Jo, dari Bom Buku hingga Teror di Loa Janan

tsk bom gereja Samarinda. foto dok Porkal.co
0

Dikenal Tertutup, Miliki Bisnis Keramba Ikan

Kaltim (Deadline News/koranpedoman.com)-SOSOK Juhanda alias Jo (32) kembali membuat geger tanah air. Bagaimana tidak, menggunakan kauh hitam bertuliskan “JIHAD”, pria berperawakan ceking ini melemparkan bom ke pelataran Gereja Oikumene di RT 04, Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Loa Janan Ilir, dikutif di Prokal.co Minggu (13/11).
Akibat aksinya, pria yang baru saja mendapat remisi Idulfitri Juli 2014 lalu akibat kasus bom buku di Tangerang Selatan 2011 lalu itu kembali membuat warga tak bersalah menjadi korban. Tercatat empat bocah tak berdosa harus mengalami luka bakar serius akibat ulah yang dilakukannya.
Pria kelahiran Kaningan, Jawa Barat ini dijatuhi hukuman penjara 3,6 tahun akibat teror bom Puspitek di Serpong, Tangerang Selatan, dan terduga pelaku Bom Buku di Jakarta 2011 lalu. Setelah bebas, dia menuju Sulawesi Selatan kemudian ke Samarinda menemui rekannya berinsial AP dan tinggal di kawasan Loa Janan Ilir.
Aksi yang dilakukannya pagi kemarin diduga kuat sangat berkaitan dengan permintaan ISIS untuk menjalankan sebuah skema Jihad terselubung dengan tujuan tertentu. Keikutsertaannya dengan kelompok radikal juga terlihat jelas dari tulisan pada kaus yang digunakannya. Selain kata “Jihad” kaus yang digunakan Jo juga bertuliskan Way Of Life dan tulisan arab “isy kariman au mut syahidan” atau berarti “hidup mulia atau mati syahid.”
Penasaran dengan sosok Jo, awak media ini pun berusaha menelusuri kehidupannya selama di Sengkotek. Saat sebagian besar aparat dan warga masih berada di Gereja Oikumene, Sapos langsung meluncur ke kediaman Juhanda alias Jo. Selama dua tahun terakhir, mantan residivis bom buku ini menempati ruangan kecil di belakang Masjid Mujahidin.
Untuk menuju kamar itu terbilang cukup rumit. Apalagi setelah diguyur hujan. Pasalnya akses jalan jenis panggung berbahan kayu ulin, khas rumah di bantaran Sungai Mahakam, membuat siapa saja bisa tergelincir jika tidak berhati-hati.
Kamar berbentuk memanjang berukuran sekitar 4×7 meter ini sangat sederhana. Di sebelah kanan, hanya terlihat kamar tidur dan rak berukuran cukup besar berisikan beberapa baju yang digantung serta sejumlah buku. Kemudian sebelahnya digunakan sebagai dapur dilengkapi toilet di luar ruangan.
Awak media ini tidak bisa melihat detail isi kamar karena saat berada di lokasi itu, ruangan tersebut dalam keadaan terkunci. Hanya jendela kaca berukuran 1×1,5 meter yang menjadi sarana melihat ke dalamnya. Tak ingin dicurigai warga setempat, setelah beberapa saat memerhatikan kondisi kamar tersebut, Sapos pun berusaha keluar lokasi tersebut.
Penasaran dengan figur Jo, awak media ini pun bertanya dengan warga yang tinggal di sekitar lokasi tersebut. Pria bertubuh tambun yang namanya enggan dikorankan ini justru tidak tahu kalau yang diamankan akibat kasus pengeboman Gereja Oikumene adalah Jo. “Saya justru baru dengar dari sampean,” katanya kaget.
Ternyata, dia pun sempat menyimpan rasa curiga dengan pria berambut panjang tersebut. Menurutnya, Jo baru sekitar dua tahun menjadi kaum di masjid tersebut. Selama ini, dia menghidupi diri dengan cara mengelola keramba ikan di belakang masjid. “Tidak banyak tahu mengenai dia. Karena dia juga orangnya tertutup. Hanya sekadar menyapa, dan bertanya seperlunya saja,” katanya.
Menurutnya belakangan Jo tidak tinggal sendiri. Ada seorang lelaki lain yang berasal dari Sulawesi Tengah yang mendiami kamar tersebut. Ditanya siapa namanya, pria ini mengaku tidak kenal. “Saya nggak tahu, karena dia (teman Juhanda, Red) juga baru tinggal di situ,” tuturnya dengan nada lirih. ***

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: