Korban Gempa dan Tsunami Tanah di Petobo Belum Dievakuasi

foto Lumpur dan tanah menggulung rumah warga dan rumah ibadah tertimbun tanah setinggi kurang lebih 4 meter. foto bang Doel/deadline-news.com
0

Bang Doel (deadline-news.com)-Palusulteng-Gempa bumi dan tsunami yang meluluh lantakkan sebagian wilayah Kota Palu, Donggala dan Sigi belum dievakuasi. Diantaranya korban gempa dan tsunami tanah (tanah bergulung) seperti ombak menimbun rumah-rumah ibadah, dan rumah-rumah warga.

Sampai saat ini ratusan Koran gempa dan tsumani tanah di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Donggala dan Sigi belum tertangani evakuasinya. Hal ini terjadi karena baru TNI yang bergerak maksimal, sementara alat berat masih minim. Masalahnya evakuasi korban gempa dan tsunami baik tsunami tanah maupun air laut, dievakuasi masih secara manual. Hanya menggunakan peralatan seadanya.

“Memang saat ini masih banyak mayat-mayat yang belum dapat dievakasi, karena masih minimnya peralatan. Dan kebutuhan warga pengungsi Koran gampa dan tsunami yang sedang diusakan. Karena saat ini sembako untuk pengungsi masih terbatas. Masalahnya bantuan dari berbagai daerah masih dalam proses pengiriman,”jelas Mayor Santoso koordinator media dan publikasi penanganan bencana gempa bumi dan tsunami Kota Palu, Donggala dan Sigi.

Sementara itu salah seorang warga Petobo mengaku bernama Fadly yang kehilangan 3 orang anaknya dan istrinya meminta agar pemerintah segera melakukan evakuasi mayat-mayat yang digulung dan tertimbun dalam tanah setinggi 3 meteran.

Ibu Made salah seorang saksi mata, mengatakan dirinya merasakan gempa bumi dan melihat tanah bergerak begitu cepat seperti pedati bergulung-gulung meluluh lantakkan rumah, gedung dan pepohonan yang dilaluinya.

Pantauan deadline-news.com di Petobo, Masjid dan beberapa gedung di Islamic Centre SMK milik Dr.Muhammad J Wartabone diseret dan digulung tanah yang menyerupai ombak.

“Saya melihat itu tanah tergulung cepat seperti mengejar kami. Saya dengan sekuat tenaga lari bersama 2 orang cucu saya kearah utara Petobo. Dan Dewata menyelamatkan kami,”ujar Ibu Made pemilik rumah makan di depan rumah sakit bersalin Petobo milik dokter Marthen.

Rumah sakit bersalin dokter Marhten sendiri Nampak masih berdiri kokoh, walau sebagian bangunannya mengalami retak-retak. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: