KIYAI BERSERAGAM POLISI

foto Arta Radjak BM Radjak, SH Sekretaris Partai Demokrat. foto Bang Doel/deadline-news.com
0

Oleh : Ata Radjak (Sekretaris DPD Partai Demokrat Sulteng)

foto AKBP. Hi. BUDI PRIYANTO, SIK, M.Si Kapolres Buol dan Kini telah dimutasi ke Banggai. foto Arta Radjak/deadline-news.com

Lama baru saya mampu menuliskan tentang beliau. Entah kenapa. Seluruh ingatan saya tentangnya dikalahkan rasa sedih karena ditinggalkan beliau yang mendapat perintah untuk mengabdi ditempat barunya kabupaten Banggai.

Seperti juga saya, masyarakat Buol kehilangan sosok Bapak, teman, sahabat, sekaligus guru. Saya pribadi tak pernah memanggilnya Pak Kapolres, saya lebih suka memanggilnya Kiyai. Karena memang kedalaman ilmu agama beliau dan perilaku kesehariannya lebih menonjol sebagai seorang kiyai yang berseragam polisi.

Set back kebelakang tragedi “buol berdarah” pertikaian masyarakat Buol dan polisi yang memakan banyak korban dan menjadi berita heboh nasional, sampai Wakapolri saat itu Yusuf Manggabarani turun langsung mengamankan pertikaian itu. Saya saat itu masih anggota DPRD Buol.

Tragedi ini menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat Buol, sehingga stigma polisi dimata masyarkat Buol menjadi begitu buruk. Terjadi perlawanan sosial masyarkat Buol. Polisi diacuhkan, pranata sosial masyarakat Buol menghidupkan banyak pelanggaran pelanggaran hukum yang marak. Kapolres silih berganti belum mampu mengembalikan kepercayaan masyarkat.

Sampai ahirnya AKBP. Hi. BUDI PRIYANTO, SIK, M.Si ditunjuk sebagai Kapolres Buol.

Kiyai Budi demikian saya menyebutnya, adalah ” malaikat ” berseragam polisi yang dipilh Tuhan untuk mengubah semuanya. Kiyai Budi tau betul bahwa orientasi pendekatan kemasyarakatan masyarakat Buol bukan dengan kekerasan, bukan dengan borgol, bukan dengan moncong senjata.

Polisi harus berbaur dengan masyarakat tanpa ada sekat pangkat, jabatan dan seragam polisi. Kantor polisi dirubah menjadi tempat kegiatan organisasi masyarakat dan kepemudaan. Kantor polisi harus dirubah dalam stigma masyarakat sebagai kantor paling angker dan menyeramkan.

Suatu ketika saya dan teman teman lagi makan jagung bakar dibukit “cinta”, bukit diatas areal Kantor polisi yang dirubah Pak Kiyai menjadi sepotong surga dengan aneka tanaman, dan villa mungil diatasnya. Datang seorang lelaki separuh baya dengan wajah yang sedih. Pak kiyai bertanya ” ada apa om? Ada yang bisa dibantu? ” dengan aksen manado tapi medoknya sebagai orang jawa masih mengikut.

” pak Kaplres tolong saya dibantu ambulance, isteri saya harus dirujuk kerumah sakit Gorontalo. Ambulance rumah sakit kata pegawai rumah sakit lagi rusak. Biar berapa bayarannya saya bayar Pak ” orang tua itu menjelaskan hampir tanpa jedah dengan wajah yang memelas.

Pak kiyai berdiri dan memeluk hangat orang tua itu dengan penuh kasih ” om tenang ya, ngopi dulu dan makan jagung bakar. Om tidak usah mengeluarkan uang sesenpun. Saya bantu om. Pak Kiyai dengan sigap memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkan isteri bapak tua tadi.

Tangannya menarik dompet dari saku celananya dan memberikan uang kepada bapak tua itu. ” ini sekedar buat beli minum dan makan serta rokok om dijalan ya “. Tanganya masih mendekap bahu bapak tua itu.

Saya yang menyaksikan peristiwa langsung itu menitikkan air mata haru. Tak salah Tuhan menempatkan “malaikat” berseragam polisi ditanah leluhurku Buol.

Dua tahun lebih lamanya Pak kiyai Budi bertugas sebagai Kapolres Buol, beliau adalah Kapolres dengan jabatan terlama dibuol.

Banyak kenangan sekaligus pelajaran berharga bagi saya khususnya. Beliau lebih banyak memberikan contoh perilaku daripada berteori. Sifat welas asihnya yang menonjol menyebabkan beliau sangat dicintai, bahkan kepada tahanan polisi sekalipun beliau sangat dicintai.

Banyak tahanan beragama muslim yang berubah dan bisa baca tulis alqu’an. Tak heran banyak tahanan yang enggan dipindahkan kelembaga pemasyarakatan dalam menjalani hukumannya.
Selamat menjalankan tugas ditempat yang baru Pak kiyai. Doa saya dan masyarakat Buol senantiasa untukmu dan keluarga.

Jangan lupakan kami, jangan lupakan gunung pogogul, tanjung dako dan tanjung tamian, jangan lupakan kita sama sama makan ” Yabuyo ” makanan khas Buol yang terbuat dari sagu.

Luangkan waktumu saat luang, datang dan tengoklah kami dan kita bercengkrama seperti dulu lagi. Tetaplah dirimu menjadi ” malaikat ” penyejuk dam pembawa pesan damai bagi siapapun. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: