Pertumbuhan Ekonomi Sulteng TW III-2016 Naik 7,58 Persen

foto dok google
0

Palu (Deadline News/koranpedoman.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan III 2016 (TW III-2016) naik sebesar 7,58 persen periode yang sama tahun 2015.

“Untuk pertumbuhan ekonomi tahun 2016 dari TW I hingga TW III, jika dibandingkan dengan periode yang sama 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 12,01 persen,” ungkap pejabat BPS Sulteng, Sukadana Sufi`i kepada sejumlah wartawan di Palu, Senin.

Sukadana menjelaskan dari sisi produksi, kenaikan pertumbuhan ekonomi TW III-2016 mencapai 7,58 persen, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 32,38 persen, diikuti industri pengolahan 25,90 persen dan konstruksi sebesar 16,26 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran terjadi pada komponen ekspor yang tumbuh 128,16 persen.

Pada pertumbuhan ekonomi 12,01 persen tahun 2016, dari sisi produksi dipengaruhi pertumbuhan tertinggi lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 48,93 persen, diikuti industri pengolahan 48,36 persen dan jasa keuangan dan asuransi 15,78 persen. Sementara dari sisi pengeluaran terjadi pada komponen impor yang tumbuh 219,15 persen.

“Struktur perekonomian Sulteng, menurut lapangan usaha pada 2016 sampai TW III, masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yakni pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 29,43 persen. Konstruksi 12,53 persen serta pertambangan dan penggalian sebesar 12,09 persen,” ungkap Sukadana.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi, kata Sukadana, hingga TW III-2016, pertambangan dan penggalian memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 5,18 persen, diikuti industri pengolahan sebesar 4,45 persen serta perdagangan dan reparasi mobil/motor sebesar 0,72 persen.

Lebih lanjut, kata Sukadana, pertumbuhan ekonomi Sulteng TW III-2016 terhadap TW II-2016 diwarnai oleh meningkatnya aktivitas produksi pengilangan LNG Donggi Senoro. Namun saat yang bersamaan, terjadi penurunan produksi tambang Nikel di Morowali yang cukup dalam, sehingga terjadi kontraksi lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 5,23 persen dan industri pengolahan sebesar -5,44 persen.

Kontraksi juga terjadi pada lapangan usaha konstruksi sebesar -0,89 persen serta pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar -1,85 persen.

“Perekonomian Sulteng diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku TW III-2016 mencapai Rp29,89 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp22,61 miliar,” tutup Sukadana. (ant).***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: