Mahasiswa Papua di Untad Dapat Beasiswa Adik

foto Mahasiswa Untad asal Papua pose bersama walikota palu Drs.Hidayat, M.Si dan para tokoh adat, pemuda dan agama. foto bang Doel/deadline-news.com
0

“Siga Untuk Mahasiswa Papua di Palu”

foto Walikota palu Drs.Hidayat, M.Si menyematkan Siga di kepala Sony Gerson mahasiswa Untad Asal Papua. foto bang Doel/deadline-news.com
foto walikota Drs.Hidayat, M.Si memasangkan Siga di kepala kapolres Palu AKBP Mujianto. foto Bang Doel/deadline-news.com

Bang Doel (deadline-news.com)-Palusulteng-Sony Gerson perwakilan mahasiswa Universitas Tadulako Palu asal Papua mendapat kehormatan dan penghargaan tertinggi secara adat To Kaili dari Walikota Palu Drs.Hidayat, M.Si Jum’at malam (30/8-2019) di Kediaman Walikota Hidayat.

Adalah Siga (Ikat Kepala simbol adat to Kaili) yang disematkan diatas kepala Sony Gerson, mahasiswa Untad asal Papua itu. Ia bersama teman-temannya diundang khusus oleh Walikota Hidayat dalam rangka menjalin silaturahim dengan tokoh Adat to Kaili, Tokoh Agama, Pemuda dan jajaran pemerintah Kota Palu.

Ada 40an orang mahasiswa asal Papua menimba ilmu di Perguruan Tinggi Negeri terbesar di Palu Sulteng itu. Mereka mendapatkan beasiswa yang diberi nama beasiswa adik. Nominal beasiswa adik untuk Mahasiswa Papua itu mencapai Rp, 600 ribuan perbulan.

“Mahasiswa asal Papua itu, mereka kami berikan beasiswa adik yang perbulannya mencapai Rp,600san ribu,”demikian dikatakan wakil rektor (Warek) III Dr.Ir.Sagaf Jala Lembah, MP yang membidangi kemahasiswaan menjawab deadline-news.com.

Adalah Yosep Ola tokoh masyarakat Papua yang berada di Palu sebagai ketua rombongan pada acara silaturahim dengan Walikota Hidayat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh Pemuda dan stakeholder lainnya.

Hadir dalam acara silaturahim ala Walikota Hidayat itu, yakni tokoh Adat KelurahanTatura Selatan Tamin Idrus,SH, Tokoh Adat Tavanjukan Ismail, Ketua adat Kelurahan Tatura Utara Khaeruddin Pantora, ketua Ansor Sulteng Almsyah dan Kapolres Palu AKBP Mujianto serta Big Bos Alfamidi Solihin.

Dalam sambutannya Walikota Hidayat menegaskan suku asli palu adalah to Kaili. Dan orang Kaili sangat terbuka dan menghargai perbedaan (keberagaman), toleran dan suka bergotongroyong.

“Makanya saudara-saudaraku To Kaili berasal dari Papua tidak usah khawatir dan takut di tanah Kaili, karena Insya Allah senantiasa dijaga dan dilindungi dari gangguan. Kalau sudah menyatu dengan orang Kaili sudah aman itu, tak ada lagi rasisme. Sebab ada sanksi adat bagi mereka yang mulutnya kotor (asal bicara) dan berlaku tidak baik,” kata Walikota Hidayat.

Menurutnya sanksi adat bagi yang melakukan pelanggaran diantaranya denda berupa hewan (Kambing 1 – 2 ekor). Semoga dengan saturahim ini dapat membawa kesejukan dan kedamaian di Palu khususnya, Sulteng dan Indonesia umumnya.

Kata Walikota Hidayat lembaga ada diharapkan memberikan nilai-nilai Toleran, Kebersamaan, dan Kegotongroyongan. Siapapun yang datang ke Palu suku aslinya To Kaili akan menjaganya dengan semboyan “Sintuvu Maroso, Marambanga kita Marisi” (Duduk sama rendah dan berjalan beriringan).

Walikota mengajak Mahasiswa Papua di Palu selalu menjalin silaturahim. “Jangan Sungkan-sungkan kalau mau ketemu saya sebagai saudara maupun walikota. Silahkan data ke saya,” ujar kandidat doktor kebijakan publik Untad itu.

Ia menjelaskan dulu lembaga adat tidak ada perannya. Sekarang sudah kita kasih peran yakni menjaga nilai-nilai budaya To kaili, Toleransi, Kebersamaan dan ke Gotongroyongan. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: