Maleo Center DSLNG Bantu Pemerintah Tingkatkan Populasi Burung Maleo

Foto : Manager CSR DSLNG, Tig Djulianto Purmono bersama Kepala BKSDA Sulawesi Tengah, Ir Noel Layuk Allo, Dr Mobius Tanari peneliti sekaligus ahli burung maleo dari Universitas Tadulako serta CSR Programme Officer, Amal Fatullah Randy dan Media Relations Officer DSLNG, Rahmat Asiz, Kamis (27/9/2018) melepasliarkan anakan burung maleo di Suaka Margasatwa Bankiriang, Kecamatan Batui Selatan. FOTO : Irwan K Basir/deadline-news.com
0

Irwan K Basirt (deadline-news.com)-Luwuksulteng-Keberadaan burung maleo atau dalam istilah ilmiah disebut Macrocephalon Maleo, merupakan hewan endemik yang hanya ada di Pulau Sulawesi.

Saat ini jumlahnya di alam bebas diperkirakan hanya tersisa 300 pasang. Bahkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), yang merupakan organisasi internasional dan mendedikasikan untuk konservasi sumber daya alam mencatata hewan jenis unggas ini telah masuk dalam daftar Endangered atau terancam punah.

Menyikapi hal itu, PT Donggi-Senoro LNG yang merupakan perusahaan bergerak dalam bidang usaha pengolahan gas alam menjadi gas alam cair (LNG) serta pemasaran, penjualan dan pengiriman LNG di Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kemudian mendirikan Maleo Centre DSLNG, bagian program pelestarian lingkungan dengan tujuan agar hewan yang sudah masuk dalam kategori Appendik I dapat ditingkatkan populasinya.

Berbekal fasilitas ex situ untuk konservasi Maleo yang dibangun di dekat lokasi proyek, maka berdirilah Maleo Centre yang diresmikan pada 5 Juni 2013 yang kebetulan bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup. Melalui konservasi ex situ ini diharapkan populasi burung khas Sulawesi yang terancam punah ini bisa ditingkatkan secara bertahap.

“Sebelum berdirinya fasilitas Maleo Centre ex situ ini, terlebih dahulu dilakukan penelitian berkaitan dengan burung maleo selama dua tahun yang melibatkan ahli dari Universitas Tadulako. Tujuan dibangunnya fasilitas ini yakni populasi burung khas Sulawesi yang terancam punah bisa ditingkatkan,” tutur Media Relations Officer DSLNG, Rahmat Asiz, Kamis (27/9/2018) menjawab deadline-news.com di Desa Uso Kecmatan Batui Kabupaten Banggai.

Sejak berdirinya Maleo Centre DSLNG, upaya peningkatan populasi burung maleo di Kabupaten Banggai melalui tehnik Inkubasi dengan mesin Inkubator dilakukan. Tercatat hingga saat ini telah 68 ekor anakan burung maleo atau Chick Maleo telah ditetaskan dan telah dilepasliarkan ke alam bebas.

Data yang dimiliki Maleo Centre DSLNG mencatat, upaya pelepasliaran itu pertama kali dilaksanakan pada 7 Oktober 2013 dengan melepasliarkan sebanyak 11 ekor anakan maleo. Pada 6 Agustus 2017 kembali dilakukan pelepasliaran sebanyak 17 ekor anakan maleo. Masih pada tahun yang sama tepatnya 23 Oktober 2017 sebanyak 10 ekor anakan maleo berhasil dilepasliarkan. Selanjutnya 20 Desember 2017 Maleo Centre DSLNG kembali melepasliarkan sebanyak 10 ekor anakan maleo.

“Pelepasliaran anakan maleo ini merupakan kali kelima yang dilakukan oleh Maleo Centre DSLNG, sebanyak 20 ekor anakan maleo kita lepasliarkan ke alam bebas. Jumlah keseluruhan anakan burung maleo yang telah dilepasliarkan berjumlah 68 ekor. Melalui konservasi ex situ ini diharapkan populasi burung khas Sulawesi yang terancam punah ini bisa ditingkatkan,” tambah Rahmat Asiz.

Terpisah, peneliti sekaligus ahli burung maleo dari Universitas Tadulako Palu, Dr Mobius Tanari, MP yang dimintai keterangannya mengatakan, upaya penelitian terhadap burung endemik Sulawesi ini telah lama dilakukannya. Kendati telah meneliti selama 14 tahun namun masih banyak fakta ilmiah tentangMacrocephalon Maleo belum bisa dipecahkan.

Saat ini Mobius Tanari bekerjasama dengan PT Donggi-Senoro LNG di Maleo Centre DSLN terus berupaya agar misteri tentang burung maleo itu bisa tuntas. Satu impian ahli burung maleo ini yakni bisa melakukan rekayasa lingkungan agar burung maleo bisa bereproduksi dan bertelur diluar habitat aslinya serta meneetaskan telurnya melalui inkusbasi untuk kemudian dilepasliarkan, maka penelitian yang selama ini dilakukannya bisa disebut tuntas.

“Konservasi ex situ sangat membantu meningkatkan populasi burung maleo, melalui Maleo Centre DSLNG ini kita juga dapat membantu pemerintah meningkatkan jumlah burung maleo yang sudah masuk appendik I. Faktanya ternyata burung endemik Sulawesi ini bisa dipelihara diluar habitatnya, arahnya nanti bisa dipelihara dan bisa keluar dari status appendik I melalui proses regenerasi,” terang dosen Universitas Tadulako ini.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, Ir Noel Layuk Allo ditemui saat pelepasliaran anakan burung maleo mengatakan, pihaknya menyampaikan apresiasi kepada PT Donggi-Senoro LNG dengan program pelestarian lingkungannya yang telah berhasil meningkatkan populasi burung maleo di Kabupaten Banggai.

Kepala BKSDA ini meminta kepada DSLNG selain ex situ agar kedepan Maleo Centre DSLNG memliki juga konservasi in situ semi alami, karena data yang dimiliki menyebutkan daya tahan anakan burung maleo in situ lebih memiliki daya tahan hidup ketika dilepasliarkan. (Karya tulis ini, diikutkan dalam lomba karya jurnalistik AJD 2018). ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: