“Kesombongan” Jumras Kandas di Kantor Polisi

0

“Kesombongan” Mantan kepala biro (Kabiro) Pembangunan Sulsel, Ir.Jumras, kandas di kantor Polres Tabes Makassar. Jumras akhirnya meminta maaf ke Gubernur Sulsel Prof Dr.Ir.HM.Nurdin Abdullah, M.Agr atas tudingannya.

Padahal sebelumnya dalam pernyataannya disejumlah media Jumras tidak mau menemui Gubernur Nurdin Abdullah untuk minta maaf atas pernyataannya di hadapan sidang angket DPRD Sulsel beberapa waktu lalu.

Dikutip di RAKYATSULSEL.CO edisi (11/7-2019), Mantan Kepala Dinas Bina Marga dan Kepala Biro Pembangunan Pemprov Sulsel, Jumras tak gentar dengan ancaman Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah (NA) yang ingin memenjarakannya menyusul penjelasan Jumras di sidang Hak Angket DPR.
Jumras mengaku siap menghadapi NA di pengadilan.

“Silahkan beliau punya hak, biar di pengadilan semuanya makin jelas dan hakim menvonis apakah keterangan saya di forum Hak Angket DPRD Sulsel itu, benar atau bohong,” tutur Jumras.

Namun belakangan setelah diproses di Mapolres Tabes Makassar atas laporan tim kuasa hukum Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, kesombongan Jumras luluh, bahkan secara terbuka Jumras minta maaf dan mengakui kesalahannya.

“Ya permohonan saya atas pencemaran nama baik (kepada Gubernur Sulsel),” ujar Jumras kepada wartawan di Polrestabes Makassar, Jl Ahmad Yani, Kamis (21/11-2019).

“Izinkan saya pada hari ini menyampaikan secara terbuka permohonan maaf saya kepada Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, Bapak Nurdin Abdullah atas kekhilafan saya yang membuat nama baik beliau tercemar. Sehingga daripada itu saya sadar, ikhlas, tulus dan sekali lagi saya memohon maaf kepada beliau sebagai pimpinan saya, dan sekaligus sebagai orang tua saya untuk bisa membuka pintu maaf dengan ikhlas untuk saya dan menerima permohonan maaf saya,” tutur Jumras dalam permohonan maafnya seperti diberitakan detik.com.

Walau Jumras sudah melakukan permohonan maaf dan mengakui kesalahannya, pun polisi memastikan laporan dugaan pencemaran nama baik terhadap Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah tetap diproses.

Aapalagi sudah ada sekitar 10 saksi yang dimintai keterangan polisi.

Jumras di laporkan ke polisi berawal dari pernyataan Jumras di hadapan sidang hak angket, yang menuding Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menerima mahar Rp 10 miliar dari oknum pengusaha pada Pilgub 2018.

Namun Nurdin membantah tudingan yang dilontarkan Jumras saat sidang Pansus Hak Angket DPRD Sulsel beberapa waktu lalu.

Nurdin sempat mengultimatum Jumras agar mencabut pernyataannya. Namun Jumras tak bergeming, sehingga tim hukum Nurdin melaporkan Jumras ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Apa lacur, nasi sudah jadi bubur, walau permohonan maaf itu mungkin tulus, namun proses hukum tak dapat dihentikan. Walaupun itu delik aduan, tapi tidak serta merta dapat dicabut begitu saja. Tapi harus melalui proses peradilan.

Bermohonan maaf Jumras jika sampai ke pengadilan, maka itulah yang dapat meringankan sanksi hukumannya. Semoga saja kebesaran hati Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dapat memberi maaf stafnya itu, sekalipun sudah dipermalukan secara umum di ruang-ruang publik dengan tudingan menerima mahar Rp,10 miliyar. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: