Kepala Bea Cukai : Kayu H.Agus Lengkap Dokumennya

foto penangkapan dan pemeriksaan 2 kontainer berisi ebony di pelabuhan Tanjug Perak Surabaya. foto Laksdya A. Taufiq R/Net/RMOL.co/deadline-news.com
0

“Kami juga bingung kenapa sampai ditangkap. Dan belum ada juga tembusan ke kita”

Bang Doel (deadline-news.com)-Palukotakailisulteng-Kepala Bea Cukai Palu Madjid yang dikonfirmasi dikantornya Kamis (9/5-2019), melalui salah seorang pejabatnya bernama Irwan menjawab deadline-news.com mengaku juga bingung soal penangkapan 2 kontainer kayu eboni di perairan jawa Timur bulan Maret 2019 lalu.

“Kami juga masih bingung, kenapa sampai kayu eboni milik H.Agus yang akan diekspor ke Cina ditangkap. Padahal hasil pemeriksaan dokumen dari kami sudah lengkap,”aku Irwan mewakili Kepala Bea Cukai Palu Madjid.

Dikutip di kantor berita RMOL.co, berdasarkan data yang dihimpun Humas Bakamla, penangkapan terhadap KM Meratus Minahasa bermula dari adanya informasi masyarakat bahwa telah terjadi banyak penebangan illegal kayu eboni tanpa izin di kawasan hutan negara di wilayah Sulawesi Tengah.

Kayu eboni tersebut biasanya dikirim ke Surabaya menggunakan kapal kargo domestic, dan selanjutnya diekspor ke luar negeri. Masyarakat merasa janggal dan resah, bagaimana kayu eboni yang asal usulnya tidak jelas bisa dikirim ke luar negeri.

“Informasi dari masyarakat harga satu kubik eboni di luar negeri bisa mencapai Rp 120 juta,” ujarnya.

Berlangsungnya kegiatan yang meresahkan tersebut mendorong satu kelompok masyarakat untuk berinisiatif melaporkan ke Bakamla, yang kemudian ditindaklanjuti Tim dari Direktorat Operasi Laut (Ditopsla) dan Unit Penindakan Hukum (UPH).

Hal itupun diteruskan kepada KN. Belut Laut-4806 Bakamla, yang dalam pelaksanaan tugas patroli operasi laut menjumpai KM Meratus Minahasa, pada saat itu sedang melintas di wilayah Laut Jawa pada koordinat 06052’143S” – 112049’841”E.

Berdasarkan kewenangan sesuai UU 32/2014 pasal 63 (b), maka Bakamla memberhentikan dan memeriksa KM Meratus Minahasa. Menurut keterangan Nakhoda berinisial JS, kapal berlayar dari Pantoloan, Sulawesi Tengah menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur.

“Dari pemeriksaan petugas Bakamla menemukan 2 (dua) kontainer diduga berisi kayu eboni tanpa dilengkapi dokumen yang sah. Kemudian temuan tersebut didata dan dicatat, lalu KM Meratus Minahasa melanjutkan pelayaran sesuai rute menuju Dermaga Domestik Nilam, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya,” sambungnya.

Namun, tidak berhenti sampai di situ, temuan itupun ditindaklanjuti oleh Bakamla dengan menggandeng institusi terkait. Bakamla berkoordinasi dengan Kantor Balai Gakkum Kementerian LHK di Jakarta dan Surabaya.

Selanjutnya, pada Minggu (10/3-2019), dilakukan pemeriksaan oleh petugas Balai Gakkum KLHK atas keberadaan 2 kontainer, dan didapati kedua kontainer yang diduga memuat kayu eboni telah diturunkan dari KM Meratus Minahasa dan ditempatkan oleh pihak agen Meratus di terminal domestik Nilam Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Pemeriksaan lanjutanpun dilakukan pada Selasa (12/3-2019) oleh Tim Gabungan Balai Gakkum KLHK bersama dengan Petugas Bakamla RI, dan pada Kamis (14/3-2019), penyidik KLHK melakukan penyegelan terhadap 2 (dua) kontainer yang diduga berisi kayu eboni tanpa dilengkapi dokumen yang sah dengan disaksikan petugas Bakamla RI serta perwakilan Agen Meratus, Cosco Shiping Line dan Forwading.

Lebih lanjut pada Rabu (20/3-2019), tim penyidik KLHK berjumlah 4 orang disaksikan petugas Bakamla RI membuka kedua kontainer dan PPNS Line di Tanjung Perak, Surabaya. Penyidik memeriksa isi kontainer secara fisik dan dapat dipastikan isi kontainer adalah kayu eboni yang berbentuk balok gergajian dalam berbagai ukuran yang dikemas dalam valetaa/kotak kayu.

Selama proses pembukaan kontainer dan pengecekan fisik barang oleh Penyidik KLHK, juga disaksikan oleh pihak terkait antara lain perwakilan dari maskapai pelayaran logistik laut Meratus Line, dan perwakilan dari PT Cosco Shipping Lines Indonesia. Hingga Kamis dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, proses pemeriksaan barang bukti baru selesai dan Tim Penyidik KLHK kembali melakukan penyegelan dan pemasangan PPNS line terhadap kontainer tersebut.

“Dengan adanya pengungkapan oleh Bakamla RI bersama KLHK ini di harapkan dapat menyelamatkan potensi kekayaan sumber daya alam negara di ruang laut yang bernilai miliaran rupiah. Bakamla memiliki aset kapal di laut sedangkan KLHK memiliki kewenangan penyidikan. Sinergitas dan kerjasama berlandaskan kepercayaan ini menjadi komitmen bersama dalam penegakan hukum di laut,” pungkasnya.

“Kita selalu akan melihat illegal activity-nya apa, maka kita akan libatkan yang punya yurisdiksi, salah satu contoh pada saat illegal logging, maka kewenangannya KLHK. Jadi kalau saya dapat (tangkapan), atau pun sebelumnya kita sudah melakukan koordinasi, atau KLHK punya target disampaikan ke kita, maka proses berikutnya itu adalah kewenangan dari penyidik PNS, dalam hal ini KLHK,” kata Achmad Taufieqoerrochman.

Kayu eboni yang disita dan diamankan berupa 10.000 batang gergajian, atau sekitar 27,5 meter kubik dalam dua kontainer. Dari dokumen PIB yang ditemukan, kayu-kayu ini akan diekspor ke Sanghai dan Huangpu, China, dengan perkiraan kerugian negara mencapai Rp. 1,5 milyar. Direktur Penegakan Hukum Pidana, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum, KLHK, Yazid Nurhuda mengatakan, kerugian negara bukan hanya hilangnya kayu yang sudah mulai langka ini, melainkan kerusakan ekosistem. (Sumber VOA).

Sementara itu pemilik kayu eboni H.Agus yang berbendera UD Mardiana itu, mengaku semua dokumennya lengkap, sehingga berani melakukan ekspor. Bahkan sudah melalui pemeriksaan secara jelas di Bea Cukai Palu.

“Kami telah melakukan gugatan secara hukum, terhadap semua yang terkait atas penangkapan dan penahanan kayu eboni milik kami. Dan saat ini sedang berlangsung proses hukum di Pengadilan Negeri Surabaya,”aku Dirut UD Mardiana itu.

Kepala Dinas Kehutanan Sulteng Ir.H.Nahardi, M.Si yang dikonfirmasi via handpone, tidak bersedia memberikan keterangan. Malah mengarahkan mengkonfirmasi ke Kepala KBPHP XII Siti Aminah.

Kemudian kepala KBPHP XII Siti Amina yang berusaha dikonfirmasi juga tidak bersedia memberikan ke terangan, malah pihaknya juga mengarhakan mengkonfirmasi ke Gakkum, jadi sebaiknya ke balai Gakkum saja lebih tepatnya, di jalan Towua Palu. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: