Memanfaatkan Kesempatan Dalam Kesempitan

foto kopi pahi Bang Doel/deadline-news.com
0

Ditengah Kesulitan, Tangisan, Darah dan Bau Amis Mayat – Mayat yang berkelimpangan, akibat terjangan Gempa Bumi,Tsunami,dan Liquefaksi Jum’at Petang (28/9/-2018), di Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) ternyata masih ada juga orang yang tidak punya hati nurani.

Adalah mereka yang memanfaatkan Kesulitan yang Menimpa Warga Masyarakat Pasigala.

Mereka melakukan tindakan tidak terpuji. Mereka menjarah, Mencuri barang – barang berharga di toko – toko, Mall-Mala, baik electronik, emas, dan sepeda motor, peralatan kantor meja dan kursi, habis mereka jarah.

Kalau hanya bahan makanan dan minuman mungkin dapat dimaklumi. Karena memang hari pertama, kedua, ketiga bantuan dari saudara-saudara kita, pemerintah dan yang berempati belum sampai di Palu.

Dan kalaupun bantuan sudah masuk ke Pasigala, namun distribusinya belum merata. Karena pengungsi tersebar dimana-mana, khususnya dilereng-lereng gunung Pasigala.

Ironisnya lagi rumah – rumah warga yang ditinggal kosong penghuninya, karena mengungsi ke tempat yang lebih aman, jadi sararan penjaraha oleh oknum – oknum tak bermoral tersebut. Padahal kita sama – sama dalam kesulitan.

Kita sama – sama terdampak Gempa Bumi, Tsunami , dan Lique Faksi. Mestinya perilaku tak terpuji itu dikubur dalam – dalam seperti terkuburnya rumah – rumah penduduk akibat lique faksi. Tapi toh ternya masih ada manusia seperti itu, menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

Mereka mencuri, menjarah rumah – rumah saudaranya sendiri ang notabene juga adalah korban bencana dahsyat itu. Dimana hati nurani kalian? Toh kalian tidak akan kaya atas jarahan – jarahan dari rumah- rumah saudaramu sendiri, seperti dirimu juga yang terkena dampak bencana alam.

Lebih miris lagi, masih ada sekelompok masyarakat yang sebetulnya tidak terkena dampak dari bencana tersebut, tapi melakukan penghadangan meminta sumbangan dijalan – jalan dengan tanpa pandang bulu, entah itu korban bencana alam gempa bumi, tsunami, liquefaksi Pasigala, maupun yang bukan, mereka dijadikan sasaran untuk mengadakan tangan, dos, dan alat – alat lainnya untuk meminta sumbangan di ruas-ruas jalan nasional.

Mestinya kita punya rasa malu terhadap daerah – daerah yang lain yang rela datang membantu, membawakan sembako ber truk – truk, baik yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri.

Bahkan daerah tetangga kita Sulawesi Barat menyiapkan makan minum disepanjang ruas jalan nasional, mulai dari Pasangkayu hingga Polman, untuk warga Pasigala yang terdampak Gempa, tsunami dan lique faksi (Likuifaksi) yang melintas di ruas itu.

Aparat keamanan Polisi dan tentara, harus mengambil tindakan tegas untuk menertibkan hal semacam itu. Tidak malu kah kalian disebut sudah tertimpa musibah dahsyat, masih berpikir dan bertindak melakukan hal hal yang tidak terpuji.

Ayo !!! mari kita bersama – sama bergandengan tangan, sepenanggungan membangun kembali ngata (kampung) kita Palu,Sigi,dan Donggala yang telah hancur luluh lantak, akibat Bencana Gempa,Tsunami, dan Liquefaksi itu.

Apalagi masih banyak saudara – saudara kita yang belun ditemukan, terkhusus mereka yang diseret tsunami di laut teluk Palu, ditelan bumi di Perumnas Balaroa dan digulung tanah di Petobo. Mereka perlu pertolongan untuk segera dievakuasi. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: