Dr.Darwis AS,M.Si : Jangan Ulangi Sejarah Kejatuhan Presiden

Dr. Darwis, MSi (Foto antara/ Adha Nadjemuddin)
0

Palu (Deadline News/koranpedoman.com)-Pakar politik dari Universitas Tadulako Palu Dr Darwis mengatakan kekuatan politik di Indonesia sudah harus menghindari kejadian berulang jatuhnya presiden karena kegaduhan politik melalui unjukrasa secara besar-besaran.

“Kita harus menghindari itu,” katanya di Palu, Kamis, menanggapi rencana unjukrasa secara besar-besaran di seluruh Indonesia memprotes Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok atas dugaan pelecehan ayat Alquran.

Menurut Darwis, unjukrasa adalah hak politik masyarakat dan itu sah. Hanya saja perlu dihindari terjadinya gesekan yang mengarah pada lengsernya kepala negara/kepala pemerintahan yang sah.

Darwis mengatakan dirinya kuatir unjukrasa besar tersebut beralih ke isu pelengseran Presiden Joko Widodo/Jusuf Kalla.

“Jangan sampai isu ini beralih menurunkan Presiden, ini yang harus dihindari,” katanya berulang-ulang.

Dia menilai sejauh ini belum ada pelanggaran konstitusional yang dilakukan Presiden dan kekuatan partai juga masih kuat mendukung Jokowi/Jusuf Kalla.

“Kinerja pemerintahan masih bagus dan respons publik masih bagus. Itu hasil survei beberapa lembaga survei,” katanya.

Menurut Darwis, Indonesia harus belajar dari alih kepemimpinan nasional dari era Soekarno, Soeharto dan Abdurrahman Wahid. Alih kemimpinan pada tiga presiden RI itu selalu diwarnai dengan kegaduhan politik.

Darwis juga kuatir momentum untuk memprotes Basuki Cahaya Purnama alias Ahok tersebut dimanfaatkan kekuatan global untuk menjadikan peluang masuknya misi internasional merusak keutuhan bangsa Indonesia.

“Mudah-mudahan tidak ada skenario yang memanfaatkan momentum ini. Negara ini sangat potensial disusupi konflik horizontal, karena beragam suku, agama dan sebagainya,” katanya.

Darwis mengatakan tidak dapat dipungkiri bahwa jatuhnya beberapa Presiden di Indonesia karena adanya kontak kepentingan global.

“Jatuhnya Soeharto, di belakangnya ada kekuatan global, jangan sampai ini terjadi lagi. Ini harus dijaga. Isunya jangan sampai masuk sampai pada pergantian Presiden. Ini berbahaya,” katanya.

Ia menyarankan unjukrasa juga harus menghindari isu sara karena itu berpotensi dimanfaatkan kekuatan global yang sudah lama mengincar Indonesia agar negara yang mayoritas muslim terbesar di dunia ini terkoyak.

“Isu sara dihindari. Membangun demokrasi harus menghindari Sara. Saya priharin mudah-mudahan ini tidak terjadi,” katanya.

Tinggalkan Komentar Anda! :

%d blogger menyukai ini: