Penataan Teluk Palu Kurang Baik, Hunian Hotel Menurun

foto bagian pantai teluk Palu yang telah direklamasi dan menjadi tempat parkir konteiner. foto Bang Doel/deadline-news.com
0

Abdul Ripai (deadline-news.com) – Palusulteng – Kota Palu adalah ikon Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang senantiasa menggaungkan dirinya sebagai kota jasa. Keterbatasan sumber daya alam seperti pertanian dan peternakan menjadikan pemerintah kota setempat harus memutar otak agar pendapatan daerah bisa meningkat, tanpa bersandar pada sisi pertanian maupun peternakan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memoles wajah kota, utamanya di wilayah teluknya, agar menjadi daya tarik dan destinasi wisata baru yang bisa dikunjungi pelancong domestik maupun mancanegara.

Sayangnya, upaya ini belumlah maksimal. Penataan teluk yang dianggap sudah berjalan sebagaimana mestinya (reklamasi di sepanjang bibir teluk), ternyata tidak berbanding lurus dengan tingginya kunjungan wisata di daerah ini. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya tingkat hunian hotel, bahkan yang berlokasi langsung di area teluk.

“Tingkat hunian di tahun 2017 agak menurun karena terus terang saja, kita di Palu ini hanya mengandalkan tamu-tamu kantor yang membuat kegiatan. Jadi ketika dikurangi kegiatan di hotel maka terasa bagi industri perhotelan. Kaitannya dengan wisata, dulu ketika hotel ini berdiri tahun 2007, wilayah teluk ini masih alami, belum ada kios-kios dan sangat diminati oleh wisatawan mancanegara,” kata Pemilik Wina Hotel, I Ketut Winaya, S.Sos., M.Si ketika ditemui, Ahad siang (6/5-2018) di Palu.

Sebelumnya, kata dia, pihaknya hanya mendirikan seperti Tourism Information di Bali. Kala itu, ketika Dinas Pariwisita masih dijabat Kepala Dinas Syuaif Djafar.
“Kita bekerja sama dengan Dinas Pariwisata mendatangkan wisatawan ke Sulawesi Tengah,” katanya.

Saat itu, tutur Ketut, pintu masuk wisatawan melalui Makassar, lalu keToraja-Pendolo-Tentena-Togean-Palu.

“Kita berusaha untuk balik arah, supaya long stay-nya disini, di Palu. Kan mereka capek perjalanan, jadi istrahat di Palu dulu. Waktu itu kami bisa membuat paket tour disini tiga hari. Satu hari city tour, satu hari mountain tour dan satu hari lagi leisure,” urainya.

Sejak saat itu, kata dia, dalam kurun waktu setahun, dengan sajian clasic seperti resort, masih terasa tingginya tingkat hunian hotel.

“Tapi sekarang-sekarang ini sudah banyaknya kios-kios dan berbagai keramaian. Sebenarnya itu bukannya tidak bagus, cuma persoalannya bagi turis mancanegara, bukan itu yang mereka cari. Akhirya dari situ kami mulai bergeser, kami tampil berbalik haluan ke bisnis hotel. Semakin bising, semakin ditinggalkan turis,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, sentuhan budaya sebenarnya menjadi unsur penting tingginya minat pengunjung. Dia mencontohkan konsep Bali klasik yang pernah diterapkannnya bagi wisatawan domestik dari Bali.

“Bagi orang mungkin itu menjadi suatu tren karena mereka ingin berada di Bali yang jauh dari Bali,” ujarnya.

Namun, lanjut dia, seiring pergantian Kadis Pariwisata ke Norma Mardjanu yang terkesan lebih fokus pada budaya lokal, maka dirinya yang notabene berprofesi sebagai guru menerjemahkannya dengan mengubah konsep usahanya menjadi cafe.

“Dari situ, orang mulai mundur karena rupanya di tempat lain konsepnya juga sama,” ujarnya.

Dia menyarankan kepada pemerintah untuk memasukkan budaya luar dalam konsep wisatanya dalam rangka memperkaya khazanah budaya lokal.

“Itu salah satu saran saya, sehingga orang yang datang disini bisa merasakan sentuhan budaya lain di suatu daerah, tanpa harus ke daerah yang menjadi asal budaya itu. Sebab hampir 90 persen turis yang berkunjung mengatakan bahwa Palu is very very beautiful. Tapi sekarang tingkat kunjungan biasa-biasa saja, bukannya naik malah turun,” tegasnya.(dikutip di Pesonasultengblogspot.com). ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: