Kala Salat Idul Fitri di Bawah Menara Gereja

0

ied gereja1.600 bom Israel meluluhlantakkan bangunan Gaza, termasuk 160 mesjid. Takbir Salat Ied terpaksa digelar di gereja. Di bawah patung Yesus Kristus.

Gema takbir bersahutan tiada pernah putus. Beberapa pria sejak dini hari menyiapkan ruangan berlangit-langit tinggi itu untuk Ibadah Salat Idul Fitri. Mereka membersihkan debu sisa perang yang menutup lantai.

Dinding ruangan itupun mereka bersihkan, termasuk patung Isa Al Masih yang tersalib di salah satu sisi dindingnya. Lho…?

Benar memang, salat Idul Fitri masyarakat Gaza pagi itu harus mereka lakukan di dalam Gereja Saint Porphyrius. Sebab, tak ada rumah yang betul-betul aman. Termasuk sejak mesjid tak luput dari sasaran roket dan tank Israel.

Melihat kesulitan yang dihadapi muslim Gaza, umat Kristiani membuka pintu gereja. Mereka menyediakan tempat bagi pengungsi khususnya wanita dan anak-anak. Jumlahnya tak kurang dari 800 orang. Gereja itu juga menjadi tempat ibadah selama bulan Ramadan.

“Mereka membiarkan kami beribadah. Ini mengubah pandangan saya tentang orang Kristen,” kata Mahmud Khalaf, 27 tahun. Muslim Gaza ini juga menyatakan sebelumnya tak punya bayangan akan salat di dalam gereja. “Kami salat berjamaah tiap malam,” kata Khalaf. “Di sini, cinta antara Muslim dan Kristen tumbuh.”

*****

Saat fajar mulai hadir, para jamaah sudah memenuhi ruangan Gereja Saint Porphyrius. Hamas dan Israel setuju melakukan gencatan senjata di hari Idul Fitri itu. Meskipun Israel ‘tak mau berjanji’ bisa menepatinya.
“Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya, Salat Ied di dalam gereja,” kata Khalaf. Agak unik memang kaum muslim salat di ruangan yang penuh dengan hiasan dan simbol agama Nasrani.

Namun kondisi itu terpaksa mereka hadapi. Baku tembak antara Israel dan Hamas yang berlangsung 20 hari itu menewaskan sedikitnya 1.050 warga Gaza yang sebagian besar merupakan warga sipil, wanita dan anak-anak. Sebanyak 42 tentara dan tiga warga sipil Israel pun tewas dalam konflik.

Serangan Israel ke Gaza kali ini terburuk sejak intifada kedua pecah pada tahun 2000. Dalam tempo sehari, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengaku melancarkan lebih dari 1.300 serangan udara ke Gaza. Serangan itu adalah bagian Operasi Perlindungan Tepi (Operation Protective Edge) Israel yang dilancarkan sejak 8 Juli.

Secara brutal Israel menghancurkan 160 masjid di Gaza dengan alasan masjid-masjid itu dipakai sebagai tempat persembunyian Hamas. Seorang pengungsi muslim Gaza, Hayat al-Bahtety. mengaku meninggalkan rumahnya di al-Shejayia dengan 23 anggota keluarga selama minggu pertama pertempuran.

“Roket-roket itu turun seperti hujan lebat. Kami berlarian ke jalan. Kita tidak tahu ke mana harus pergi. Kami hanya mencoba menghindar, ” kata al-Bahtety.

Sejak mengungsikan kerabatnya ke Gereja, al-Bahtety dan Khalaf tak pernah khawatir ibadah Ramadhan nya akan terganggu. Pengurus gereja dan umat Kristiani di sana ikut melayani para pengungsi. Mereka juga menghormati bulan Ramadhan dan pengungsi Muslim Gaza yang tengah berpuasa.

“Meski tidak berpuasa, mereka sengaja tidak makan di depan kita pada siang hari. Mereka juga tidak merokok atau minum di sekitar kita,” kata Khalaf. Sehingga para pengungsi bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan khusyuk. Termasuk ibadah salat sunah dan membaca ayat suci Al-Quran.

*****

Salat Idul Fitri di Gereja Saint Porphyrius baru saja selesai. Jamaah tampak tekun duduk mendengarkan khotbah. Ucapan terimakasih tak lupa disampaikan oleh khotib kepada pengurus Gereja yang sudah meringankan penderitaan mereka.

“Kami berterimakasih untuk sikap umat Kristiani yang memilih berdiri di samping kami,” kata Khalaf. Umat muslim menemukan toleransi indah. Bahkan saat mereka pertama kali sampai di gereja, mereka disambut dengan ucapan “marhaban” atau selamat datang.

Perasaan paling haru mereka rasakan usai salat Idul Fitri, pagi itu. Kaum muslim bisa menjalankan salat berjamaah dan mendapat keleluasaan merayakannya dengan persiapan yang dibantu umat Kristen.

Tahun ini suasana terasa harmonis dan toleran. Sayangnya suasana indah itu terjadi di tengah-tengah ketegangan pertempuran. Tapi teror Israel makin memupuk rasa persaudaraan antara dua penganut agama berbeda di Gaza.

Jumlah penganut Kristen di Gaza telah berkurang jumlahnya menjadi sekitar 1.500 orang. Sementara  populasi Muslim di Gaza terdiri dari 1,7 juta. Komunitas Kristen, seperti di tempat lain di Timur Tengah, telah menyusut karena konflik berkepanjangan di wilayah itu.

Sabreen Al-Ziyara, mengaku terharu dengan suasana tahun ini. Wanita muslim ini telah bekerja di gereja selama 10 tahun sebagai pembersih. “Kristen dan Muslim mungkin merayakan Idul Fitri bersama di sini,” katanya senang.

“Persaudaraan ini merupakan ikatan yang kuat antara Muslim dan Kristen, telah ada sepanjang tahun dan sepanjang sejarah Gaza,” kata Rania Al-Helo, relawan dari kelompok Anera yang beragama Nasrani.

Solidaritas ini kata al-Helo akan dibutuhkan dalam beberapa bulan mendatang karena semua warga Gaza mencoba untuk pulih dari kehancuran perang.

Kini, ketika Natal menjelang, kenangan atas toleransi yang ditunjukkan umat Kristiani terhadap Muslim Gaza masih terus membekas. Di tengah kecamuk perang, toleransi umat Kristaini Gaza yang luar biasa indah itu akan selalu dikenang. Selamanya…

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: