Telah Terbangun 5.732 Bilik Huntara

foto salah satu kompleks Huntap di Tondo. foto bang Doel/deadline-news.com
0

Ilong (deadline-news.com)-Palusulteng-Kepala BPBD kota Palu Presly Tampubolon menghadiri Rapat Koordinasi Monitoring dan Evaluasi Penanganan Bencana Gempa Bumi, Likuifaksi, dan Tsunami, di kota Palu Kamis (12/9-2019).

Rakor yang digelar di Ruang Rapat Bantaya kantor Wali kota Palu tersebut dihadiri langsung Ketua Tim LO Kemenopolhukam RI Satgas Pendampingan Pusat Penanggulangan Bencana Gempa di Palu, S. Suleman bersama rombongan.

Dalam paparannya, Kepala BPBD kota Palu melaporkan beberapa hal di antaranya jumlah Hunian Sementara (Huntara) yang telah terbangun di kota Palu sebanyak 5.732 bilik baik berasal dari NGO maupun pihak Kementerian PUPR RI.

Adapun yang kosong belum terisi, katanya sebanyak 300 Huntara. Hal tersebut dikarenakan masyarakat enggan menempati Huntara yang notabene berlokasi sangat jauh dari aktivitas keseharian masyarakat.

“Kami kesulitan mobilisasi masyarakat dari Barat ke Utara. Di sisi lain warga juga tidak mau menempati Huntara di bagian Utara karena jauh dari aktivitas mereka di Palu Barat. Akan tetapi, Pemkot terus berupaya menempatkan mereka di Huntara yang kosong tersebut,” ungkap Presly.

Presly juga mengatakan berdasarkan formulir yang disebar, sebanyak 1.856 korban bencana menyatakan siap direlokasi menuju Hunian Tetap (Huntap) di kelurahan Tondo.

“Sebanyak 1.422 sudah dilakukan verifikasi langsung ke lapangan dari semua kelurahan dan kecamatan di kota Palu,” ujarnya.

Ia juga melaporkan bahwa Stimulan untuk rumah rusak berat tahap pertama sebanyak 1.594 unit dengan jumlah dana sekitat Rp. 82 Miliar lebih yang sudah termasuk belanja dan biaya pendukung.

“Pokmas yang sudah terkait kontrak sebanyak 110 dengan jumlah pemilik rumah sebanyak 1.247. Masih sekitar 300an yang kita harus lakukan pemegangan kontrak,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim LO, Suleman mengungkapkan perlunya membuat cluster di daerah khususnya kota Palu seperti cluster pengungsian, logistik, dan lain-lain.

“Sehingga pascabencana terjadi, semua tidak kalang kabut. Mengingat potensi bencana di Palu sangat besar,” tandasnya. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: