa menjulang tinggi, tapi plapanya berduri-duri. Orang di desa itu menyebutnya pohon Baga.
Pzarahya bila musim hujan jalan tersebut tidak dapat dilalui kendaraan roda empat jenis Avanza dan Xenia, hanya mobil doubel kabin yang bisa melintas dijalan setapak menuju puncak gunung Villa Karomba itu. Dan dimusim kemarau seperti yang terjadi saat ini, produksi debu cukup banyak. Tapi menguntungkan bagi pemilik kendaraan jenis Avanza dan Xenia, karena mereka dapat melalui jalan yang penuh rintangan dan terjal itu. Diharapkan pemerintah provinsi Sulsel dan kabupaten Pinrang dapat mengalokasikan anggaran untuk pembangunan peningkatan jalan dari Rumpusa ke obyek wisata Puncak Gunung Karomba. Semoga saja.***

Mengenal Obyek Wisata Puncak Gunung Karomba

jalan lingkar menuju villa
foto vila Donatus diatas puncak gunung Karomba desa Mesa Kada dan Suppirang. foto dok Andi Attas Abdullah/deadline-news
foto villa Dona Dei dan lokasi pengembangannya di puncak gunung karomba desa Mesa Kada/Suppirang kec. Lembang.Kab.Pinrang prov Sulsel, milik Donatus Marru/ foto dobdullah/deadline-news.com)

Andi Attas Abdullah (Deadline News/koranpedoman.com)-Pinrang-Sulsel-Hari itu Rabu (21/10-2015), sekitar pukul 15:00 wita, saya meninggalkan Kota Makassar menuju Puncak Gunung Karomba di Desa Mesa Kada Kecamatan Lembang kabupaten Pinrang. Saya berdua dengan pak Yusuf dengan menggunakan mobil Fortune warna hitam. Kami melaju dengan kecepatan 80-100 perkilometer. Jarak tempu antara kota makassar dengan kota Pinrang antara 4-5 jam. Sebetulnya perjalanan yang melelahkan itu bukanlah kota Pinrang tujuan kami, tapi puncak gunung Karomba di Desa Mesa Kada Kecamatan lembang Kabupaten Pinrang. Jika perjalanan diteruskan dari Makassar ke puncak Gunung Karomba itu maka dapat ditempu 10-12 jam.
Karena kelelahan, kamipun mampir menginap semalam di Desa benteng Paremba Kecamatan lembang kabupaten Pinrang yang notabene tetangga Desa dengan Mesa Kada dimana terdapat puncak Gunung Karomba itu. Keesokan harinnya Kamis (22/10-2015), perjalanan kami lanjutkan menuju obyek wisata puncak gunung Karomba. Puncak Gunung Karomba merupakan potensi obyek wisata yang terpedam selama ini dibiarkan. Padahal menyimpan keindahan yang dapat menarik wisatawan asing kelak. Apalagi Puncak gunung Karomba ini jika disore hari hingga pagi hari diselimuti empun, sehingga membuat hawa dingin yang merasuk kesumsum tulang belulang.
Sekalipun terik matahari, namun udara di puncak Gunung Karomba itu tetap sejuk, apalagi dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Puncak gunung Karomba ini diperkirakan berada diketinggian 40 kilometer dari permukaan laut. Diatas puncak gunung Karomba itu terdapat bangunan Villa berbentuk rumah adat Toraja (Tongkonan) yang terbuat dari kayu ulin. Dari atas Villa puncak gunung Karomba dikejauhan terlihat lampu-lampu germerlap tetangga Desanta. Puncak gunung Karomba diapit dua gunung yang menjulang tinggi disisi kiri dan sisi kanannya. Sedangkan dibagian belakang dan depan, terdapat lembah nan hijau sepanjang mata memandang.
Menariknya villa yang dibangun diatas lahan sekitar 5 hektar are itu dilengkapi dengan landasan pendaratan Helipat bagi wisatawan asing yang akan berkunjung ke obyek wisata pegunungan puncak Karomba itu. Selain itu juga terdapat kolam renang dengan air begitu jernih dan dingin. Adalah Donatus alias Totot salah seorang putera kelahiran Desa Mesa Kada yang membangun obyek wisata puncak Karomba itu. Memang baru sebagian Villa yang telah rampung dan sudah dapat ditempati. Sedangkan sebaginnya masih dalam proses pembangunan. Jarak tempu dari ibu Kota Makassar ke puncak Gunung Karomba itu sekitar 400 kilometer atau sekitar 12 jam perjalanan jika tidak mampir-mampir istirahat.
Namun perjalan saya kali ini, terpaksa harus mampir di kediaman Ibunda saya yang sudah sekitar 6 bulan tidak bertemu. Sambil melepas rindu juga mengunjungi obyek wisata Villa puncak gunung Karomba. Sekalipun puncak gunung Karomba begitu sejuk, indah dan bersahabat, namun jalur transportasinya masih jauh dari kata layak. Bagaimana tidak, sebagian besar jalur yang dilalui masih sebatas pengerasan. Kalaupun ada yang sudah dicor beton, hanya sekitar 10 kilometer dari total panjang jalan untuk sampai ke atas puncak gunung Karomba sekitar 38 kilometer dari Ibu Kota Kecamatan lembag yakni kelurahan Tadokkong.
Ironisnya lagi, jalannya sempit, berkelok-kelok, mendaki, terjalan dan kadang menuruni lembah dan jembatan sempit serta ala kadarnya. Celakanya lagi, proyek pengerjaan pengecoran jalan mulai dari Dusun Rampusa kelurahan Tadokkong hingga ke Desa Mesa Kada sangat amburadul. Betapa tidak, para pekerja proyek jalan itu hanya menghamparkan krikilnya didasar jalan kemudian ditindis campuran pasir dan semen yang tebalnya hanya sekitar 25-40 centimeter. Padahal selayaknya 50-70 centimeter. Sebab akan dilalui kendaraan roda dua dan empat. Bayangkan saja, ada ruas jalan yang dikerjakan pengecorannya tahun anggaran 2014 lalu, sudah mulai rusak. Padahal tidak ada kendaraan yang bertonase 50 ton yang melaluinya. Hal ini patut diduga bahwa proyek pengecoran jalan beton di Dusun Rampusa yang menghubungkan Desa Mesa Kada, Suppirang dan Salisali itu asalan.
Sisi kiri jalan menuju puncak Gunung Karomba itu jurang yang sangat curam, sedangkan disisi kanannya terdapat pegunungan yang telah dijadikan perkebunan Kakao (Cokelat), Kemiri dan Kopi. Selain itu juga terdapat pohon pinus, dan tumbuhan lain yang menyerupai pohon kelapa menjulang tinggi, tapi plapanya berduri-duri. Orang di desa itu menyebutnya pohon Baga.
Parahya bila musim hujan jalan tersebut tidak dapat dilalui kendaraan roda empat jenis Avanza dan Xenia, hanya mobil doubel kabin yang bisa melintas dijalan setapak menuju puncak gunung Villa Karomba itu. Dan dimusim kemarau seperti yang terjadi saat ini, produksi debu cukup banyak. Tapi menguntungkan bagi pemilik kendaraan jenis Avanza dan Xenia, karena mereka dapat melalui jalan yang penuh rintangan dan terjal itu. Diharapkan pemerintah provinsi Sulsel dan kabupaten Pinrang dapat mengalokasikan anggaran untuk pembangunan peningkatan jalan dari Rumpusa ke obyek wisata Puncak Gunung Karomba. Semoga saja.***