Harga Sayur di Palu Merangkak Naik

Kemarau yang melanda seluruh wilayah di Palu memang berdampak buruk bagi penjualan sayur-mayur di pasaran.
0

Kemarau yang melanda seluruh wilayah di Palu memang berdampak buruk bagi penjualan sayur-mayur di pasaran.
Kemarau yang melanda seluruh wilayah di Palu memang berdampak buruk bagi penjualan sayur-mayur di pasaran.

KORAN PEDOMAN, KOTA PALU – Harga sayur-mayur di pasar tradisional di Palu Sulawesi Tengah mulai terpantau naik. Kenaikan itu dipicu sedikitnya suplai petani akibat gagal panen imbas dari musim kemarau yang melanda ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu.

Menurut pedagang, kenaikan harga sayur-mayur yang mereka jual di pasaran sudah terjadi satu bulan terakhir. Kenaikan harga terjadi di hampir di semua jenis sayur-mayur.

“Mulai dari bayam, kangkung, dan kol sudah naik harganya,” aku salah satu pedagang sayur-mayur, Jannah, ditemui di Pasar Sentral Inpres Manonda (PSIM) Palu, Selasa (14/10/2014).

Dia menuturkan, seperti harga bayam dan kangkung yang sebelumnya Rp 500 per ikat naik menjadi Rp 2.000 per ikat. Sedangkan kol dari harga Rp 2.500 per buah naik menjadi Rp 3.500 per buah.

“Kenaikan (harga) memang tidak begitu tinggi, tapi banyak juga warga yang mengeluh. Meskipun demikian, warga tetap membeli,” imbuh Jannah.

Selain tiga jenis sayur-mayur itu. Harga tomat dan cabai merah keriting juga mengalami kenaikan. Di mana, tomat dari harga sebelumnya Rp 10 ribu naik menjadi Rp 20 ribu per kilogram (kg). Sementara cabai merah keriting dari Rp 25 ribu naik menjadi Rp 30 ribu per kilo gram.

“Pedagang terpaksa harus sepakat menaikan harga karena pengambilan di petani juga agak tinggi. Sedangkan kalau dijual murah, yang ada pasti pedagang merugi,” tandas pedagang sayur-mayur lainnya, Nia.

Kemarau yang melanda seluruh wilayah di Palu memang berdampak buruk bagi penjualan sayur-mayur di pasaran. Khususnya bagi petani yang bergerak di sektor pertanian sayur-mayur.

Pasalnya, selama kemarau yang kurun dua bulan terakhir ini terjadi di Palu, membuat tanaman sejumlah petani kurang menerima asupan air dari irigasi lahan dan hujan. Akibatnya, tanaman mereka gagal panen.

“Meskipun ada juga yang dipanen, tapi kondisi sayur-mayurnya pasti rusak. Kendati begitu, tetap juga diambil oleh pedagang untuk dijual di pasar,” terang salah satu petani sayur-mayur, Raden ditemui terpisah di lahan pertanian keluarga Kelurahan Bayaoge, Kecamatan Palu Barat.(Liputan6)

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: